Tampilkan postingan dengan label ASKEP GERONTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP GERONTIK. Tampilkan semua postingan

Proses Menjadi Lanjut Usia / Menua

Proses Menjadi Lanjut Usia / Menua - ASKEP GERONTIK - askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting tentang ( Baca : Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula )

MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT

I. PENDAHULUAN

Keberhasilan Pembangunan khususnya di bidang kesehatan menumbulkan jumlah penduduk yang meninggal dalam usia muda menurun drastis dan harapan hidup rata-rata semakin panjang. Ini berarti bahwa dalam jangka panjang jumlah golongan penduduk dalam usia lanjut semakin besar.


Data di biro statistik menunjukkan bahwa sensus penduduk tahun 1995 terdapat 12,7 juta orang yang berusia 60 tahun keatas. Hal ini dapat menimbulkan masalah baru apabila tidak kita perhatikan sejak dini. Karena pada kenyataannya sering kita jumpai orang yang merasa takut dalam menghadapi usia lanjut.


Mereka takut dengan adanya perubahan fisik, badannya tidak menarik seperti pada saat masih muda, rambutnya mulai banyak uban, kulitnya mulai banyak keriput, timbulnya menopause, takut menghadapi pensiun, merasa tidak ada peranan penting lagi, merasa tidak dapat berkarier lagi, merasa tersaingi dengan yang muda dan sebagainya.


Ketakutan dalam menghadapi usia lanjut ini dapat menimbulkan mereka mempunyai harga diri yang rendah, sulit tidur, tidak nafsu makan, tidak bergairah dalam bekerja, dan bahkan dapat menimbulkan seseorang mengalami gangguan jiwa.


Proses Menjadi Lanjut Usia / Menua

Sebetulnya keadaan ini tidak perlu terjadi apabila ada persiapan dalam menghadapi usia lanjut dan mereka berani dalam menghadapi tantangan atau bahaya pada usia ini, dengan demikian maka kesempatan manis bagi pertumbuhan dan pengembangan diri tidak hilang, mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk pematangan diri, untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh, serta dapat menikmati usia lanjut dengan bahagia dan sejahtera.

II. PROSES MENJADI LANJUT USIA

Proses menjadi lanjut usia atau menjadi tua menghadapkan orang pada salah satu tugas yang paling sulit dalam perkembangan hidup manusia. Menurut kodratnya, manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalam proses menjadi tua.

>

Pada mulanya mereka melawan kenyataan yang tidak terelakkan bahwa mereka menjadi tua dan akhirnya dengan hati sakit mereka hanya bisa menerima. Pada saat ini, lepaslah segala ambisinya, mereka menjadi kesal dan kehilangan semangat hidup.

Bagi mereka pada usia itu hidup praktis berhenti, meskipun mereka masih mondar-mandir sebagai warga masyarakat yang gelisah tanpa tujuan. Dengan keadaan itu yang bersangkutan tidak mengerti bahwa proses untuk menjadi tua memberikan kesempatan yang besar untuk pematangan diri, untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh.

Ada beberapa tingkatan umur yang berbeda-beda, dari kanak-kanak, remaja dan tingkat dewasa. Kita juga tahu bagaimana penting dan sulitnya menghadapi masa peralihan dengan tepat, dari tingkat kanak-kanank ke remaja, dan kemudian ke tingkat dewasa.

Namun hal ini tidak selalu kita sadari. Demikianpun kebanyakan orang tidak menyadari bahwa peralihan dari usia tengah baya yang aktif ke tingkat usia lanjut juga membawa krisis yang berat. Pembicaraan mengenai hal ini tidak banyak kita dengar, karena kebanyakan orang tidak mau mengakui, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, bahwa setiap orang merasa perlu tetap muda, atau sekurang-kurangnya berusaha tetap tampil muda.

Akan tetapi, penipuan diri yang kosong ini tidak dapat mengubah kenyataan, bahwa siapapun secara pelan-pelan menjadi usia lanjut. Orientasi pada budaya muda itu dapat mempersulit orang dalam proses menjadi usia lanjut dengan rasa bahagia, sebab mereka hanya mendapat sedikit pengertian dan bantuan dari masyarakat dalam menghadapi krisis masa transisi.

