Tampilkan postingan dengan label ASKEP ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP ANAK. Tampilkan semua postingan

Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal

Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal - kapukonline.com | ASKEP ANAK

Definisi / Pengertian Malformasi Anorektal

Malformasi anorektal (anus imperforate) ialah suatu malformasi kongenital dimana rektum tidak mempunyai jalan keluar. Jadi pada kasus ini anus tertutup sama sekali dan tebalnya bagian yang tertutup ini bermacam-macam.

Klasifikasi Malformasi Anorektal

Terdapat 3 macam bentuk anus imperforate :

  1. Anomali tinggi (Supralevator) : Rektum berakhir diatas M.Levat0r ani (M.Puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum > 1 cm. Letak supralevator biasanya disertai dengan fistel kesaluran kencing atau kesaluran genital
  2. Anomali Intermediate : Rektum terletak pada M.Levator ani tapi tidak menembusnya
  3. Anomali Rendah : Rektum berakhir dibawah >Levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.

Etiologi Malformasi Anorektal

Penyebabnya tidak diketahui. Tidak ada faktor resiko jelas yang mempengaruhi seorang anak dengan anus imperforata. Tetapi, hubungan genetik terkadang ada. Paling banyak kasus anus imperforata jarang tanpa adanya riwayat keluarga, tetapi beberapa keluarga memiliki anak dengan malformasi.

Patofisiologi Malformasi Anorektal

Embriogenesis malformasi ini tidak jelas. Rectum dan anus berkembang dari bagian dorsal usus atau ruang cloaca ketika mesenchym bertumbuh ke dalam membentuk septum anorectum pada midline. Septum ini memisahkan rectum dan canalis anus secara dorsal dari vesica urinaria dan uretra. Ductus cloaca adalah penghubung kecil antara 2 usus. Pertumbuhan ke bawah septum urorectalis menutup ductus ini selama 7 minggu kehamilan.

Selama itu, bagian ventral urogenital berhubungan dengan dunia luar; membran analis dorsalis terbuka kemudian. Anus berkembang dengan penyatuan tuberculum analis dan invaginasi external, diketahui sebagai proctodeum, yang mengarah ke rectum tetapi terpisah oleh membran anal. Membran pemisah ini akan terpisahkan pada usia 8 minggu kehamilan.

Gangguan perkembangan struktur anorectum pada tingkat bermacam-macam menjadi berbagai kelainan, berawal dari stenosis anus, anus imperforate, atau agenesis anus dan gagalnya invaginasi proctodeum. Hubungan antara tractus urogenital dan bagian rectum menyebabkan fistula rectourethralis atau rectovestibularis.

Tanda dan Gejala Malformasi Anorektal

Secara klinik pada bayi ditemukan tidak adanya mekonium yang keluar dalam waktu 24-48 jam setelah kelahiran atau tidak tampak adanya lubang anus. Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan pemasukan thermometer melalui anus.

Tindakan ini tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tetapi juga untuk mengetahui apakah terdapat anus imperforata atau tidak. Bila anus terlihat normal dan terdapat penyumbatan yang lebih tinggi dari perineum maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam, berupa perut kembung, muntah, tidak bisa buang air besar dan ada yang mengeluarkan tinja dari vagina atau ureter.

Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Malformasi Anorektal

  1. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostic yang umum dilakukan pada gangguan ini
  2. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium
  3. Pemeriksaan sinar-X lateral inverse (teknik Wangensteen-Rice) dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada atau di dekat perineum; dapat menyesatkan jika rectum penuh dengan mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal
  4. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rectal
  5. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan cara menusukkan jarum tersebut sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm, defek tersebut dianggap sebagai defek tingkat tinggi

Komplikasi Malformasi Anorektal

Semua pasien yang mempunyai malformasi anorectal dengan komorbiditas yang tidak jelas mengancam hidup akan bertahan. Pada lesi letak tinggi, banyak anak mempunyai masalah pengontrolan fungsi usus dan juga paling banyak menjadi konstipasi. Pada lesi letak rendah, anak pada umumnya mempunyai control usus yang baik, tetapi masih dapat menjadi konstipasi.

