ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HIV/AIDS



Pengertian
·         AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV.
Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune : Sistem kekebalan tubuh
Deficiency : Kekurangan
Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
·         AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )
·         AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare )
·         AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )
Etiologi
AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.
Patofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.
Klasifikasi
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.
a.      Kategori Klinis A
Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C
  1. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
  2. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty )
  3. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
b.      Kategori Klinis B
Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
  1. Angiomatosis Baksilaris
  2. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi
  3. Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
  4. Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
  5. Leukoplakial yang berambut
  6. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.
  7. Idiopatik Trombositopenik Purpura
  8. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
c.       Kategori Klinis C
Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
  1. Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus
  2. Kanker serviks inpasif
  3. Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
  4. Kriptokokosis ekstrapulmoner
  5. Kriptosporidosis internal kronis
  6. Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
  7. Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
  8. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
  9. Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
  10. Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
  11. Isoproasis intestinal yang kronis
  12. Sarkoma Kaposi
  13. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
  14. Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner
  15. M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
  16. Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
  17. Pneumonia Pneumocystic Cranii
  18. Pneumonia Rekuren
  19. Leukoenselophaty multifokal progresiva
  20. Septikemia salmonella yang rekuren
  21. Toksoplamosis otak
  22. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)
Gejala Dan Tanda
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal
a.       Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
b.      Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala
Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
c.       Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.
Komplikasi
a        Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
b        Neurologik
-      Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
-      Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
-      Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.
-      Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
c         Gastrointestinal
-      Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
-      Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
-      Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d        Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
e         Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
f         Sensorik
-      Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
-      Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.
Penatalaksanaan
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :
-      Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.
-      Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.
-      Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
-      Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.
-      Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu :
a.      Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan,dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
b.      Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
c.       Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
ü  Didanosine
ü  Ribavirin
ü  Diedoxycytidine
ü  Recombinant CD 4 dapat larut
d.      Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
e.       Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.
f.       Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a        Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :
ü  Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik, limpoma, kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.
ü  Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein – liosing enteropati (peradangan usus)
b        Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
ü  Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
ü  Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.
ü  Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
ü  Eliminasi
Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine.
ü  Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema
ü  Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
ü  Neurosensori
Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
ü  Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan, penurunan rentang gerak,pincang.
ü  Pernafasan
Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
ü  Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka, transfuse darah, penyakit defisiensi imun, demam berulang berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit, luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
ü  Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi, menurunnya libido, penggunaan pil pencegah kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia
ü  Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS
Tanda : Perubahan interaksi
ü  Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan obat-obatan IV,merokok,alkoholik.
c         Pemeriksaan Diagnostik
1.      Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
         Serologis
-      Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa
-      Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
-      Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
-      Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
-      T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
-      P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
-      Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
-      Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
-      Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
         Budaya
Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.
         Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
         Tes Lainnya
a.       Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain
b.      Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia interstisial
c.       Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
d.      Biopsis
Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
e.       Brankoskopi / pencucian trakeobronkial
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
2.      Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
ü  Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
ü  Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
ü  Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
ü  Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.
3.      Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS.
Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus ( viral burden )
AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.
HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gels bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.
Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.


ASKEP DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : VESIKOLITIASIS



BAB I
TINJAUAN TEORITIS
A. TEORI MEDIK
1. pendahuluan   
Batu saluran kencing sudah lama dikenal dan ditemukan pada mumi dan mayat orang-orang indian pada zaman 3000-5000 tahun  sebelum masehi. Juga dilaporkan uga bahwa batu saluran kencing ditemukan pada raja-raja di Eropa pada abad pertengahan.
 Persoalan pembentukan batu pada saluran kencing juga sudah lama dikenal yang dipengaruhi oeh bermacam-macam faktor yang belum diketahui dengan jelas. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk terjadinya batu saluran kencing diperlukan dua komponen ialah matriks batu dan kristal. Matriks berupa suatu mukoprotein yang sering disebut juga sebagai matrix substance A. Sampai dimana peranannya belum diketahui dengan jelas.
      Batu saluran kencing dapat ditemukan sebagai penyakit sekunder misalnya pda hiperparatiroidisme, penyakit gaout, atau penyakit primer idiopatik.

2. Pengertian
Vesikolitiasis adalah batu yang terbentuk dari defosit mineral umumnya kalsium oksalat dan kalsium phosfat serta asam urat dan kristal-kristal lain yang ditemukan dalam kandung kemih/ vesika urinaria.