Kenyataan tidak dapat kita ingkari, siapapun dari kita ini kalau tidak didahlui mati, tentu akan berhadapan dengan krisis usia lanjut. Semua wanita lambat atau cepat akan menyadari bahwa pesonanya akan memudar. Mereka akan sadar bahwa daya tarik tubuhnya semakin berkurang.

Orang dapat tetap memuji kecakapannya, sukses dalam profesi dan nama baiknya, tetapi itu semua baginya tidak lebih dari pensiun di hari tua. Sakit badan tertentu membuat mereka merasakan gangguan kekuatannya dan pemikirannya. Wanita yang telah menjadi usia lanjut akan menjadi cepat marah, mudah tersinggung dan gelisah, tenaganya semakin merosot, semakin lemah. Pagi hari kehilangan daya tariknya, siang hari menjemukan, sore dan malam hari terasa berlangsung panjang dalam sunyi sepi.

Ketika orang mencapai usia lanjut, ia mengalami kesusahan siang dan malam, sekonyong-konyong apa saja menjadi persoalan misalnya kehidupan profesionalnya, hubungan dengan bawahannya dan kehidupan seksualnya. Keluarganya menjadi lebih kecil, karena anak –anak menjadi lebih dewasa dan meninggalkan lingkungan keluarga. Seringkali dirasakan bahwa efisiensi kerjanya merosot dam kreativitasnya menurun. Kebanyakan orang pada umur ini mulai kehilangan kepercayaan diri dan rasa amannya. Apapun yang terjadi membuat dirinya kebingungan.

Sementara itu ia dapat merasa bangga atas keberhasilan generasi baru, sejauh ikut menentukan keberhasilan itu dan dapat menikmati sukses pertamanya. Namun apabila generasi baru ini lambat laun mengambil oper tugasnya, maka ia mulai merasakan bahwa rasa pedih dan cemburu mulai merayapi dirinya yang semula ber-rela hati.

Inilah tanda lahiriah pertama mulai berkembangnya krisis orang menua. Adapun secara batiniah, rasa dingin semakin dalam timbul dalam dirinya dan timbul pertanyaan: ”hidup terus berlangsung, mungkinkah pada sutu hari aku tidak diperlukan lagi”. Dan pada kesempatan ini dapat muncul gagasan, bahwa ia dapat terhempas dari kehidupan ini.

III. PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT

Menjadi tua tidak berarti mundur secara psikologis. Daya ingat memang berkurang, sebab orang lebih memperhatikan hal-hal penting, sedangkan yang kurang penting tidak diingat. Di luar negeri pernah diadakan percobaan mendirikan universitas yang menerima mahasiswa yang sudah berusia lanjut. Ternyata banyak orang yang berusia lanjut yang berhasil. Semangat belajar mereka lebih besar daripada orang-orang muda. Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak dibandingkan dengan yang muda.

Beberapa masalah sosial dan psikologi yang dihadapi pada usia lanjut antara lain :

  1. Pensiun
    Idealnya, masa pensiun merupakan waktu untuk menikmati hal lain dalam hidup ini, menjadi santai, melaksanakan cita-cita berkelana, aktif dalam bidang sosial dan filsafat. Tetapi kadang-kadang dalam kenyataannya pensiun sering diartikan sebagai ”kehilangan” pekerjaan, penghasilan, kedudukan, jabatan, peran sosial, dan juga harga diri.
  2. Fungsi Mental
    Pada umumnya terjadi penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi prises belajar, pemahaman, pengertian, tindakan dan lain-lain menurun, sehingga perilaku cenderung lebih lambat. Usia senja yang menderita demensia, perubahan dan penurunan fungsi kognitif akan lebih jelas dan progresif.
    Fungsi psikomotor yang meliputi dorongan kehendak/bertindak pada umumnya mulai melambat sehingga reaksi dan koordinasinya juga menjadi lambat. Sedangkan hal yang positif yaitu dihormati, dituakan, disegani, lebih bijaksana, lebih hati-hati dalam tindakan, tempat meminta nasehat. Secara garis besar ada 5 tipe kepribadian pada usia senja :

