Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan

Tanda Gejala Virus Ebola

Penyebab penyakit ebola adalah merupakan virus yang berasal dari genus Ebolavirus, yang termasuk di dalam familia Filoviridae serta juga adalah merupakan nama dari penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Keganasan Ebola begitu menakutkan dan nampaknya bisa menyebar dengan cepat serta dapat menyebabkan kematian bagi penderitanya.

Badan Kesehatan Dunia WHO menggolongkan sebagai demam berdarah. Wabah demam berdarah Virus Ebola melanda Afrika Barat dan meledak di Guinea di tahun 2014 ini. Ebola dikatakan memiliki tingkat kematian hingga 90 persen. Namun untuk kejadian saat ini, 60 persen kasus Ebola berakibat fatal.

Tanda Gejala Virus Ebola

Kemunculan pertama kali dari ebola ini adalah di tahun 1976. Wabah penularan terjadinya dan terjangkitnya penyakit ini adalah pertama menyerang desa-desa terpencil di Afrika Tengah dan Barat, biasanya yang berada di daerah dekat hutan hujan tropis.

Cara Penularan Ebola


Virus ebola ini dapat menular melalui cairan tubuh penderitanya yang terkontaminasi oleh virus penyebab penyakit ebola ini. Yaitu bisa menular melalui media seperti halnya darah, muntah, kotoran, keringat, air liur, air mata juga bisa melalui air mani. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Prof dr William Schaffner seperti informasi yang dilansir dari health.liputan6.com.

Penyakit Ebola dapat ditularkan lewat kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang 90% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum ditemukan.

Pada umumnya dan juga biasanya Ebola dapat menyebar antar manusia melalui kontak dekat dengan cairan tubuh (bersin atau batuk) yang terinfeksi atau melalui jarum yang terinfeksi di rumah sakit.

Ebola kemudian menyebar di masyarakat melalui manusia ke manusia melalui cairan tubuh dan kontak tidak langsung dengan benda-benda yang terkontaminasi dengan cairan tersebut.

Cara penularan virus ebola menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) seperti yang dilansir dari pewartaekbis.com antara lain adalah dengan melalui cara seperti berikut ini :
  • Penyakit yang diakibatkan infeksi Virus Ebola / Ebola virus disease (EVD) memiliki risiko kematin tinggi apabila menginfeksi manusia, yaitu mencapai 90%.
  • Wabah EVD secara endemik khusus terjadi di pedesaan terpencil di Afrika Tengah dan Afrika Barat di daerah hutan tropis.
  • Virus Ebola ditransmisikan dari binatang liar kepada manusia. Virus ini kemudian menyebar dalam populasi manusia melalui penularan dari manusia ke manusia.
  • Diduga, kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae merupakan inang alami dari virus Ebola.
  • Manusia yang terinfeksi virus Ebola harus mendapatkan perawatan intensif sepenuhnya agar dapat kembali pulih.
  • Hingga kini belum ditemukan vaksin atau perawatan yang spesifik yang mampu digunakan sepenuhnya pada hewan atau manusia untuk menjinakkan virus Ebola.
  • Virus Ebola dapat ditularkan lewat darah, sekresi organ tubuh atau cairan tubuh lain dari binatang atau manusia yang terinfeksi.
  • Di Afrika infeksi dari Ebola terjadi lewat binatang menyusui (Mammalia) yang telah terinfeksi, contohnya simpanse, gorila, kelelawar buah, monyet, kijang serta landak yang telah sakit atau mati.
  • Sementara itu penyebaran dari manusia ke manusia terjadi melalui kontak langsung kulit luka, darah, sekresi cairan tubuh lain dari mereka yang sudah terinfeksi.
  • Kontak tidak langsung dari lingkungan yang sudah terkontaminasi yang bisa menyebabkan penularan EVD. Bahkan upacara penguburan dimana pelayat melakukan kontak langsung dengan jenazah mereka yang mengidap Ebola bisa menyebabkan penularan virus tersebut.
  • Pasien yang sudah pulih dari Ebola masih bisa menularkan virus ini melalui cairan semen (sperma) hingga tujuh pekan ke depan.
  • Gejala-gejala orang yang terinfeksi virus Ebola biasanya mulai tampak dalam waktu 2-7 hari setelah infeksi. Gejala-gejala awal berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, dan kurangnya napsu makan. Setelah itu ada gejala lanjutan berupa muntah, diare, sakit perut, ruam, dan dalam beberapa kasus perdarahan internal dan eksternal. Perdarahan ini sering terjadi di mata, hidung atau mulut.
Cara Penularan Ebola

Pencegahan Penyebaran Virus Ebola


Penyakit ebola di Indonesia untuk saat ini memang belum terjadi dan semoga saja juga tidak terjadi. Akan tetapi sebagai manusia, tentunya mengetahui cara mencegah penularan penyakit virus ebola ini perlu juga untuk diketahui agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh kita semuanya.

