ASKEP RUPTUR URETRA
Derajat Luka Bakar Combustio
Luka Bakar merupakan luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan kalor atau zat-zat yang bersifat membakar.
Derajat Luka Bakar
Derajat 1
Terkena pada lapisan luar epidermis, kulit menjadi merah, tampak sedikit udem, dan terasa nyeri.
Derajat 2
Terkena pada lapisan epidermis dan sebagian dermis, terbentuk bulla (apabila pecah tampak kemerahan) , sedikit udem, dan terasa sangat nyeri.
Derajat 3
Seluruh lapisan kulit terkena, lesi tampak pucat, warna kecokelatan, dan permukaannya lebih rendah dibandingkan kulit normalnya.
Berat Luka Bakar
Derajat dan Luas Kulit yang Terkena
Ringan :
Luka bakar derajat I atau II seluas < 20% atau derajat III seluas < 10% mengenai wajah, tangan-kaki, alat kelamin/persendian sekitar ketiak. Akibat listrik tegangan tinggi > 1000 V atau dengan komplikasi patah tulang/kerusakan jaringan lunak/gangguan jalan nafas.
Perhitungan Luas Luka Bakar
Perhitungan pada anak dan orang dewasa berbeda. Pada anak-anak dihitung menurut rumus Lund dan Browder (dalam %), sedangkan dewasa dihitung menurut rumus Rule of Nine
Combustio Luka Bakar
DEFINISI
Luka bakar adalah kerusakan jaringan permukaan tubuh disebabkan oleh panas pada suhu tinggi yang menimbulkan reaksi pada seluruh sistem metabolisme.
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia, dan petir yang mengenai mukosa, dan jaringan yang lebih dalam.
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak mata dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, radiasi, juga oleh sebab kontak dengan suhu rendah.
EPIDIMIOLOGI
Perawatan luka bakar mengalami perbaikan/kemajuan dalam dekade terakhir ini, yang mengakibatkan menurunnya angka kematian akibat luka bakar. Pusat-pusat perawatan luka bakar telah tersedia cukup baik, dengan anggota team yang menangani luka bakar terdiri dari berbagai disiplin yang saling bekerja sama untuk melakukan perawatan pada klien dan keluarganya.
Di Amerika kurang lebih 2 juta penduduknya memerlukan pertolongan medik setiap tahunnya untuk injuri yang disebabkan karena luka bakar. 70.000 diantaranya dirawat di rumah sakit dengan injuri yang berat. Luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur. Laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut usia ( diatas 70 th).
ETIOLOGI
Luka bakar dikategorikan menurut mekanisme injurinya meliputi :
- Luka Bakar Termal : Luka bakar thermal (panas) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak dengan api, cairan panas atau objek-objek panas lainnya
- Luka Bakar Kimia : Luka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau basa kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat terjadi misalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia.
- Luka Bakar Elektrik : Luka bakar electric (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh.
- Luka Bakar Radiasi : Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar radiasi.
FAKTOR PREDISPOSISI
- Kecelakaan kerja
- Pemakaian kosmetik berbahan kimia berbahaya
- Kelalaian saat bekerja
- Akibat berjemur
PATOFISIOLOGI
Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein atau ionisasi sel. Kulit dan mukosa saluran nafas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam, termasuk organ visera, dapat mengalami kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama dengan agens penyebab ( burning agent ). Nekrosis dan kegagalan organ dapat terjadi.
Dalamnya luka bakar tergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya kontak dengan agen tersebut. Sebagai conth, pada kasus luka bakar tersiram air panas pada orang dewasa, kontak selama 1 detik dengan air yang panas dari shower dengan suhu 68,90C dapat menimbulkan luka bakar yang merusak epidermis serta dermis sehingga terjadi cedera derajat- tiga ( fullthickness injury ). Pajanan selama 15 menit dengan air panas yang suhunya sebesar 56,10C mengakibatkan cedera full-thickness yang serupa. Suhu yang kurang dari 440C dapat ditoleransi dalam periode waktu yang lama tanpa menyebabkan luka bakar.
KLASIFIKASI
Fase Luka Bakar
A. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik
B. Fase sub akut.
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:
- Proses inflamasi dan infeksi.
- Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.
- Keadaan hipermetabolisme.
C. Fase lanjut.
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.
Klasifikasi luka bakar
Untuk membantu mempermudah penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan, luka bakar diklasifikasikan berdasarkan penyebab, kedalaman luka, dan keseriusan luka, yakni :
- Berdasarkan penyebab
- Luka bakar karena api
- Luka bakar karena air panas
- Luka bakar karena bahan kimia
- Laka bakar karena listrik
- Luka bakar karena radiasi
- Luka bakar karena suhu rendah (frost bite).
- Berdasarkan kedalaman luka bakar
- Luka bakar derajat I
- Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis
- Tampak merah dan kering seperti luka bakar matahari
- Tidak dijumpai bulae
- Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari
- Luka bakar derajat II
- Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.,/li>
- Dijumpai bulae.
- Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.
- Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal.
Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :- Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.
Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari. - Derajat II dalam (deep)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.
Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.
- Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam.
Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
Tidak dijumpai bulae.
Kulit yang terbakar berwarna putih hingga merah, coklat atau hitam
Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.
Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.
Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka.
- Luka bakar derajat I
- Berdasarkan tingkat keseriusan luka
American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori, yaitu:- Luka bakar mayor
- Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak.
- Luka bakar fullthickness lebih dari 20%.
- Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
- Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka.
- Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi.
- Luka bakar moderat
- Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-anak.
- Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
- Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
- Luka bakar minor
Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak (1992) adalah :- Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak.
- Luka bakar fullthickness kurang dari 2%.
- Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki.
- Luka tidak sirkumfer.
- Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur.
- Luka bakar mayor
Sekitar 85% luka bakar bersifat ringan dan penderitanya tidak perlu dirawat di rumah sakit. Untuk membantu menghentikan luka bakar dan mencegah luka lebih lanjut, sebaiknya lepaskan semua pakaian penderita. Kulit segera dibersihkan dari bahan kimia (termasuk asam, basa dan senyawa organik) dengan mengguyurnya dengan air.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit jika:
- Luka bakar mengenai wajah, tangan, alat kelamin atau kaki
- Penderita akan mengalami kesulitan dalam merawat lukanya secara baik dan benar di rumah
- Penderita berumur kurang dari 2 tahun atau lebih dari 70 tahun
- Terjadi luka bakar pada organ dalam.
Luka bakar ringan
Jika memungkinkan, luka bakar ringan harus segera dicelupkan ke dalam air dingin. Luka bakar kimia sebaiknya dicuci dengan air sebanyak dan selama mungkin.
Di tempat praktek dokter atau di ruang emergensi, luka bakar dibersihkan secara hati-hati dengan sabun dan air untuk membuang semua kotoran yang melekat. Jika kotoran sukar dibersihkan, daerah yang terluka diberi obat bius dan digosok dengan sikat. Lepuhan yang telah pecah biasanya dibuang. Jika daerah yang terluka telah benar-benar bersih, maka dioleskan krim antibiotik (misalnya perak sulfadiazin).