    1. Tipe Konstruktif : Orang yang sejak muda dapat menerima fakta dan kehidupan, menjadi tua diterima dengan santai. Mereka memiliki sifat yang toleran dan fleksibel, sehingga lentur dalam menerima kenyataan misalnya pensiun, kehilangan pasangan dan sebagainya, mereka nrimo tetapi bukan pasrah.
    2. Tipe Dependen : Sifat pasif tak berambisi, optimistik tak dilaksanakan perkawinan terlambat, didominasi oleh istri. Pada usia senja senang karena pensiun dan santai, banyak makan dan menikmati hari libur. Tetepi bila mereka kehilangan pasangan hidupnya merasa kehilangan tempat bergantung yang merupakan masalah besar, sehingga tidak jarang mereka terus menerus sakit-sakitan dan akhirnya menyusul pasangannya lebih cepat.
    3. Tipe Independen (mandiri): Pada masa mudanya merupakan orang yang aktif dalam pergaulan sosial, reaksi penyesuaian diri cukup baik dan cenderung menolak tawaran / bantuan orang lain. Keadaan tersebut cenderung dipertahankan sampai usia senja sehingga cemas menghadapi masa tua, misalnya cenderung menunda masa pensiun atau tetap bertahan aktif dalam profesi atau pekerjaannya dan tidak tampak menikmati masa tuanya.
    4. Tipe Bermusuhan : Orang yang cenderung menyalahkan orang lain untuk kesalahannya, sering mengeluh, agresif, curiga, riwayat pekerjaan tidak tetap, tidak dapat melihat segi positif pada usia lanjut, takut akan kematian, iri terhadap orang muda. Sering menunjukkan perilaku yang seoalah-olah mencari ketenangan sebagai gambaran yang menggambarkan dirinya tidak tenang.
    5. Tipe Benci diri : Orang yang kritis terhadao dirinya, tidak berambisi dalam pekerjaan. Perkawinan kurang bahagia karena banyak menyesali diri, anak serta pasangan hidupnya, seolah-olah masa lalu yang seharusnya diisi dengan segala keinginan sudah lewat, akhirnya pasrah tetapi tidak ”nrimo”. sehingga banyak mengalami krisis. Takut akan kematian.
  3. Kehilangan pasangan
    Kematian pasangannya merupakan stress psikososial yang sangat berat.
  4. Fungsi Seksual
    Sering menurun karena penyakit fisik seperti jantung koroner, diabetes melitus, artritis. Akibatnya harus makan obat anti hipertensi, anti diabetika, steroida, obat penenang. Sebagian usia senja harus menjalani pembedahan seperti prostatektomi. Menderita vagintis dan malnutrisi.
  5. Menemukan Kebahagiaan
    Bentuk-bentuk pernyataan kebahagiaan dan kegembiraan yang khas pada masa muda, tidak lagi mempunyai daya tarik pada masa usia senja. Ada beberapa kegiatan menarik yang tidak bisa dilaksanakan, misalnya kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik misalnya olah raga atau perjalanan jauh
    Kebahagiaan di masa lampau sewaktu masih muda, kini bagi kebanyakan usia senja hal-hal tersebut hanya menjadi kenangan. Bagi usia senja, tidaklah menguntungkan untuk bermimpi diluar jangkauannya. Dalam hidup ini tahap demi tahap orang harus mengembangkan minat pada hal-hal yang memberikan kegembiraan apabila mau menjadi orang sepenuhnya.
    Setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan di masa tuanya. Bagi sementara orang bisa terjadi, cuculah yang menjadi sumber kesenangan dan kepuasan. Orang lain mengembangkan perhatiannya di bidang seni, musik dan buku-buku
  6. Kematangan Iman
    Setelah seseorang memasuki usia tua, banyak terjadi persoalan-persoalan mengenai kesehatan, dorongan seksual, jaminan ekonomi. Hal-hal seperti ini nampak tidak stabil lagi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Maka tidaklah mengherankan apabila timbul kebimbangan iman. Orang akan mempunyai problema yang berat, apabila imannya tidak berkembang matang.
    Pada usia senja, iman kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu diperdalam dan dimatangkan, agar persoalan-persoalan yang dihadapi tidak menjadi terlalu berat.
  7. Menemukan Makna Hidup
    Salah satu persoalan pokok orang usia senja ialah pemikiran yang menakutkan bahwa mungkin dirinya sudah tidak berarti lagi. Dia merasa dirinya sudah tidak diperlukan lagi ditempat kerjanya, dalam keluarga dan masyarakat. Banyak orang usia senja yang menderita neurosis dan bermacam-macam ketidakseimbangan mental karena kekosongan dan tidak adanya tujuan hidup di masa senja.
    Pada usia senja, seseorang harus dapat menemukan kembali makna hidupnya. Menemukan kembali makna hidup pada masa senja tergantung pada kesehatan, kemampuan dan situasi konkrit kehodupan pribadi yang bersangkutan.
    Bagi beberapa orang, merawat cucu-cucunya dapat menghilangkan rasa takut dan dapat mengembalikan kesadaran baru akan tujuan hidup dan kegembiraan di usia senja. Banyak orang usia senja merasa lebih muda lagi ketika diminta memberi nasihat. Perasaan berguna dan diperlukan, dapat mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri yang sudah menipis dan memberikan makna hidup baru dan tujuan hidupnya.
  8. Membina Perkawinan Menjadi Satu Kesatuan Yang Baru
    Bagi pasangan suami istri, saat suami pensiun dapat merusak hubungan mereka, tetapi juga dapat menjadi awal hidup bersama yang sempurna. Pada waktu pensiun, istri takut apabila suami mencampuri urusan tumah tangga. Dengan ikut campurnya suami dalam urusan rumah tangga, sering menimbulkan pertengkaran.
    Akan tetapi perkawinan dapat juga mengalami perubahan yang sebaliknya. Pada masa suami pensiun hubungan suami istri dapat menjadi intim. Untuk membina perkawinan menjadi satu kesatuan diperlukan komunikasi, hubungan yang mendalam antara suami dan istri.