Hingga saat ini belum ditemukan vaksin antivirus ebola, namun masih banyak kemungkinan untuk menghidarinya. Salah satu hal utama yang harus diperhatikan adalah kualitas sanitasi serta air konsumsi, pastikan dengan baik semuanya berada dalam kondisi terbaik.

Selain itu, perlu diperhatikan pula kesehatan hewan-hewan domestik di sekitar Anda, seperti hewan peliharaan, serta anjing atau kucing liar. Penularan dari hewan-hewan domestik ini memiliki kemiripan dengan penularan rabies, sehingga Anda perlu tetap waspada terhadapnya.

Cara lain untuk menghindari penularan virus ebola adalah cara penguburan khusus terhadap hewan-hewan yang mati dikarenakan virus tersebut. Apabila hal ini terjadi, pastikan hewan bersangkutan dikubur jauh dari tempat tinggal.

Pastikan pula Anda selalu mencuci bersih tangan dan anggota tubuh yang terbuka sebelum dan sesudah menguburkan hewan-hewan yang diduga mati akibat serangan virus ebola.

Jika dirasa penting, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis jika merasa telah kontak langsung dengan sumber-sumber penularan virus ebola.

Tanda Gejala Orang Terkena Virus Ebola


Tanda-tanda umum orang terinfeksi virus ebola secara umum bisa dikenali. Berikut penjelasan Prof Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI seperti dikutip dari laman website health.okezone.com Senin 4 Agustus 2014 ini.

Tanda Gejala Orang Terkena Virus Ebola

Awal gejala termasuk demam tinggi, setidaknya 38,8 derajat Celcius atau 101,8 derajat Fahrenheit. Kemudian, sakit kepala parah, nyeri otot, sakit perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, pendarahan internal dan eksternal.

Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit yang menduga jika penderita virus Ebola sedang terkena malaria, demam, thyphus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri lainnya. Lebih dalam, Ebola juga bisa menyebabkan gejala yang lebih serius. Bahkan, jika tidak ditangani dengan cepat, bisa berujung pada kematian.

Diare, kotoran berdarah atau gelap, muntah darah, dan mata merah distension adalah gejala dari Ebola yang sudah tahap serius. Kalau sudah seperti itu, biasanya disarankan untuk seseorang diinkubasi sekira dua sampai 21 hari. Akan tetapi, umumnya hanya perlu lima sampai 10 hari

Pengobatan Ebola

Sampai dengan saat ini, belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus Ebola. Akan tetapi sekarang sedang di kembangkan pembuatan vaksin yang akan diujikan kepada manusia untuk pertama kalinya adalah vaksin yang sudah memasuki fase uji-klinis.

Menurut Sanchez, seperti informasi yang dilansir dari mediaindonesia.com bahwa infeksi virus Ebola di dalam tubuh manusia memang bisa sangat mematikan, tapi monyet berhasil selamat dari infeksi virus tersebut dan ini bisa menjadi contoh yang sangat bermanfaat bagi uji-coba terhadap binatang.

Pengujian vaksin Ebola dengan menggunakan primata memberikan perkembangan yang menjanjikan bagi hadirnya vaksin pelindung.

Dalam pengobatan pada gejala penyakit ebola ini sebenarnya belum ada obat yang 100% dapat menyembuhkan dengan total, pengobatan yang dilakukan biasanya hanya dengan antivirus untuk melawan virus menyerang semakin banyak.

Penderita biasanya dirawat di rumah sakit secara intensif dengan obat-obatan yang membantunya untuk menjaga kondisi tubuh agar masih bisa bertahan dalam melawan virus tersebut. Obat untuk ebola belum ditemukan.

Pendarahan yang sering terjadi pada penyakit ini, biasanya penderita akan memerlukan tranfusi darah untuk mengganti darah yang sudah keluar.