Untuk melindungi luka dari kotoran dan luka lebih lanjut, biasanya dipasang verban. Sangat penting untuk menjaga kebersihan di daerah yang terluka, karena jika lapisan kulit paling atas (epidermis) mengalami kerusakan maka bisa terjadi infeksi yang dengan mudah akan menyebar. Jika diperlukan, untuk mencegah infeksi bisa diberikan antibiotik,
Untuk mengurangi pembengkakan, lengan atau tungkai yang mengalami luka bakar biasanya diletakkan/digantung dalam posisi yang lebih tinggi dari jantung.
Pembidaian harus dilakukan pada persendian yang mengalami luka bakar derajat II atau III, karena pergerakan bisa memperburuk keadaan persendian.
Mungkin perlu diberikan obat pereda nyeri selama beberapa hari. Pemberian booster tetanus disesuaikan dengan status imunisasi penderita.
Luka bakar berat
Luka bakar yang lebih berat dan membahayakan nyawa penderitanya harus segera ditangani, sebaiknya dirawat di rumah sakit. Kepada korban kebakaran biasanya diberikan oksigen melalui sungkup muka (masker) untuk membantu menghadapi efek dari karbon monoksida (gas beracun yang sering terbentuk di lokasi kebakaran). Di ruang emergensi, dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi pernafasan, luka lainnya di tubuh serta dilakukan pengobatan untuk menggantikan cairan yang hilang dan untuk mencegah infeksi. Untuk mengobati luka bakar yang berat kadang digunakan terapi oksigen hiperbarik, dimana penderita ditempatkan dalam ruangan khusus yang mengandung oksigen bertekanan tinggi.
Jika terjadi cedera pada saluran udara dan paru-paru akibat kebakaran, untuk membantu fungsi pernafasan bisa dipasang sebuah selang yang dimasukkan ke dalam tenggorokan.
Selang tersebut perlu dipasang jika cedera menimpa wajah atau jika pembengkakan pada tenggorokan menyebabkan terganggunya fungsi pernafasan. Jika tidak terjadi gangguan pada sistem pernafasan maka yang perlu dilakukan hanya memberikan oksigen tambahan melalui sungkup muka. Setelah daerah yang terluka dibersihkan, lalu dioleskan krim atau salep antibiotik dan dibungkus dengan verban steril.
Verban biasanya diganti sebanyak 2-3 kali/hari. Luka bakar yang luas sangat rentan terhadap infeksi berat karena itu biasanya diberikan antibiotik melalui infus. Mungkin perlu diberikan booster tetanus.
Luka bakar luas bisa menyebabkan hilangnya cairan tubuh, karena itu untuk menggantikannya diberikan cairan melalui infus. Luka bakar dalam bisa menyebabkan mioglonulinuria, yaitu suatu keadaan dimana protein mioglobulin dilepaskan dari otot yang rusak dan menyebabkan kerusakan ginjal. Jika tidak segera diberikan cairan yang memadai, bisa terjadi kegagalan ginjal.Kulit yang terbakar akan membentuk permukaan yang keras dan tebal yang disebut eskar, yang bisa menyebabkan terhalangnya aliran darah ke daerah tersebut. Untuk mengurangi ketegangan pada jaringan yang sehat dibawahnya, biasanya dilakukan eskarotomi (pemotongan eskar). Jika luasnya tidak lebih dari uang logam 50 sen dan terjaga kebersihannya, luka bakar yang dalampun bisa pulih dengan sendirinya. Tetapi jika lapisan kulit dibawahnya mengalami kerusakan yang luas, biasanya perlu dilakukan pencangkokkan kulit (skin graft).
Diperlukan waktu yang lama untuk pemulihan luka bakar yang berat, kadang sampai bertahun-tahun, karena itu penderita bisa mengalami depresi berat sehingga dukungan moril sangat diperlukan dari orang-orang di sekelilingnya.
Cara Teknik Bedah FAM Fibro Adenoma Mammae
Cara Teknik Bedah FAM Fibro Adenoma Mammae - PROSEDUR TINDAKAN, ASKEP BEDAH, MAKALAH KEPERAWATAN | askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting tentang ( Baca : Askep / Asuhan Keperawatan Ca / Cancer / Kanker / Carsinoma / Tumor Rectie )
Sekilas Tentang Fibro Adenoma Mammae - FAM
Fibro Adenoma Mammae (FAM) adalah tumor jinak dari kelenjar dan jaringan ikat pada payudara. FAM yang tumbuh dipayudara akan teraba sebagai benjolan bulat yang memiliki batas tegas.
Fibro Adenoma Mammae (FAM) mudah digerakan (mobile), konsistensi padat dan kenyal, kadang-kadang terasa nyeri bila ditekan.
Penatalaksanaan Pembedahan Fibro Adenoma Mammae (FAM)
Sebelum pembedahan /operasi dimulai, Instrumentator yang handal telah menyiapkan segala kebutuhan operasi. Seperti, menata instrumen dengan benar dan menyediakan kebutuhan operasi, sebagai berikut :
Persiapan Instrumen Bedah pada Pembedahan Fibro Adenoma Mammae (FAM)
- Clamp lurus kecil 2 buah
- Clamp bengkok kecil 2 buah
- Clamp bengkok sedang 2 buah
- Allys 1 buah
- Needle holder 2 buah
- Towel clips 4 buah
- Tangkai pisau No. 20 atau 22 sebanyak 1 buah
- Gunting jaringan 1 buah
- Gunting benang 1 buah
- Hak / Eyelide 2 buah
- Nierbeken 1 buah
- Kom betadine 1 buah
- Desinfektan forcep 1 buah
(Perhatian..!! : Biasanya alat/instrumen diatas sudah diset dalam satu paket, pelabelan atau nama set berbeda tiap Rumah Sakit / tergantung dari Rumah Sakit setempat)
Cara Kerja / Teknik Pembedahan Fibro Adenoma Mammae (FAM)
Setelah pasien dilakukan Anestesi / pembiusan
- Atur posisi pasien telentang dengan punggung diganjal dengan botol cairan infus agar payudara / lokasi FAM membumbung kedepan.
- Tandai lokasi sayatan dengan spidol atau pulpen
- Team Work cuci tangan
- Pasang jas operasi dan sarung tangan sesuai protap
- Lokasi FAM di disinfeksi secara melingkar dengan betadine
- Tutupi seluruh tubuh pasien dengan kain steril, pasang duk besar dan duk kecil sehingga yang tampak lokasi yang akan disayat / lokasi FAM
- Bersihkan sisa betadine yang menempel di kulit dengan qaas alkohol
- Sebelum penyayatan dimulai, Uji efek anestesi dengan pinset chirurgi, jika rasa nyeri telah hilang, penyayatan siap dilakukan.
- Gunakan pisau operasi no : 20-22
- Kendalikan perdarahan dengan dram qaas dan jepit ujung pembuluh darah yang terputus dengan clamp bengkok, kemudian bisa digunakan elektrik cauter untuk koagulasi atau ikat ujung pembuluh darah dengan benang silk 2/0 atau plain 2/0.
- Kuak lokasi sayatan dengan Eyelide ( mengangakan daerah subkutis, sehingga terlihat FAM yang akan diangkat)
- Fiksasi FAM dengan Allys
- Bebaskan FAM dari jaringan sekitar dengan gunting atau dengan elektrik cauter, sewaktu pembebasan dengan gunting, Allys berfungsi untuk mengangkat FAM yang telah terfiksasi.