V. KESIMPULAN


Masa usia lanjut merupakan masa yang sulit dalam perkembangan hidup seseorang. Menurut kodratnya, manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalm proses menjadi tua.


Pada masa ini terjadi perubahan fisik, juga banyak terjadi perubahan psikologi dan sosial. Pada masa usia lanjut seseorang harus bisa menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, mampu mengahdapai problema kesepian, mulai mendekatkan diri kepada yang kuasa, menerima masatua dengan wajar, berlatih bijaksana, mencapai keutuhan dan menemukan makna hidup.


Penyesuaian diri dengan terjadinya perubahan psikologi dan sosial pada usia lanjut, maka seseoarang akan mampu hidup sehat dan bahagia, bagi para usia lanjut yang sulit menemukan diri dengan berbagai perubahan psikologi maupun sosial, maka mereka tidak bisa menikmati usia senja dengan bahagia.



Demikian posting tentang Proses Menjadi Lanjut Usia / Menua - ASKEP GERONTIK, semoga bermanfaat...


Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula

kapukonline.com update Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula - ASKEP GERONTIK, Posting ini berkaitan dengan ( Baca : Proses Menjadi Lanjut Usia / Menua )

I. PENDAHULUAN

Populasi penduduk lanjut usia ( lansia ) di Indonesia saat ini khususnya yang berusia diatas 60 tahun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada tahun 2005 – 2010 diperkirakan jumlah lansia adalah 8,5 % dari jumlah seluruh penduduk Indonesia atau sekitar 19 juta jiwa. Kondisi tersebut akan menimbulkan berbagai perubahan pada masalah kesehatan baik fisik maupun mental pada populasi ini.

Lansia

Golongan lansia dapat mengalami berbagai gangguan mental seperti pada kelompok usia yang lebih muda. Untuk mengidentifikasi masalah mental yang muncul pada lansia perlu dilakukan pengkajian. Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal yang menentukan langkah berikutnya untuk menentukan diagnosa keperawatan dan perencanaan.