3. Etiologi
      Faktor-faktor yang ikut berperan  pada pembentukan batu saluran kencing dibagi atas 2 golongan :
1. Faktor Endogen :
      Misalnya faktor genetik-familial pada hipersistinuria, hiperkalsiuria primer dan
hiperoksaluria.  
2. Faktor Eksogen :
a. Infeksi
    Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing. Infeksi oleh bakteri yang memecah ureum dan membentuk amonium akan mengubah pH urin menjadi alkali dan akan mengendapkan garam-garam posfat sehingga akan mempercepat pembentukan batu yang telah ada.
b. Obstruksi dan Stasis Urin
    Adanya obstruksi dan stasis urin akan mempermudah terjadinya infeksi.
c. Jenis Kelamin
    Data menunjukan bahwa batu saluran kencing lebih banyak ditemukan pada pria.
d. Ras
    Batu saluran kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia, sedangkan pada penduduk   Amerika dan Eropa jarang.

e. Keturunan
    Ternyata anggota keluarga batu saluran kencing lebih banyak mempunyai  kesempatan untuk menderita batu saluran kencing dari pada yang lain.
f. Air Minum
    Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi terbentuknya batu, sedangkan bila kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu. Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan kadar mineralnya terutama kalsium diperkirakan mempengaruhi terbentuknya batu saluran kencing.
g. Pekerjaan
    Pekerja-pekerja keras yang banyak bergerak misalnya buruh dan petani akan mengurangi kemungkinan-kemungkin terjadinya batu saluran kencing bila dibandingkan dengan pekerja-pekerja yang lebih banyak duduk.
h. Makanan
    Pada golongan masyarakat yang lebih banyak makan protein hewani angka morbiditas batu saluran kencing berkurang, sedangkan pada golongan masyarakat dengan kondisi sosial ekonomkinya rendah lebih sering terjadi.
Penduduk vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita batu saluran kencing (buli-buli dan uretra) dan hanya sedikit yang ditemukan menderita batu ginjal atau piala.
i. Suhu
   Tempat yang bersuhu panas misalnya didaerah tropis dikamar mesin, menyebabkan banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi urin dan mempermudah pembentukan batu saluran kencing.

4. Patogenesis dan Patofisiologis
       Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat simtomatik ataupun asimtomatik.
Teori terbentuknya batu antara lain:
1. Teori Inti Matriks
Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansia organik sebagai inti. Substansia organik ini terutama terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk batu.
2. Teori Supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urin seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu
3. Teori Presipitasi-Kristalisasi
Perubahan pH urin akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urin.Pada urin yang bersifat asam akan mengendap sistin, asam dan garam urat, sedangkan pada urin yang bersifat alkali akan mengendap garam-garam phosfat.
4. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid phosfat, pirophosfat, poliphosfat,sitrat,magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing.

5. Manifestasi Klinik
            - Nyeri / kolik ginjal dan saluran kencing
            - Pinggang pegal
            - Gejala infeksi saluran kencing
            - Hematuria
            - Nyeri ketok kostovetebral
            - nyeri tekan perut bagian bawah
            - Terdapat tanda balotemen

6. Penatalaksanaan
Tujuan pengelolaan batu saluran kencing adalah:
- Menghilangkan obstruksi
- Mengobati infeksi
- Menghilangkan rasa nyeri
- Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya    rekurensi.
Untuk mencapai tujuan ini, langkah-langkah yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Diagnosis yang tepat mengenai adanya batu,lokasinya,dan besarnya batu.
2. Menentukan akibat-akibat batu saluran kencing:
·         Rasa nyeri
·         Obstruksi disertai perubahan-perubahan pada ginjal
·         Infeksi
·         Adanya gangguan fungsi ginjal

          3. Menghilangkan obstruksi
          4. Analisis batu
          5. Mencari latar belakang adanya batu
          6. Mengusahakan pencegahan terjadinya rekurensi














Penyimpangan KDM
Faktor Endogen dan Eksogen


Kalkulogenesis


 


Vesikolitiasis                  


 


 Tindakan operasi                              Obstruksi partial / total               Retensi urin
       

Resiko infeksi      Kecemasan             Refluks urin ke bgn                ggn eliminasi BAK
                                                           proksial area obstruksi
 



Penekanan pada refleks renointestinal                 Peningkatan tkn hidrostatik dan
Dan penekanan ginjal ke lambung,                       Distensi bg proksimal (ureter,ginjal
pankreasDan usus                                                


 


Mual / muntah atau diare                                    Merangsang saraf efferent/nosiseptor







 