- Setelah FAM dibebaskan dan terangkat dari sarangnya, jika ada perdarahan hentikan dengan kiat pada poin ke 11 diatas
- Jahit jaringan bekas FAM dengan benang cromich 2/0
- Jika diperlukan, pasang drain untuk mengontrol perdarahan
- Jahit sub kutis dengan plain 2/0
- Jahit cutis / kulit dengan teknik subkutikuler menggunakan benang plain 4/0 atau vicril 4/0 atau dengan premilene 4/0 cutting non atraumatik.
- Setelah luka terjahit dengan rapi sampai ke kulit, maka bekas luka ditutup dengan qaas tambah betadine dan di fiksasi dengan plester.
- Pasien dirapikan dan dirawat di Recovery Room (Ruang Sadar).
Oleh : Anton Wijaya : Instrumentator Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Adnaan WD.
Demikian posting tentang Cara Teknik Bedah FAM Fibro Adenoma Mammae, semoga membantu...!!
Sumber posting asli : http://medianers.blogspot.com/2012/02/teknik-pembedahan-fibro-adenoma-mammae.html
Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal
Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal - kapukonline.com | ASKEP ANAK
Definisi / Pengertian Malformasi Anorektal
Malformasi anorektal (anus imperforate) ialah suatu malformasi kongenital dimana rektum tidak mempunyai jalan keluar. Jadi pada kasus ini anus tertutup sama sekali dan tebalnya bagian yang tertutup ini bermacam-macam.
Klasifikasi Malformasi Anorektal
Terdapat 3 macam bentuk anus imperforate :
- Anomali tinggi (Supralevator) : Rektum berakhir diatas M.Levat0r ani (M.Puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum > 1 cm. Letak supralevator biasanya disertai dengan fistel kesaluran kencing atau kesaluran genital
- Anomali Intermediate : Rektum terletak pada M.Levator ani tapi tidak menembusnya
- Anomali Rendah : Rektum berakhir dibawah >Levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.
Etiologi Malformasi Anorektal
Penyebabnya tidak diketahui. Tidak ada faktor resiko jelas yang mempengaruhi seorang anak dengan anus imperforata. Tetapi, hubungan genetik terkadang ada. Paling banyak kasus anus imperforata jarang tanpa adanya riwayat keluarga, tetapi beberapa keluarga memiliki anak dengan malformasi.
Patofisiologi Malformasi Anorektal
Embriogenesis malformasi ini tidak jelas. Rectum dan anus berkembang dari bagian dorsal usus atau ruang cloaca ketika mesenchym bertumbuh ke dalam membentuk septum anorectum pada midline. Septum ini memisahkan rectum dan canalis anus secara dorsal dari vesica urinaria dan uretra. Ductus cloaca adalah penghubung kecil antara 2 usus. Pertumbuhan ke bawah septum urorectalis menutup ductus ini selama 7 minggu kehamilan.
Selama itu, bagian ventral urogenital berhubungan dengan dunia luar; membran analis dorsalis terbuka kemudian. Anus berkembang dengan penyatuan tuberculum analis dan invaginasi external, diketahui sebagai proctodeum, yang mengarah ke rectum tetapi terpisah oleh membran anal. Membran pemisah ini akan terpisahkan pada usia 8 minggu kehamilan.
Gangguan perkembangan struktur anorectum pada tingkat bermacam-macam menjadi berbagai kelainan, berawal dari stenosis anus, anus imperforate, atau agenesis anus dan gagalnya invaginasi proctodeum. Hubungan antara tractus urogenital dan bagian rectum menyebabkan fistula rectourethralis atau rectovestibularis.
Tanda dan Gejala Malformasi Anorektal
Secara klinik pada bayi ditemukan tidak adanya mekonium yang keluar dalam waktu 24-48 jam setelah kelahiran atau tidak tampak adanya lubang anus. Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan pemasukan thermometer melalui anus.
Tindakan ini tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tetapi juga untuk mengetahui apakah terdapat anus imperforata atau tidak. Bila anus terlihat normal dan terdapat penyumbatan yang lebih tinggi dari perineum maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam, berupa perut kembung, muntah, tidak bisa buang air besar dan ada yang mengeluarkan tinja dari vagina atau ureter.
Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Malformasi Anorektal
- Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostic yang umum dilakukan pada gangguan ini
- Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium
- Pemeriksaan sinar-X lateral inverse (teknik Wangensteen-Rice) dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada atau di dekat perineum; dapat menyesatkan jika rectum penuh dengan mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal
- Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rectal
- Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan cara menusukkan jarum tersebut sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm, defek tersebut dianggap sebagai defek tingkat tinggi
Komplikasi Malformasi Anorektal
Semua pasien yang mempunyai malformasi anorectal dengan komorbiditas yang tidak jelas mengancam hidup akan bertahan. Pada lesi letak tinggi, banyak anak mempunyai masalah pengontrolan fungsi usus dan juga paling banyak menjadi konstipasi. Pada lesi letak rendah, anak pada umumnya mempunyai control usus yang baik, tetapi masih dapat menjadi konstipasi.
Komplikasi operasi yang buruk berkesempatan menjadi kontinensia primer, walaupun akibat ini sulit diukur. Reoperasi penting untuk mengurangi terjadinya kontinensia. Kira-kira 90% anak perempuan dengan fistula vestibulum, 80% anak laki-laki dengan fistula ureterobulbar, 66% anak laki-laki dengan fistula ureteroprostatic, dan hanya 15% anak laki-laki dengan fistula bladder-neck mempunyai pergerakan usus yang baik. 76% anak dengan anus imperforata tanpa fistula mempunyai pergerakan usus yang baik.
Selain itu, komplikasi lain yang dapat muncul yaitu :
- Asidosis hiperkloremia
- Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
- Komplikasi jangka pendek :
- Eversi mukosa anal
- Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
- Masalah atau kelambatan yang baerhubungan dengan toilet training
- Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
- Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten)
- Fistula kambuhan (karena tegangan di area pembedahan dan infeksi).
Penatalaksanaan / Pengobatan Malformasi Anorektal
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan defek. Semakin tinggi lesi, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk anomaly tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir. Bedah definitifnya, yaitu anoplasti perineal (prosedur penarikan perineum abdominal), umumnya ditunda 9-12 bulan.
Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah baik status nutrisinya. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong rectal melalui sfingter sampai lubang pada kulit ananl. Fistula, bila ada harus ditutup. Defek membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal. Membran tersebut dilubangi dengan hemostat atau scalpel.
Pada kebanyakan kasus, pengobatan malformasi anorektal memerlukan dua tahap tindakan pembedahan. Untuk defek ringan sampai sedang, prognosisnya baik. Defeknya dapat diperbaiki, peristalsis dan kontinensia normal juga dapat diperolah. Defek yang lebih berat umumnya disertai anomaly lain, dan hal tersebut akan menambah masalah pada hasil tindakan pembedahan. Anus imperforata biasanya memerlukan operasi sedang untuk membuka pasase feses.
Tergantung pada beratnya imperforate, salah satu tindakan adalah anoplasti perineal atau colostomy : prosedur operasi termasuk menghubungkan bagian atas colon dengan dinding anterior abdomen, pasien ditinggalkan dengan lubang abdomen disebut stoma. Lubang ini dibentuk dari ujung usus besar melalui insisi dan sutura ke kulit.