Pengkajian keperawatan pada klien psikogeriatri merupakan proses yang komplek. Pengaruh aspek biologik, psikologik, dan sosiokultural akibat proses penuaan menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi masalah yang muncul. Pengkajian status mental merupakan pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data tentang fungsi psikososial.

Pengkajian ini meliputi : Penampilan umum klien, kesadaran, Fungsi afektif, Karakteristik bicara, orientasi, perhatian dan konsentrasi, penilaian, memori, persepsi, serta isi dan proses pikir. Pengkajian ini bertujuan untuk menentukan pikiran – pikiran dan proses mental yang mempengaruhi pada pencapaian tingkat optimal dari fungsi lansia. Pengkajian ini terintegrasi dalam wawancara dan pemeriksaan fisik.

II. TINJAUAN TEORI

PENGKAJIAN STATUS MENTAL LANSIA

PENAMPILAN UMUM

Penampilan umum dapat memberikan gambaran mengenai fungsi psikologik. Penampilan umum meliputi : Penampilan fisik, koordinasi gerakan, ekspresi muka dan postur tubuh. Penampilan fisik meliputi : cara berpakaian, cara berdandan, perawatan dan kebersihan diri.

Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji penampilan umum :

  1. Apakah penampilan fisik klien menandakan adanya gangguan fungsi psikologik ?
  2. Apakah gaya berjalan, postur tubuh dan ekspresi muka menandakan adanya gangguan psikologik ?
  3. Apakah ada tanda – tanda tardive dyskineksia atau efek yang kurang baik akibat medikasi ?

Tabel 1 Penampilan umum berhubungan dengan fungsi psikologik

TANDA

KETERANGAN

Penampilan fisik

Penampilan fisik : pakaian compang – camping, tidak rapi, kau badan tidak sedap dapat dihubungkan dengan adanya depresi, tetapi perlu dikaji faktor lain seperti : adanya inkontinensia, kemampuan kognitif, kondisi keuangan, gangguan pengelihatan/ penciuman, dan kemampuan melakukan perawatan diri.

Postur tubuh

Postur tubuh yang bukuk dapat menandakan adanya depresi

Koordinasi gerak : gaya berjalan

Gaya berjalan yang tidak terkoordinasi atau tardive dyskineksia dapat diakibatkan oleh efek pengobatan psikotropika

Gaya berjalan dengan lambaian tangan seolah – olah tubuh lemah dengan kepala ditekuk dapat menandakan adanya depresi dan menarik diri.

Ekspresi muka

Ekspresi muka dengan kontak mata ynag kurang dapat menandakan adanya depresi.

KESADARAN

Kesadaran adalah kemampuan individu untuk mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan diri sendiri ( melalui panca indra ). Bila kesadaran baik ( tidak menurun ) maka kemampuan orientasi seperti waktu, tempat dan orang akan baik serta dapat mengolah informasi yang masuk secara efektif ( melalui daya ingat dan pertimbangan ). Dalam menilai tingkat kesadaran perlu dipertimbangkan :

  1. Pengaruh medikasi
  2. Gangguan afektif
  3. Kondisi patologik

Tabel 2 Beberapa tingkatan penurunan kesadaran

Tingkat kesadaran

KETERANGAN

Apati

Keadaan mengantuk dan acuh tak acuh terhadap rangsang yang masuk, diperlukan rangsang yang lebih keras dari biasanya untuk menarik perhatiannya.

Somnolen

Keadaan sangat mengantuk, diperlukan rangsang yang lebih keras dari biasanya untuk menarik perhatiannya.

Sopor

Hanya bereaksi dengan rangsang yang keras , ingatan , orientasi dan pertimbangan sudah hilang

Koma

Tidak ada lagi respon terhadap rangsang yang keras sekalipun.

Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji tingkat kesadaran :

  1. Apakah tingkat kesadaran klien saat ini ?
  2. Apakah ada fluktuasi pada tingkat kesadaran klien . Jika ada apakah ada pola tertentu ?
  3. Apakah ada faktor fisik yang mempengaruhi tingkat kesadaran, misal : pengaruh medikasi, kondisi patologik, dan gangguan afektif ?
  4. Apakah ada faktor psikososial yang mempengaruhi tingkat kesadaran misal : cemas, depresi, atau gangguan tidur ?