                                                                                                     Nyeri

Kekurangan cairan         Penurunan intake makanan
dan elektrolit 

                                                                                                                                                         
                                     Nutrisi kurang dari kebutuhan





B. Konsep keperawatan
1. Pengkajian data dasar pasien
A. Aktivitas / istirahat
Gejala : Pekerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi.
              Keterbatasan aktifitas / imobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya (contoh penyakit tak sembuh, cidera monula spinalis)
    B. Sirkulasi
Tanda: Peningkatan TD / nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal ) kulit hangat dan kemerahan.
    C. Eleminasi
            Gejala: - Riwayat adanya ISK : kronik, obstruksi sebelumnya (kalkulus)
                        - Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh
                        - Rasa terbakar, dorongan berkemih
                        - Diare
            Tanda: - Oliguria, hematuria, piuria
                        - Perubahan pola berkemih
   D. Makanan / Cairan
            Gejala: - Mual/muntah, nyeri tekan abdomen
                        - Diet tinggi purin, kalsium aksalat dan phospat
                        - Ketidakcukupan pemasukan cairan : tidak minum air dengan cukup
            Tanda: - Distensi abdominal, penurunan / tak adanya bising usus.
                        - muntah
   E. nyeri / Kenyamanan
Gejala: -Episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul diregio sudut kostovetebral : dapat menyebar kepunggung, abdomen, dan turun kelipat paha/genetalia. Nyeri dangkal kinstan menunjukan kalkus ada di pelvis atau kulkulus ginjal.
              Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain.
Tanda: - Melindungi ; Perilaku Distraksi
            - Nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi.
   F. Keamanan
            Gejala: - Penggunaan alkohol
                        - Demam/ Menggigil
  G. Pernyuluhan/ Pembelajaran
Gejala: - Riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis.
        - Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya hiperparatiroidisme. Penggunaan antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, alupurinol, pospat, tiazid, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.



  H. Pemeriksaan Diagnostik
            1. Urinalisa     
            2. Urine (24 jam)
            3. Kultur Urine
            4. Survai Biokimia
            5. BUN/ Kreatinin Serum dan Urine
            6. Kadar Klorida dan Bikarbonat Serum
            7. Hitung DarahLengkap
            8. Hb/Ht
            9. IVP
            10. Sistouretroskopi
            11. CT-Scan
            12. Ultrasound Ginjal


2. Prioritas Keperawatan
            1. Menghilangkan nyeri
            2. Mempertahankan fungsi ginjal adekuat
            3. Mencegah komplikasi
4. Memberikan imformasi tentang proses penyakit/ prognosis dan kebutuhan pengobatan

3. Tujuan Pemulangan
          1. Nyeri hilang/ terkontrol
          2. Keseimbangan cairan / elektrolit dipertahankan
          3. Komplikasi dicegah atau minimal
          4. Proses penyakit / prognosis dan program terapi dipahami

4. Diagnosa Keperawatan
          1. Nyeri ( Akut )
·         Dapat dihubungkan dengan : Peningkatan frekwensi/dorongan uretral, trauma jaringan, pembentukan adema, iskemia seluler.
·         Kemungkinan data : Keluhan nyeri kelik, perilaku melindungi/distraksi, gelisah merintih, fokus pada diri sendiri, nyeri wajah, tegang otot, respon optonomik.
·         Hasil yang diharapkan : Melaporikan nyeri hilang dengan spasme terkontrol.
·         Kreteria evaluasi : Tamppak rileks, mampu tidur/ istirahat dengan tepat
·         Intervensi
1. Catat lokasi, intensitas dan penyebaran nyeri
                R/ : Membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus
2. Berikan tindakan nyaman, contoh : pijatan punggung, lingkungan istirahat.
    R/ : Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot dan meningkatkan koping.
3. Bantu atau doprong penggunaan nafas dalam, bimbingan imajinasi dan aktifitas terapiotik
    R/ : Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot.
4. Kolaborasi
                            - Berikan obat sesuai indikasi( narkotik (Demerol))
                              R/ : Untuk menurunkan kolik uretral dan menungkatkan relaksasi otot
                            - Berikan kompres hangat pada punggung
R/ : Menghilangkan tegangan otot dan dapat menurunkan refleks spame
- Pertahankan patensi kateter bila digunakan
  R/ : Mencegah statis/ retyensi urine, menurunkan resiko peningkatan tekanan ginjal dan infeksi