Setelah colostomy, feses dibuang dari tubuh pasien melalui stoma, dan terkumpul dalam kantong yang melekat pada abdomen yang diganti bila perlu. Pengobatan pada anus malformasi anorektal juga dapat dilakukan dengan jalan operasi PSARP (Posterio Sagital Anorectoplasy). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien.
Teknik ini merupakan ganti dari teknik lama yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT). Teknik lama ini mempunyai resiko gagl tinggi karena harus membuka dinding abdomen

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Askep Malformasi Anorektal
- Lakukan pengkajian kepatenan lubang anal pada bayi baru lahir
- Observasi adanya pasase mekonium. Perhatikan bila mekonium tampak pada orifisium yang tidak tepat.
- Observasi feses yang seperti karbon pada bayi yang lebih besar atau anak kecil yang mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi abdomen
- Bantu dengan prosedur diagnostik mis : endoskopi, radiografi
Dioagosa Keperawatan Askep Malformasi Anorektal
- Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan. intake tidak adekuat
- Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
- Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan rectum
- Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
- Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
- Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
- Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi
Intervensi Keperawatan Askep Malformasi Anorektal
- Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat
- Tujuan : Mempertahankan Berat Badan stabil / menunjukkan kemajuan peningkatan Berat Badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
- Intervensi Keperawatan :
- Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi selang bila terjadi perubahan posisi.
Rasional : Memberikan istirahat pada traktus GI. Selama fase pasca operasi akut sampai kembali berfungsi normal - Berikan perawatan oral secara teratur
Rasional : Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah - Kolaborasi pemberian cairan IV,
Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai - Awasi pemeriksaan laboratorium. Misalnya Hb / Ht dan elektrolit.
Rasional : Indikator kebutuhan cairan / nutrisi dan keaktifan terapi dan terjadinya konstipasi.
- Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi selang bila terjadi perubahan posisi.
- Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
- Tujuan :
- Menyatakan nyeri hilang
- Menunjukkan rileks, mampu tidur, dan istirahat dengan tepat
- Intervensi Keperawatan :
- Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri
Rasional : Membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi - Catat petunjuk nonverbal. Mis: gelisah, menolak untuk bergerak
Rasional : Bahasa tubuh / petunjuk non verbal dapat secara prikologis dan fisiologis dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi masalah - Kaji faktor-faktor yang dapat meningkatkan / menghilangkan nyeri
Rasional : Menunjukkan faktor pencetus dan pemberat dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi - Berikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi dan
Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan perhatian, dan meningkatkan koping - Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Memudahkan istirahat dan menurunkan rasa sakit
- Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri
- Tujuan :
- Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan rectum
- Tujuan :
- Menormalkan fungsi usus
- Mengeluarkan feses melalui anus
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja
Rasional : Memperoleh informasi tentang kondisi usus - Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus
Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus menunjukkan fungsi defekasi hilang - Berikan enema jika diperlukan
Rasional : Mungkin perlu untuk menghilangkan distensi
- Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja
- Tujuan :
- Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
- Tujuan: Pola nafas efektif, tidak ada gangguan pernafasan
- Intervensi Keperawatan :
- Observasi frekuensi / kedalaman pernafasan
Rasional : Nafas dangkal, distress pernafasan, menahan nafas, dapat menyebabkan hipoventilasi - Dorong latihan napas dalam
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru maksimal dan alat pembersihan jalan napas, sehingga menurunkan resikoatelektasis - Berikan oksigen tambahan
Rasional : memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan peningkatan kerja nafas - Tinggikan kepala tempat tidur 300
Rasional : Mendorong pengembangan diafragma / ekspansi paru optimal dan meminimalkan isi abdomen pada rongga thorax
- Observasi frekuensi / kedalaman pernafasan
- Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
- Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi
- Intervensi Keperawatan :
- Observasi luka, catat karakteristik drainase
Rasional : Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja - Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik
Rasional : Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi - Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali
Rasional : Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi praap / post op
- Observasi luka, catat karakteristik drainase
- Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
- Tujuan:
- Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi
- Menerima perubahan kedalam konsep diri
- Intervensi Keperawatan :
- Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa - Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan
Rasional : Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih kuat - Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan berpartisipasi dan perawatan
Rasional : Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk memperbaiki kepercayaan diri - Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang stoma
Rasional : Membantu dalam menerima kenyataan - Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien
Rasional : Meningkatkan kontrol dan harga diri - Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan
Rasional : Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada tubuhnya
- Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya
- Tujuan:
- Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi
- Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / proses penyakit, tindakan dan prognosis
- Intervensi Keperawatan :
- Tentukan persepsi anak tentang penyakit
Rasional : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu - Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis
Rasional : Meningkatkan pemahaman dan kerjasama - Tekankan pentingnya perawatan kulit pada orang tua
Rasional : Menurunkan penyebaran bakteri
- Tentukan persepsi anak tentang penyakit

Bagan penatalaksanaan bayi dengan malformasi anorektal
Demikian posting tentang Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal, semoga bermanfaat dan silahkan Share dengan teman-teman anda .... !!
Proses Keperawatan Askep Osteomalacia
Proses Keperawatan Askep Osteomalacia - Askep kapukonline.com update Askep / Asuhan Keperawatan Proses Keperawatan Askep Osteomalacia - ASKEP TULANG. Posting ini lanjutan dan tidak terpisahkan dari posting sebelumnya (Baca : Konsep Dasar Teori Askep Osteomalacia)
Pengkajian
Pasien dengan osteomalasia biasanya mengeluh nyeri tulang umum pada punggung bawah dan ekstremitas disertai nyeri tekan. Gambaran ketidaknyamanan tidak jelas. Pasien mungkin datang dengan fraktur. Selama wawancara informasi mengenai riwayat penyakit dan kebiasaan diet harus dikaji.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan deformitas skelet, vertebra, dan lengkungan tulang panjang membuat penampakan pasien menjadi tidak normal dan jalannya seperti bebek. Dapat terjadi kelemahan otot. Pasien merasa tidak nyaman dengan penampilannya.
Diagnosa keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, maka diagnosa keperawatan utama dapat meliputi :
- Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinguitas jaringan tulang, nyeri tekan tulang dan kemungkinan fraktur
- Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit dan program tindakan
- Gangguan konsep diri b/d tungkai melengkung, jalan bebek, deformitas vertebra
Intervensi keperawatan
- Meredakan nyeri
- Karena pasien mengalami nyeri dan nyeri tekan skelet, maka pada saat memberikan bantuan harus dilakukan dengan cara yang sangat lembut ketika pasien ingin merubah posisi.
- Perubahan posisi yang sering dapat mengurangi ketidaknyamanan karena imobilisasi. Kasur busa yang padat dan bantal lembut dapat memberikan dukungan tubuh dan memberi kenyamanan pada deformasi yang ada.
- Aktivitas diversional dan pemusatan pada pembicaraan, televisi, dan kegiatan santai lainnya dapat menurunkan persepsi nyeri pasien.