FUNGSI AFEKTIF

Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji fungsi afektif pada lansia yaitu :

  1. Penting untuk mengkaji arti dari suatu kejadian bagi lansia dengan mengkaji kedalaman dan lamanya afek yang ditampilkan
  2. Ekspresi emosi dipengaruhi oleh budaya dan karakteristik personal
  3. Pada lansia biasanya tidak mengekspresikan perasaannya secara langsung/ verbal. Oleh karena iti penting untuk mengobservasi adanya reaksi tidak langsung/ non verbal dari lansia.
  4. Penting untuk menggunakan istilah – istilah yang dapat diterima oleh lansia pada saat wawancara dengan berfokus pada perasaan yang dirasakan oleh lansia. Dapat diawali dengan menggunakan open ended question misalnya : bagaimana kabarnya hari ini ?

Tabel 3 Temuan – temuan pada Fungsi afektif

AFEK

KETERANGAN

Afek tidak serasi

Respon emosional yang tidak sesuai dengan pikiran, pembicaraan

Afek tumpul

Respon emosional yang sangat kurang

Afek ambivalen

Dua jenis perasaan yang berlawanan terhadap suatu objek yang timbul pada saat yang bersamaan

Euforia

Kegembiraan berlebihan tidak sesuai dengan realitas

Depresi

Perasaan sedih, murung, susah. depresi sering disertai dengan gejala somatik : pusing, konstipasi, nyeri perut, nyeri otot, nafsu makan berkurang dan insomnia.

Anxietas

Kecemasan, kekawatiran, was – was, takut. Sering disertai dengan gejala somatik : ketegangan motorik ( gemetar, tegang, nyeri otot, mudah kaget, gelisah ) dan hiperaktivitas saraf otonomik ( berkeringat , telapak tangan lembab, jantung berdebar cepat, mulut kering, pusing, kesemutan, rasa mual, sering kencing, dan rasa tidak enak di ulu hati )

Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji fungsi afektif :

  1. Bagaimana perasaan klien saat ini ?
  2. Apakah indikator yang menggambarkan mood/ rasa cemas / depresi pada klien ?
  3. Apakah ada faktor –faktor dibawah ini yang mengakibatkan cemas pada klien seperti : kondisi patologik, pengobatan atau intervensi yang berpengaruh pada sistem saraf pusat ?
  4. Cara yang dilakukan oleh klien untuk mengatasi perasaannya yang tidak seperti biasanya ?
  5. Apakah ada hal yang ingin didiskusikan mengenai perasaaan klien ?

Gangguan fungsi afektif pada lansia yang sering terjadi adalah depresi. The Geriatric Depresion scale ( GDS ) adalah pengukurang yang valid dan reliabel untuk menentukan adanya depresi. Pemakaian GDS dapat memudahkan klien mengungkapkan sikap dan perasaan yang sulit diutarakan yang sebetulnya berkaitan dengan depresi.

Tabel 4 The Geriatric Depresion scale (Yesavage & brink, 1983 )

No

PERTANYAAN

JAWABAN

1

Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan anda ?

TIDAK

2

Sudahkah anda meninggalkan aktivitas dan minat anda ?

YA

3

Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong ?

YA

4

Apakah anda sering bosan ?

YA

5

Apakah anda mempunyai semangat setiap waktu ?

TIDAK

6

Apakah anda takut sesuatu akan terjadi pada anda ?

YA

7

Apakah anda merasa bahagia disetiap waktu ?

TIDAK

8

Apakah anda merasa jenuh ?

YA

9

Apakah anda lebih suka tinggal dirumah pada malam hari, dari pada pergi melakukan sesuatu yang baru ?

YA

10

Apakah anda merasa bahwa anda lebih banyak mengalami masalah dengan ingatan anda daripada yang lainnya ?

YA

11

Apakah anda berfikir sangat menyenangkan hidup sekarang ini ?

TIDAK

12

Apakah anda merasa tidak berguna saat ini ?

YA

13

Apakah anda merasa penuh berenergi saat ini ?