2. Perubahan Eleminasi Urine
·         Dapat dihubungkan dengan : Stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau uretral.
·         Kemungkinan data : Urgensi dan frekwensi diguria (retensi), hematuria.
·         Hasil yang diharapkan : Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya.
·         Kriteria Evaluasi : Tidak mengalami tanda obstruksi
·         Intervensi
1. Awasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine
    R/ : Memberikan info tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi.
2. Tentukan pola berkemih normal pasien dan perhatikan variasinya.
    R/ : Kalkulus dapat menyebabkan eksitabilitas saraf, yang menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera.
3. Dorong peningkatan pemasaukan cairan
    R/ : Peningkatan hiderasi membilas bakteri, darah dan debris dan dapat membantu lewatnya batu.
4. Selidiki kandung kemih penuh: palpansi untuk distensi suprapublik potensial resiko infeksi, gagal ginjal.
5. Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran
    R/ : Akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada ssp.
6. Kolaborasi
    - Berikan obat sesuai indikasi
    - Pertahankan patensi kateter tak menetap bila menggunakan
      R/ : Membantu aliran urine/ mencegah retensi dan komplikasi
    - Irigasi dengan asam atau larutan alkalin sesuai indikasi
      R/ : Mengubah PH urine dapat memvantu pelarutan batu dan mencegah pembentukan batu selanjutnya.


3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan
·         Faktor resiko meliputi : Mual/ muntah ( iritasi saraf abdominal dan pelvik umum dari ginjal atau kolik uretral ) diuresis paska obstruksi.
·         Hasil yang diharapkan : Mempertahankan cairan adukuat
·         Kreteria evaluasi : Tanda vital atabil, berat badan dalam rentang normal, nadi parifer normal, membran mukosa lembab, turgor baik.
·         Intervensi
1. Awasi pemasukan dan pengeluaran
    R/ : Membandingkan pengeluaran aktual dan yang diantipasi, membantu dalam evaluasi adanya derajat kerusakan ginjal
2. Catat insiden muntah dan diare, karakteristik dan frekwensinya
    R/ ; Berhuhungan dengan kolik ginjal karena saraf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung.
3. Tingkatkan pemasukan cairan sampai 3-4 lt/hr dalam toleransi jantung.
    R/ : Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostasis juga untuk membilas batu keluar.
4. Awasi tanda vital : nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan memdran mukosa.
    R/ : Indikator hiderasi / volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi.
5. Timbang berat badan taip hari
    R/ : Peningkatan berat badan yang cepat mungkin berbeda retensi.
6. Kolaborasi
·         Berikan obat antiemetik sesuai indikasi
R/ : Menurunkan mual/ muntah
·         Awasi hb/ht, elektrolit
R/ : Mengkaji hiderasi dan keefektifan/ kebutuhan intervensi
·         Berikan cairan IV
R/ : Mempertahankan volume sirkulasi dan meningkatkan fungsi ginjal
·         Berikan diet tepat, cairan jernih, makanan lembut sesuai toleransi
R/ : Makanan mudah cerna, menurunkan aktivitasGi/ iritasi

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
·         Dihubungkan dengan : Salah interprestasi imformasi, tak mengenal sumber informasi
·         Dibuktikan oleh : Pertanyaan meminta imformasi, pernyataan salah konserpsi, menyatakan masalah, tidak akurat mengikuti intruksi/ terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.
·         Hasil yang diharapkan : Menyatakan pemahaman proses penyakit
·         Kriteria evaluasi : Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
·         Intervensi
1. Kaji ulang proses penyakit dan harapan masa datang
    R/ : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat mem,buat pilihan berdasarkan imformasi.
2. Tekankan pentingnya peningktan pemasukan cairan
    R/ : Pembilasan sistem ginjal menurunkan kesempatan statis ginjal dan pembentukan batu.
3. Kaji ulang program diet sesuai individualnya
    R/ : Diet tergantung pada tipe batu, meningkatakan kerja sama dalam program dan dapat mencegah kekambuhan
4. Diet rendah purin ( daging berlemak, kakun, tumbuhan polong, gandun, alkohol)
    R/ : Menurunkan pemasukan oral terhadap prekursor asam urat
5. Diet rendah kalsium ( membatasi susu, keju, sayur berdaun hijau, yogurt)
    R/ : menurunkan resiko pembentukan batu kalsium
6. Identifikasi tanda/ gejala yang memerlukan evaluasi medik ( nyeri berulang, hematuria, diguria )
    R/ : Peningkatan kemungkinan berulangnya batu, intervensi segera dapat mencegah komplikasi serius.
7. Tunjukan perawatan yang tepat terhadap insisi/ kateyer bila ada
    R/ ; Meningkatkan kemampuan perawatan diri dan kemandirian.