- Pada saat-saat tertentu kolaborasi pemberian analgetik sesuai instruksi dokter
- Pemahaman proses penyakit dan program tindakan
- Health Education pada pasien difokuskan pada penyebab osteomalasia dan pendekatan untuk mengontrolnya. Pasien diberi instruksi mengenai sumber kalsium dan vitamin D (misalnya susu dan sereal, telur hati ayam dll)
- Keamanan penggunaan suplemen harus dikaji ulang karena vitamin D dosis tinggi sangat toksis dan meningkatkan risiko hiperkalsemia, maka perlu pemantauan kadar kalsium serum.
- Memberi dorongan aktivitas di luar rumah untuk memajankan kulit pada sinar ultraviolet matahari yang diperlukan untuk memproduksi vitamin D dalam tubuh
- Memperbaiki konsep diri
- Dorong pasien untuk mengenali dan menggunakan kekuatan yang dimiliki dan dimasukkan dalam perencanaan asuhan keperawatan.
- Dorong interaksi dengan keluarga dan sahabat. Interaksi sosial dapat membantu memberikan rasa diterima tanpa memperhatikan perubahan fisik yang terjadi.
Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
- Mengalami peredaan nyeri
- Melaporkan perasaan nyaman
- Melaporkan peredaan nyeri tekan tulang
- Menjelaskan proses penyakit dan program penanganan
- Menerangkan faktor spesifik yang berperan dalam proses penyakit
- Mengkomsumsi kalsium dan vitamin D sesuai diet yang dianjurkan
- Pemajanan pada sinar matahari
- Selalu mengontrol kadar kalsium serum sepanjang program terafi
- Selalu menepati ketentuan kesehatan tindak lanjut
- Menunjukkan peningkatan konsep diri
- Menunjukkan kepercayaan diri mengenai kemampuannya
- Meningkatkan tingkat aktivitasnya
- Meningkatkan interaksi sosial
DAFTAR FUSTAKA
- Bagio H. 1995. Perbedaan osteoporosis dengan penyakit muskuloskletal lainnya ,Sub bagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr.Cipto M Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Angunkusumo: Jakarta
- Brunner & Suddarth.2002. Buku Ajar Medikal Bedah Vol 1 Ed 8. Jakarta: EGC
- Doenges. E.M.200. Rencana Asuhan Keperawatan Ed 3. Jakarta: EGC
- Hilmansyah H. : Tumbuh Sehat edisi:nomor 431 tahun IX Pugoeh
Demikian Posting tentang Proses Keperawatan Askep Osteomalacia. Apabila makalah ini bermanfaat, silahkan share keteman-teman anda dengan meng-klik banner di bawah
Konsep Dasar Teori Askep Osteomalacia
Konsep Dasar Teori Askep Osteomalacia - Askep kapukonline.com update Askep / Asuhan Keperawatan Konsep Dasar Teori Askep Osteomalacia - ASKEP TULANG
Pengertian
Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak memadainya mineralisasi tulang. Pada orang dewasa osteomalasia bersifat kronis dan deformitasnya skeletalnya tidak seberat pada anak-anak karena pertumbuhan skeletalnya telah selesai.
Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.
Etiologi
Diperkirakan bahwa defek primernya adalah kekurangan vitamin D aktif (kalsitrol), sebagai akibat kegagalan mineralisasi terjadilah perlunakan dan perlemahan kerangka tubuh, menyebabkan nyeri, nyeri tekan skelet,dan perlengkungan tulang sertakarena fraktur patologi.
Penyebab utama osteomalasia yang terjadi setelah masa anak-anak ialah :
- Menurunnya penyerapan vitamin D akibat penyakit bilier, penyakit mukosa usus halus proksimal dan penyakit ileum.
- Peningkatan katabolisme vitamin D akibat obat yang menyebabkan peningkatan kerja enzim-enzim oksidase hati.
- Gangguan tubulus renalis yang disertai terbuangnya fosfat
Patofisiologi
Ada berbagai kasus osteomalasia yang terjadi akibat gangguan umum metabolism mineral. Faktor risiko terjadimya osteomalasia meliputi kekurangan dalam diet, malabsobsi, gastrektomi, gagal ginjal kronik, terafi antikonvulsan berkepanjangan (fenitoin, fenobarbital), dan kekurangan vitamin D.
Tipe malnutrisi ( kekurangan asupan vitamin D sering berhubungan dengan asupan kalsium jelek) terutama akibat kemiskinan, tapi memakan makanan dan kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi juga merupakan salah satu faktor. Selain itu juga akibat kurangnya terpajang sinar matahari.
Oateomalasia dapat pula terjadi sebagai akibat kegagalan absobsi kalsium atau kehilangan kalsium berlebihan dari tubuh. Kelainan gastrointestinal dimana absorbsi lemak tidak memadai sering menimbulkan osteomalasia melalui kehilangan vitamin D ( bersama dengan vitamin yang larut lemak lainnya) dan kalsium, kalsium disekresi melalui feces dalam kombinasi dengan asam lemak. Kelainan ini meliputi penyakit seliak, obstruksi traktus biliaris kronik, pankreatitis kronik dan reseksi usus halus.
Gagal ginjal berat mengakibatkan asidosis, kalsium yang tersedia dipergunakan menetralkan asidosis, dan hormon paratiroid terus menyebabkan pelepasan kalsium dari kalsium skelet sebagai usaha untuk mengembalikan pH fisiologis. Selama pelepasan kalsium skelet terus-menerus ini, terjadi fibrosis tulang dan kista tulang. Glumerulonefritis kronik, uropati obstruksi dan keracunan logam berat mengakibatkan berkurangnya kadar fosfat serum dan demeneralisasi tulang.
Penyakit hati dan ginjal pun dapat mengakibatkan kekurangan vitamin D karena keduanya merupakan organ yang melakukan konversi vitamin D kebentuk aktif. Akhirnya hiperparatiroidisme mengakibatkan deklasifikasi skelet dan artinya osteomalasia dengan peningkatan ekskresi fosfat dalam urine.
Manifestasi klinik
Gejala yang paling sering dan paling mencemaskan pada osteomalasia adalah nyeri tulang dan nyeri tekan tulang. Sebagai kekurangan kalsium biasanya terjadi kelemahan otot. Pasien akan mengalami cara jalan bebek atau pincang. Pada penyakit yang telah lanjut tungkai jadi melengkung karena tarikan otot dan berat tubuh. Vertebra yang melunak mengalami konpresi sehingga mengalami pemendekan tinggi badan dan merusak bentuk thorax ( kifosis).
Sakrum terdorong ke bawah dan ke depan sedangkan pelvis tertekan kelateral. Kedua deformitas tersebut menerangkan bentuk khas pelvis yang sering mengakibatkan perlunya dilakukan seksio seraria pada wanita hamil yang terkena penyakit ini. Kelemahan dan ketidak seimbangan mengakibatkan resiko jatuh dan fraktur.
Pemeriksaan penunjang
Pada foto X-ray jelas terlihat demineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan vertebra memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang jelas.
Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar kalsium fosfor yang rendah dan peningkatan moderat kadar alkali fosfatase. Kalsium urine dan ekskresi kreatinin rendah.
Sementara pada biopsi tulang menunjukkan peningkatan jumlah osteoid.
Penatalaksanaan
Berikut penanganan yang biasanya dilakukan pada penderita osteomalasia berdasarkan penyebabnya :
- Jika kekurangan kalsium.