TIDAK

14

Apakah anda saat ini sudah tidak ada harapan lagi ?

YA

15

Apakah anda berfikir banyak orang yang lebih baik dari anda ?

YA

Keterangan : Nilai 1 poin untuk setiap respon yang cocok dengan jawaban ya dan tidak setelah pertanyaan.

NILAI 5 ATAU LEBIH DAPAT MENANDAKAN DEPRESI

KARAKTERISTIK BICARA

Karakteristik bicara meliputi : pemahaman , artikulasi, jeda, kualitas, kuantitas dan koheren. Faktor budaya dapat mempengaruhi karakteristik bicara.

Observasi untuk mengkaji karakteristik bicara :

  1. Apakah klien dapat menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan ?
  2. Apakah jeda bicara normal, lambat atau cepat ?
  3. Apakah nada suara menunjukan perasaan tertentu seperti marah, bermusuhan, sedih, putus asa, dll ?
  4. Apakah suara terdengar lembut atau keras ?
  5. Apakah adal kesulitan artikulasi ?
  6. Apakah kalimat – kalimat yang diucapkan lansia koheren ?
  7. Apakah terdapat faktor – faktor dibawah ini yang dapat berpengaruh terhadap karakteristik bicara seperti : mulut kering, ompong, adanya efek medikasi atau alcohol ?
  8. Apakah ada tanda – tanda agnosia, pengulangan kata atau aphasia ?

ORIENTASI

Orientasi meliputi orientasi terhadap tempat, orang dan waktu.

Wawancara untuk mengkaji orientasi klien :

  1. Orang : Siapakah nama anda, Siapakah nama anak anda ? Siapakah nama istri/ suami anda ?, dll
  2. Waktu : Jam berapa sekarang ? , Kapan waktu anda makan pagi ? Hari apa sekarang ? , Bualan apa sekarang ? , dll
  3. Tempat : Dimanakan saudara saat ini ? , Dimanakah alamat saudara ? Apa nama kota ini ? , Apakah nama tempat ini ? dll.

PERHATIAN DAN KONSENTRASI

Perawat harus mengobservasi dan mencatat respon yang ditampilkan oleh lansia pada saat pengkajian , yaitupada saat menjawab pertanyaan.

Observasi untuk mengkaji perhatian dan konsentrasi :

  1. Bagaimana tingkah laku klien saat wawancara ?
  2. Apakah klien bersemangat dalam menjawab pertanyaan ?
  3. Jika tidak menjawab pertanyaan atau jawaban yang diberikan salah apakah karena tidak mampu, factor cultural atau kurang motivasi ?
  4. Apakah ada tanda – tanda marah, bermusuhan, sedih, putus asa, dll ?

PENILAIAN

Penilaian merupakan kemampuan menilai suatu situasi secara benar dengan berbuat sesuai dengan situasi yang ada.

Observasi dan wawancara yang dapat dilakukan untuk mengkaji penilaian klien :

  1. Apakah klien berpakaian dan berdandan sesuai dengan situasi ?
  2. Apakah klien mengetahui cara mencari pertolongan jika membutuhkan bantuan ?

MEMORI

Memori meliputi memori baru, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Gangguan memori dapat mengidentifikasikan adanya gangguan intelektual/ kognitif. The Short Portable Mental Status Quesionnaire ( SPMQ ) digunakan untuk mendeteksi tingkat gangguan intelektual.

Tabel 5. The Short Portable Mental Status Quesionnaire ( SPMQ )

No

PERTANYAAN

JAWABAN

BETUL

SALAH

1

Tanggal berapa hari ini ?

 

 

2

Hari apakah hari ini ?

 

 

3

Apakah nama tempat ini ?

 

 

4

Berapa no. telepon rumah anda ?

 

 

5

Berapa usia anda ?

 

 

6

Kapan anda lahir ( Tgl/Bln/ Thn ) ?

 

 

7

Siapakah nama presiden sekarang ?

 

 

8

Siapakah nama presiden sebelumnya ?

 

 

9

Siapakah nama ibu anda ?

 

 

10

5 + 6 adalah ?