Penyebab Tanda Gejala Virus MERS-Cov

Virus Corona Middle East Respiratory Syndrome (MERS) adalah merupakan salah satu jenis virus yang menyerang organ pernafasan orang yang mengidapnya yang merupakan jenis penyakit saluran pernafasan yang bisa mengakibatkan kematian. MERS – Cov adalah merupakan singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus. Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Corona virus (Novel Corona Virus).

Virus ini pertama kali dilaporkan pada bulan September 2012 di Arab Saudi. Virus SARS tahun 2003 juga merupakan kelompok virus Corona dan dapat menimbulkan pneumonia berat akan tetapi berbeda dari virus MERS Cov. Informasi yang diperoleh dari website Kementrian Kesehatan RI www.depkes.go.id memberitakan bahwasannya virus ini berbeda dengan coronavirus lain yang telah ditemukan sebelumnya.

Sehingga kelompok studi corona virus dari Komite Internasional untuk Taksonomi Virus memutuskan bahwa novel corona virus tersebut dinamakan sebagai MERS-Cov. Virus ini tidak sama dengan corona virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), namun mirip dengan corona virus yang terdapat pada kelelawar.

Penyebab Tanda Gejala Virus MERS-Cov

Gejala Dan Cara Penularan MERS

Ada beberapa hal yang bisa kita ketahui dalam rangka mengenali apa saja yang menjadi tanda-tanda orang terkena virus yang satu ini. Karena menyerang saluran pernafasan maka berikut tanda-tanda penyakit MERS antara lain adalah sebagai berikut :
  • Demam.
  • Batuk.
  • Sesak Nafas (nafas pendek).
  • Bersifat akut.
Sekitar separuh dari jumlah penderita meninggal. Sebagian dari penderita dilaporkan menderita penyakit saluran pernapasan tingkat sedang.

Sampai saat ini, masih terus dilakukan investigasi mengenai pola penularan MERS-Cov, karena telah ditemukan adanya penularan dari manusia ke manusia yang saling kontak dekat dengan penderita. Penularan dari pasien yang terinfeksi kepada petugas kesehatan yang merawat juga diamati. Selain itu, cluster dari kasus infeksi MERS-Cov di Arab Saudi, Jordania, the United Kingdom, Prancis, Tunisia, dan Italia juga diinvestigasi.

Virus ini dapat menular antar manusia secara terbatas, dan tidak terdapat transmisi penularan antar manusia yang berkelanjutan. Kemungkinan penularannya dapat melalui media sebagai berikut yaitu :
  • Langsung : Melalui percikan dahak (droplet) pada saat pasien batu atau bersin.
  • Tidak Langsung : Melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.
Untuk itu juga para pejabat di badan kesehatan dunia (WHO) seperti informasi yang dilansir dari www.voaindonesia.com juga menyatakan serta prihatin prihatin bahwa virus MERS mungkin akan menular ke para peziarah kaum muslimin yang diperkirakan akan mengunjungi tempat-tempat suci di Arab Saudi bulan depan dalam bulan Ramadan, atau jutaan lagi diperkirakan akan datang bulan Oktober untuk menunaikan ibadah Haji di Mekah.

Untuk itulah para jamaah haji Indonesia serta juga para tenaga kesehatan yang ikut serta dalam TKHI dan PPIH Tahun 2014 ini untuk selalu menjaga kesehatan dan melakukan tindakan pencegahan akan penularan penyakit yang disebabkan oleh karena corona virus yang disebut Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-Cov) ini.

Karena memang ada beberapa hal yang terkait dengan Tips Dan Cara Menjaga Kesehatan Ketika Menunaikan Berangkat Haji agar bisa menjalankan wajib dan rukun haji itu sendiri.

Pengobatan Dan Vaksin Mers-Cov

Sampai dengan saat ini memang belum ada vaksin yang spesifik dapat mencegah infeksi MERS-Cov. Selain itu, belum ditemukan juga metode pengobatan yang secara spesifik dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh MERS-Cov.

Perawatan medis hanya bersifat supportive untuk meringankan gejala. Tes laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk MERS-Cov tersedia di Kementerian Kesehatan dan beberapa laboratorium internasional, namun tes tersebut bukan tes rutin.

Belum ada vaksin yang tersedia. Pengobatan anti viral yang bersifat spesifik belum ada, dan pengobatan yang dilakukan tergantung dari kondisi pasien. Pencegahan dengan menjalankan pol hidup yang sehat dengan melakukan PHBS (pola hidup bersih dan sehat), dan juga menghindari kontak erat dengan penderita, serta menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk ketika sakit perlu untuk diterapkan dengan baik pula.