Jalan satu-satunya memperbanyak konsumsi unsur kalsium sehingga memperkuat kerja sel osteoblas (pembentuk tulang). Oleh sebab itu, makanan seperti sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan teri, daging, yogurt, sangatlah disarankan. Suplemen kalsium dapat ditambahkan baik yang berbentuk sirup atau tablet dengan konsumsi 1,5 gram per hari. Kekurangan kalsium juga menyebabkan mudah mengalami kram pada otot tangan dan kaki serta terganggunya tekanan darah. - Jika kekurangan vitamin D.
Perbanyak mengonsumsi makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Bisa juga dengan sering berjemur di bawah sinar matahari karena akan membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh. Waktu yang tepat untuk berjemur sekitar pukul 7 - 9 pagi dan sore pada pukul 16 -17. Berjemur di luar waktu tersebut justru berbahaya karena matahari banyak mengeluarkan sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker kulit dan katarak. - Jika karena gangguan ginjal atau hati
Langkah pertama adalah menyembuhkan dulu gangguan/penyakit tersebut. Biasanya terapi yang dilakukan lebih lama karena gangguan ginjal maupun hati mengganggu metabolisme penyerapan kalsium. - Jika karena pengaruh atau efek samping dari obat-obatan seperti steroid Maka konsumsi obat itu harus segera dikurangi atau kalau bisa diganti dengan obat yang bisa menyerap kalsium.
- Jika sudah telanjur mengalami patah tulang.
Mau tak mau harus dilakukan tindakan seperti gips untuk patah tulang di bagian lengan. Kalau patah tulang di bagian tungkai atau tulang paha dilakukan dengan biopsi. Berbeda patah tulang pada anak-anak relatif mudah tersambung kembali, yakni sekitar tiga bulanan. Tindakan selanjutnya upaya rehabilitasi atau fisioterapi untuk melatih kemampuan atau keterampilan gerak. Misalnya, melatih keseimbangan duduk, berdiri, dan berjalan.
Posting ini berlanjut tentang (Baca : Proses Keperawatan Askep Osteomalacia)
Demikian Posting tentang Konsep Dasar Teori Askep Osteomalacia. Apabila makalah ini bermanfaat, silahkan share keteman-teman anda dengan meng-klik banner di bawah
Askep Asuhan Keperawatan Post Hiperparatyroidectomy
Askep / Asuhan Keperawatan Klien dengan Post Hiperparatyroidectomy - ASKEP BEDAH / THT, yang sebelumnya posting ( Baca : Askep / Asuhan Keperawatan Angiofibroma Nasofaringbelia )
I. PENGERTIAN
Hipoparatyroidisme adalah hiposekresi kelenjar paratyroid yang menimbulkan syndroma berlawanan dengan hiperparatyroid, konsentrasi kalsium rendah tetapi phosfatnya tinggi dan bisa menimbulkan tetani akibat dari pengangkatan atau kerusakan kelenjar paratyroid (Tjahjono, 1996)
II. ETIOLOGI
- Pengangkatan kelenjar paratyroid akibat pengangkatan tyroidektomi.
- Terjadi sumbatan pada kelenjar tyroid akibat dari peredaran darah yang tidak adekuat.
III. PATOFISIOLOGI
Hipoparatyroidisme (rendahnya kadar PTH) merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan hipokalsemia, yang secara klinik akan mengakibatkan tetani. Dalam keadaan normal, kadar kalsum dalam plasma adalah 2,3 – 2,6 mmol. Hiperkalsemia sampai 3.00 mmol/l, masih belum menimbulkan gejala. Demikian pula hipokalsemia derajat ringan (kalsium turun sampai 2.00 mmol/l ) masih belum menimbulkan gejala.
Terdapat 2 tanda klink utama untuk mendeteksi terdapatnya tetani, yaitu tanda chvostek dan tanda trousseau.
Penyebab umum adalah ikut terangkatnya kelenjar paratyrod pada saat tyroidektomi (angkanya berkisar 0 – 25 %). Penyebab lannya adalah ideopatik. Pemberian tera radioyodin terdapat kelainan kelenjar tyroid sering berpengaruh pula terhadap rendahnya hormon PTH.
Hipoparatyroidisme merupakan kelainan metabolik dengan gejala klink yang nyata, tetapi perubahan morfologik yang minimal. Terdapat abnormalitas biokimia (hipokalsemia dan hiperfosfatemia) dengan manifestasi klinik yang sangat luas. Yang menonjol adalah tetani, konvulsi, laringospasme (dapat menimbulkan anoksia yang fatal).
Hipokalsemia akan merangsang timbulnya manifestasi neuromuskuler, yaitu paraestesia dan kejang. Iritabilitas neuomuskuler ini dapat diperiksa dengan memeriksa ada tidaknya tanda chvostek (chvostek's sign). Disamping itu terdapat barbagai abnormaitas sistem saraf lainnya.
IV. PATHWAY POST HIPOPARATYROIDISME
- Download Pathway post hipoparatyroidektomy
V. MANIFESTAS KLINIK
- Konsentrasi kadar kalsium dalam darah menurun.
- Peningkatan serum fosfat dalam darah
- Peningkatan iritabilitas neromuskuler
- Nyeri otot
- Gemetar/tremor
- Lethargi
- Laringospasme
- Aritmia
- Kulit kering dan kuku mudah rusak
- Munculnya Chvostek's sign ( kejang otot wajah, hiperiritabilitas pada saraf wajah)
- Munculnya tanda trousseau's (kejang jari dan telapak tangan)
- Dari hasil pemeriksaan mata : tanda-tanda katarak.
VI. PENATALAKSANAAN MEDIS
- Memperbaiki konsentrasi serum kalsium
- Pencegahan terjadinya kejang
- Pengawasan terjadinya kejang laring (Laringospasme) dan obstruksi jalan nafas.
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Laboratorium
- Serum T3 T4
- Elekrolit darah
- Fosfat alkali
- Pemeriksaan fungsi hepar
- Ureum kreatinin
- Katekolamin serum.
- EKG
VIII. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
- Neurologis : Paraestesia, kesemutan, tremor, peka rangsang, kejang, adanya tanda Chvostek's/trousseou's, perubahan tingkat kesadaran.
- Muskoleskeletal : kekakuan dan kelelahan
- Kardiovaskuler : sianosis, palpitasi dan disritmia jantung
- Pernafasan : suara serak, stridor, edema laring
- Gastrointestinal : mual dan muntah
- Integumen : Kulit kering dan kuku keras/ kuku rapuh
IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
- Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan spasme/edema laring
- Tujuan : jalan nafas klien efektif
- Kriteria hasil :
- Suara nafas bersih
- Tidak apnoe
- Sputum dapat keluar dengan bak
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji kecepatan dan kedalaman pernafasan, catat penggunaan alat bantu pernafasan saat klien bernafas.
- Auskultasi suara nafas dan catat bila ada buny tambahan (krekles, ronchi dan wheezing)
- Beri posisi tidur semi fowler
- Lakukan sap lendir secara oral atau nasotrakeal bila ada indikasi
- Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk :
- Pemberian oksigen sesuai dengan program
- Pemberian bronkodilator
- Pemberian cairan parental
- Resiko cidera berhubungan dengan kejang akibat hipokalsemia
- Tujuan : Klien terhindar dari cidera
- Kriteria Hasil :
- Klien tidak cidera akibat rangsangan kejang
- Hasil elektrolit (khususnya kalsium pada batas normal)
- Klien tenang tidak kejang
- Intervensi Keperawatan :
- Tempatkan klien pada tempat tidur yang menggunakan pengaman dan di ruangan yang aman dan nyaman.