 

 

Keterangan :

Jumlah kesalahan :

  1. 0 – 2 kesalahan : Baik
  2. 2 – 4 kesalahan : Gangguan ringan
  3. 5 – 7 kesalahan : Gangguan sedang
  4. 7 – 10 kesalahan : Gangguan berat

PERSEPSI

Persepsi adalah daya mengenal benda, kualitas, hubungan dan perbedaan melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan setelah panca indranya mendapatkan rangsang.

Tabel 3 Temuan – temuan pada Gangguan persepsi

Persepsi

Keterangan

Halusinasi

Persepsi panca indra tanpa objek/rangsang sensorik. Jenis : Visual, Akustik, olfaktorik, gustatorik, dan taktil

Ilusi

Persepsi / interpretasi yang salah terhadap suatu rangsang sensorik.

Pada lansia gangguan persepsi biasanya berhubungan dengan demensia, depresi dan delirium.

Beberapa alasan pengkajian gangguan persepsi pada lansi sulit dilakukan adalah :

  1. Klien berusaha mennyembunyikan adanya gangguan persepsi ?
  2. Jika gangguan persepsi muncul akibat isolasi sosial, pengkajian sulit dilakukan
  3. Diperlukan pengamatan yang jeli
  4. Pengaruh latar belakang budaya

ISI DAN PROSES PIKIR

Proses pikir dapat dikaji pada saat dilakukan wawancara.

Tabel 3 Temuan – temuan pada Proses pikir

PROSES PIKIR

KETERANGAN

Inkoherensi

Arus pikiran kacau, pikiran/ kata – kata tanpa hubungan logis, atau tidak mengikuti aturan tata bahasa.

Asosiasi pikiran longgar

Pokok pikiran satu pindah ke pokok pikiran lain tanpa hubungan yang jelas/ relevan.

Waham/ Delusi

Isi pikiran yang salah, tidak sesuai dengan realitas yang diyakini dan tidak dapat dikoreksi dengan akal sehat. Contoh : waham kebesaran, paranoid, nihilistik

Obsesi

Pikiran yang terus menerus mendesak dalam kesadaran dan tidak dapat dihilangkan dengan cara yang logis, klien menyadari hal tersebut tidak wajar , berkaitan dengan kecemasan.

Fobia

Ketakutan irasional terhadap suatu objek atau situasi dan berusaha menghindarinya. Klien sadar akan kondisi tersebut.

III. PENUTUP

Pengkajian status mental pada lansia merupakan proses yang komplek yang membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik dan pertimbangan sosio kultural. Perawat harus dapat memberikan lingkungan yang nyaman saat wawancara dan mengatasi hambatan dalam berkomunikasi dengan lansia .

Dengan memeperhatikan prinsip – prinsip dan cara – cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan lansia diharapkan akan mengurangi kendala – kendala dan hambatan – hambatan dalam komunikasi dengan lansia sehingga dapat melakukan intervensi keperawatan yang dapat untuk memenuhi kebutuhan lansia.

REFERENSI

  1. Jeri B. Brown. Nancy K. Bedford, Sarah S. White. (1999). Gerontological Protocols for Nurse Practitioners. Lippincott, Philadelphia.
  2. Miller, C.A. (1995). Nursing care of olders adults : Theory and practice. Philadelpia : JB Lippincott. Lippincott, Philadelphia
  3. Staab,A.,S., & Hodges,l.,C.,(1996 ) Gerontological Nursing: Adaptation to the aging process
  4. Matteson, M.A. and Mc. Connel, E.S. (1988). Gerontological Nursing : Concepts and practice. Philadelpia : WB Saunders Company.
  5. Sheila L. Molony, Cristine M, Waszynski, Courtney H Leyder. (1999). Gerontological Nursing. Appleton & Lange. Conecticut.
  6. Stuart, G.W and Sundeen, S.J, 1995. principles and practice of psychiatric nursing, St. Louis, Mosby Year Book.
  7. Beck, CM, Rawlins and Williams, S.R, 1996, Mental health psychiatric nursing: A Holistic life-Cycle approach, St Louis, Mosby Co.

Demikian posting tentang Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula, semoga bermanfaat