- Catat : waktu terjadinya kejang, lamanya, bagian tubuh yang kejang, dan gejala-gejala lain yang timbul selama kejang.
- Observas tanda-tanda vital setelah klien kejang
- Sediakan dekat tempat tidur klien spatel lidah dan gudel untuk mencegah lidah ke belakang apabila terjadi kejang.
- Observasi kadar elektrollit
- Observasi adanya depresi pernafasan dan gangguan irama jantung
- Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk :
- Pemberian anti konvulsi
- Pemberian obat untuk meningkatkan kalsium
- Pemberian Oksigen
- Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan adanya luka pembedahan dan pemasangan alat-alat medis
- Tujuan : Klien terhindar dari infeksi
- Kriteria Hasil :
- Suhu tubuh normal
- Hasil pemeriksaan leukosit pada batas normal
- Luka bersih dan kering, tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
- Intervensi Keperawatan :
- Rawat luka operasi, drain, kateter dan infus secara steril
- Ukur tanda-tanda vital, observasi adanya peningkatan suhu
- Batasi pengunjung untuk mencegah infeksi silang
- Anjurkan pengunjung untuk menggunakan pakaian khusus saat berkunjung
- Observas keadaan luka dan tanda-tanda adanya infeksi
- Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk :
- Pemeriksaan darah lengkap
- Pemberian antibotika.
- Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan trauma pita suara akibat operasi paratyroid
- Tujuan : Klien dapat berkomunikasi verbal secara bertahap.
- Kriteria Hasil :
- Klien dapat mengekspresikan perasaannya dan kebutuhannya dengan tulisan atau bahasa isyarat.
- Klien dapat memahami apa yang dijelaskan oleh perawat
- Kebutuhan klien dapat terpenuhi
- Intervensi Keperawatan :
- Bicara pelan-pelan dan jelas saat berkomunikasi dengan klien
- Tunjukkan rasa empati dan sabar saat berkomunikasi dengan klien
- Sediakan alat bantu tulisan abjad atau kertas dan alat tulis untuk berkomunikasi dengan klien
- Gunakan bahasa isyarat saat berkomunikasi dengan klien
- Upayakan agar perawat dapat mengerti saat klien mengekspresikan perasaan dan kebutuhannya
- Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
- Tujuan : Klien dapat beraktifitas secara bertahap
- Kriteria Hasil :
- Klien dapat memenuhi kebutuhan nutrisi, eliminasi dan personal hygiene secara mandiri
- Klien dapat melaksanakan aktifitas hariannya seperti semula.
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji tingkat ketidakmampuan klien
- Bantu aktifitas yang tidak dapat dilakukan sendiri (mandi, makan, minum, kebersihan diri / lingkungan dan eliminasi)
- Secara bertahab libatkan klien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari sesuai dengan kondisinya
- Buat jadual istirahat / aktifitas klien
- Kerja sama dengan keluarga untuk memenuhi kebutuhan klien.
DAFTAR PUSTAKA
- Elisabeth J. Corwin, (2001), Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC
- Marily E. Doengoes, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC
- S. harun, (1996), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, Balai Penerbit FK. UI.
- Tjahjono, (1996), Patologi Endoktrin, Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang
Demikian posting Askep Asuhan Keperawatan Post Hiperparatyroidectomy, semoga bermanfaat bagi anda...
Askep Angiofibroma Nasofaring Belia
Askep / Asuhan Keperawatan Angiofibroma Nasofaring Belia - ASKEP BEDAH. Posting yang berhubungan dengan ( Baca : Askep - Asuhan Keperawatan Morbus Basedow )
PENGERTIAN ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan remaja.
Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya ada laki-laki, biasanya selama masa prepubertas dan remaja. Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.
Angiofibroma Nasofaring Belia merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak dan 0,05% dari seluruh tumor kepala dan leher
ETIOLOGI ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Etiologi Angiofibroma Nasofaring Belia masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan. Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal
Secara histopatologi, Angiofibroma Nasofaring Belia termasuk tumor jinak, tetapi secara klinis ganas karena bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang. Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna.
Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid. Setelah mengisi nasofaring, Angiofibroma Nasofaring Belia meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak.
TANDA DAN GEJALA ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80-90%); merupakan gejala yang paling sering, diikuti epistaksis (45-60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala (25%); khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan gejala lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas pipi.
Angiofibroma Nasofaring Belia sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.
PENEGAKAN DIAGNOSIS ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos, CT scan, angiografi atau MRI. Dijumpai tanda Holman-Miller pada pemeriksaan x-foto polos berupa lengkungan ke depan dari dinding posterior sinus maksila.
Biopsi tidak dianjurkan mengingat resiko perdarahan yang masif dan karena teknik pemeriksaan radiologi yang modern sekarang ini dapat menegakkan diagnosis dengan tingkat ketepatan yang tinggi. Angiofibroma Nasofaring Belia dapat didiagnosis banding dengan polip koana, adenoid hipertrofi, dan lain-lain.
PENATALAKSANAAN ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Penatalaksanaan Angiofibroma Nasofaring Belia adalah dengan pembedahan; dimana 6-24% rekuren, stereotactic radioterapi; digunakan jika ada perluasan ke intrakranial atau pada kasus-kasus yang rekuren.
Penatalaksanaan Angiofibroma Nasofaring Belia adalah dengan pembedahan yang sering didahului oleh embolisasi intra-arterial 24-48 jam preoperatif yang berguna untuk mengurangi perdarahan selama operasi2,4,5. Material yang digunakan untuk embolisasi ini terdiri dari mikropartikel reabsorpsi seperti Gelfoam, Polyvinyl alcohol atau mikropartikel nonabsorpsi seperti Ivalon dan Terbal. Penggunaan embolisasi ini tergantung pada ahli bedah masing-masing.
KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan yang berlebihan dan transformasi maligna.
STADIUM ANGIOFIBROMA
Untuk menentukan perluasan tumor, dibuat sistem staging. Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch.
Klasifikasi menurut Sessions sebagai berikut :
- Stage I A : Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring
- Stage I B : Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal.
- Stage II A : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.
- Stage II B : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita.
- Stage III A : Mengerosi dasar tengkorak; perluasan intrakranial yang minimal.
- Stage III B : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus.
Klasifikasi menurut Fisch :
- Stage I : Tumor terbatas pada kavum nasi, nasofaring tanpa destruksi tulang.
- Stage II :Tumor menginvasi fossa pterygomaksila, sinus paranasal dengan destruksi tulang.
- Stage III :Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus.
- Stage IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus, chiasma optikum dan/atau fossa pituitary.
PENGKAJIAN ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
- Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara
- Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.
- Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan (daging dan ikan).
- Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)
TANDA dan GEJALA ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
- Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas. - Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah, epistaksis/perdarahan hidaung. - Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah. - Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen. - Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit. - Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus - Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan - Pernapasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok) - Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit. - Interaksi sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
(Doenges, 2000)
DIAGNOSA KEPERAWATAN dan INTERVENSI KEPERAWATAN ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
- Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi jaringan saraf
- Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
- Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri.
- Intervensi Keperawatan :
- Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi
- Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas hiburan.
- Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.
- Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol
- Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau campuran narkotik.
- Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder
- Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi
- Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan
- Intervensi Keperawatan :
- Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat.
- Orientasikan pasien terhadap lingkungan
- Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi
- Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur
- Bicara dengan gerak mulut yang jelas
- Bicara pada sisi telinga yang sehat
- Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah sekunder
- Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
- Kriteria hasil :
- Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah
- Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat
- Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab
- Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan
- Intervensi Keperawatan :
- Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan toleransi pasien
- Berikan dorongan higiene oral yang sering
- Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan
- Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji masukan dan haluaran.
- Pantau masukan makanan tiap hari
- Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)
- Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat.
- Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan kebisingan)
- Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder imunosupresi
- Tujuan : tidak terjadi infeksi
- Kriteria hasil :
- Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal
- Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri.
- Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah disfungsi dan infeksi respiratori
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi :
- Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam, menggigil, perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau rasa perih saat berkemih
- Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung, batasi pengunjung yang mengalami infeksi.
- Tekankan higiene personal
- Pantau suhu
- Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria)
- Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem hematopoetik
- Tujuan : perdarahan dapat teratasi
- Kriteria hasil :
- Tanda dan gejala perdarahan teridentifikasi
- Tidak menunjukkan adanya epistaksis
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit
- Kaji terhadap perdarahan : epsitaksis
- Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : minimalkan penekanan/ gesekan pada hidung
Kepustakaan
- Averdi R, Umar SD. Angiofibroma Nasofaring Belia. Dalam : Efiaty AS, Nurbaiti I. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 5, Jakarta : Balai Penerbit FK UI, 2001. 151-2.
- Adams GL, et al. Boies – Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997.
- Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
- Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
- R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
- Sadeghi N. Sinonasal Papillomas, Treatment. Available from URL : http://www.emedicine.com/ent/topic529.html
- Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001
- Tewfik TL. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Available from URL : http://www.emedicine.com/ent/topic470.html
Askep / Asuhan Keperawatan Tonsilitis
kapukonline.com Up date Askep / Asuhan Keperawatan Tonsilitis - ASKEP ANAK
A. DEFINISI TONSILITIS
Tonsilitis akut adalah peradangan pada tonsil yang masih bersifat ringan. Radang tonsil pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis. ( Ngastiyah,1997 )
B. ETIOLOGI TONSILITIS
Penyebab tonsilitis bermacam – macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini yaitu :
- Streptokokus Beta Hemolitikus
- Streptokokus Viridans
- Streptokokus Piogenes
- Virus Influenza
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah (droplet infections)
C. PROSES PATOLOGI TONSILITIS
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas, akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil.
Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara.
Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.
D. PATHWAYS TONSILITIS
E. MANIFESTASI KLINIS TONSILITIS
Tanda dan gejala tonsilitis akut adalah :
- Nyeri tenggorok
- Nyeri telan
- Sulit menelan
- Demam
- Mual
- Anoreksia
- Kelenjar limfa leher membengkak
- Faring hiperemis
- Edema faring
- Pembesaran tonsil
- Tonsil hiperemia
- Mulut berbau
- Otalgia (sakit di telinga)
- Malaise
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG TONSILITIS
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :
- Leukosit : terjadi peningkatan
- Hemoglobin : terjadi penurunan
- Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat
G. KOMPLIKASI TONSILITIS
Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah :
- Tonsilitis kronis
- Otitis media
H. PENATALAKSANAAN TONSILITIS
Penanganan pada klien dengan tonsilitis akut adalah :
- Penatalaksanaan medis
- Antibiotik baik injeksi maupun oral seperti cefotaxim, penisilin, amoksisilin, eritromisin dll
- Antipiretik untuk menurunkan demam seperti parasetamol, ibuprofen.
- Analgesik untuk meredakan nyeri
- Penatalaksanaan keperawatan
- Kompres dengan air hangat
- Istirahat yang cukup
- Pemberian cairan adekuat, perbanyak minum hangat
- Kumur dengan air hangat
- Pemberian diit cair atau lunak sesuai kondisi pasien
I. FOKUS PENGKAJIAN ASKEP TONSILITIS
- Keluhan utama
- Sakit tenggorokan, nyeri telan, demam dll
- Riwayat penyakit sekarang : serangan, karakteristik, insiden, perkembangan, efek terapi dll
- Riwayat kesehatan lalu
- Riwayat kelahiran
- Riwayat imunisasi
- Penyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang, ISPA, otitis media )
- Riwayat hospitalisasi
- Pengkajian umum
- Usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda – tanda vital dll
- Pernafasan
- Kesulitan bernafas, batuk
- Ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :
- T0 : bila sudah dioperasi
- T1 : ukuran yang normal ada
- T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
- T3 : pembesaran mencapai garis tengah
- T4 : pembesaran melewati garis tengah
- Nutrisi
- Sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan minum, turgor kurang
- Aktifitas / istirahat
- Anak tampak lemah, letargi, iritabel, malaise
- Keamanan / kenyamanan
- Kecemasan anak terhadap hospitalisasi
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN dan FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN TONSILITIS
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada Tonsilitis akut adalah :
- Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring dan tonsil
- Intervensi Keperawatan :
- Pantau suhu tubuh anak ( derajat dan pola ), perhatikan menggigil atau tidak
- Pantau suhu lingkungan
- Batasi penggunaan linen, pakaian yang dikenakan klien
- Berikan kompres hangat
- Berikan cairan yang banyak ( 1500 – 2000 cc/hari )
- Kolaborasi pemberian antipiretik
- Intervensi Keperawatan :
- Nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil
- Intervensi Keperawatan:
- Pantau nyeri klien(skala, intensitas, kedalaman, frekuensi)
- Kaji Tanda-tanda Vital
- Berikan posisi yang nyaman
- Berikan tehnik relaksasi dengan tarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkannya pelan – pelan melalui mulut
- Berikan tehnik distraksi untuk mengalihkan perhatian anak
- Kolaborasi pemberian analgetik
- Intervensi Keperawatan:
- Resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji conjungtiva, sclera, turgor kulit
- Timbang BB tiap hari
- Berikan makanan dalam keadaan hangat
- Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi seringsajikan makanan dalam bentuk yang menarik
- Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan
- Kolaborasi pemberian vitamin penambah nafsu makan
- Intervensi Keperawatan :
- Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
- Intervensi Keperawatan :
- Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
- Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas
- Monitor Tanda-tanda Vital sebelum, selama dan sesudah melakukan aktifitas
- Berikan lingkungan yang tenang
- Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi klien
- Intervensi Keperawatan :
- Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii
- Intervensi Keperawatan:
- Kaji ulang gangguan pendengaran yang dialami klien
- Lakukan irigasi telinga
- Berbicaralah dengan jelas dan pelan
- Gunakan papan tulis / kertas untuk berkomunikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
- Kolaborasi pemeriksaan audiometri
- Kolaborasi pemberian tetes telinga
- Intervensi Keperawatan:
DAFTAR PUSTAKA
- Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
- Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
- R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
- Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001
Semoga ada manfaatnya....