Komplikasi operasi yang buruk berkesempatan menjadi kontinensia primer, walaupun akibat ini sulit diukur. Reoperasi penting untuk mengurangi terjadinya kontinensia. Kira-kira 90% anak perempuan dengan fistula vestibulum, 80% anak laki-laki dengan fistula ureterobulbar, 66% anak laki-laki dengan fistula ureteroprostatic, dan hanya 15% anak laki-laki dengan fistula bladder-neck mempunyai pergerakan usus yang baik. 76% anak dengan anus imperforata tanpa fistula mempunyai pergerakan usus yang baik.

Selain itu, komplikasi lain yang dapat muncul yaitu :

  1. Asidosis hiperkloremia
  2. Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
  3. Komplikasi jangka pendek :
  4. Eversi mukosa anal
  5. Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
  6. Masalah atau kelambatan yang baerhubungan dengan toilet training
  7. Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
  8. Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten)
  9. Fistula kambuhan (karena tegangan di area pembedahan dan infeksi).

Penatalaksanaan / Pengobatan Malformasi Anorektal

Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan defek. Semakin tinggi lesi, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk anomaly tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir. Bedah definitifnya, yaitu anoplasti perineal (prosedur penarikan perineum abdominal), umumnya ditunda 9-12 bulan.

Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah baik status nutrisinya. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong rectal melalui sfingter sampai lubang pada kulit ananl. Fistula, bila ada harus ditutup. Defek membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal. Membran tersebut dilubangi dengan hemostat atau scalpel.

Pada kebanyakan kasus, pengobatan malformasi anorektal memerlukan dua tahap tindakan pembedahan. Untuk defek ringan sampai sedang, prognosisnya baik. Defeknya dapat diperbaiki, peristalsis dan kontinensia normal juga dapat diperolah. Defek yang lebih berat umumnya disertai anomaly lain, dan hal tersebut akan menambah masalah pada hasil tindakan pembedahan. Anus imperforata biasanya memerlukan operasi sedang untuk membuka pasase feses.

Tergantung pada beratnya imperforate, salah satu tindakan adalah anoplasti perineal atau colostomy : prosedur operasi termasuk menghubungkan bagian atas colon dengan dinding anterior abdomen, pasien ditinggalkan dengan lubang abdomen disebut stoma. Lubang ini dibentuk dari ujung usus besar melalui insisi dan sutura ke kulit.

Setelah colostomy, feses dibuang dari tubuh pasien melalui stoma, dan terkumpul dalam kantong yang melekat pada abdomen yang diganti bila perlu. Pengobatan pada anus malformasi anorektal juga dapat dilakukan dengan jalan operasi PSARP (Posterio Sagital Anorectoplasy). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien.

Teknik ini merupakan ganti dari teknik lama yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT). Teknik lama ini mempunyai resiko gagl tinggi karena harus membuka dinding abdomen

Malformasi Anorectal Malformasi Anorectal Malformasi Anorectal

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Askep Malformasi Anorektal

  1. Lakukan pengkajian kepatenan lubang anal pada bayi baru lahir
  2. Observasi adanya pasase mekonium. Perhatikan bila mekonium tampak pada orifisium yang tidak tepat.
  3. Observasi feses yang seperti karbon pada bayi yang lebih besar atau anak kecil yang mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi abdomen
  4. Bantu dengan prosedur diagnostik mis : endoskopi, radiografi

Dioagosa Keperawatan Askep Malformasi Anorektal

  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan. intake tidak adekuat
  2. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
  3. Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan rectum
  4. Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
  5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
  6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
  7. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi

Intervensi Keperawatan Askep Malformasi Anorektal

  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat
    1. Tujuan : Mempertahankan Berat Badan stabil / menunjukkan kemajuan peningkatan Berat Badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi selang bila terjadi perubahan posisi.
        Rasional : Memberikan istirahat pada traktus GI. Selama fase pasca operasi akut sampai kembali berfungsi normal
      2. Berikan perawatan oral secara teratur
        Rasional : Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah
      3. Kolaborasi pemberian cairan IV,
        Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai
      4. Awasi pemeriksaan laboratorium. Misalnya Hb / Ht dan elektrolit.
        Rasional : Indikator kebutuhan cairan / nutrisi dan keaktifan terapi dan terjadinya konstipasi.
  2. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
    1. Tujuan :
      1. Menyatakan nyeri hilang
      2. Menunjukkan rileks, mampu tidur, dan istirahat dengan tepat
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri
        Rasional : Membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi
      2. Catat petunjuk nonverbal. Mis: gelisah, menolak untuk bergerak
        Rasional : Bahasa tubuh / petunjuk non verbal dapat secara prikologis dan fisiologis dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi masalah
      3. Kaji faktor-faktor yang dapat meningkatkan / menghilangkan nyeri
        Rasional : Menunjukkan faktor pencetus dan pemberat dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi
      4. Berikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi dan
        Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan perhatian, dan meningkatkan koping
      5. Kolaborasi pemberian analgetik
        Rasional : Memudahkan istirahat dan menurunkan rasa sakit
  3. Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan rectum
    1. Tujuan :
      1. Menormalkan fungsi usus
      2. Mengeluarkan feses melalui anus
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja
        Rasional : Memperoleh informasi tentang kondisi usus
      2. Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus
        Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus menunjukkan fungsi defekasi hilang
      3. Berikan enema jika diperlukan
        Rasional : Mungkin perlu untuk menghilangkan distensi
  4. Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
    1. Tujuan: Pola nafas efektif, tidak ada gangguan pernafasan
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Observasi frekuensi / kedalaman pernafasan
        Rasional : Nafas dangkal, distress pernafasan, menahan nafas, dapat menyebabkan hipoventilasi
      2. Dorong latihan napas dalam
        Rasional : Meningkatkan ekspansi paru maksimal dan alat pembersihan jalan napas, sehingga menurunkan resikoatelektasis
      3. Berikan oksigen tambahan
        Rasional : memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan peningkatan kerja nafas
      4. Tinggikan kepala tempat tidur 300
        Rasional : Mendorong pengembangan diafragma / ekspansi paru optimal dan meminimalkan isi abdomen pada rongga thorax
  5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
    1. Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Observasi luka, catat karakteristik drainase
        Rasional : Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja
      2. Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik
        Rasional : Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi
      3. Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali
        Rasional : Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi praap / post op
  6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
    1. Tujuan:
      1. Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi
      2. Menerima perubahan kedalam konsep diri
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya
        Rasional : Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa
      2. Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan
        Rasional : Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih kuat
      3. Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan berpartisipasi dan perawatan
        Rasional : Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk memperbaiki kepercayaan diri
      4. Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang stoma
        Rasional : Membantu dalam menerima kenyataan
      5. Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien
        Rasional : Meningkatkan kontrol dan harga diri
      6. Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan
        Rasional : Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada tubuhnya
  7. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi
    1. Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / proses penyakit, tindakan dan prognosis
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Tentukan persepsi anak tentang penyakit
        Rasional : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu
      2. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis
        Rasional : Meningkatkan pemahaman dan kerjasama
      3. Tekankan pentingnya perawatan kulit pada orang tua
        Rasional : Menurunkan penyebaran bakteri

Bagan penatalaksanaan bayi dengan malformasi anorektal

Bagan penatalaksanaan bayi dengan malformasi anorektal

Demikian posting tentang Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal, semoga bermanfaat dan silahkan Share dengan teman-teman anda .... !!

Askep / Asuhan Keperawatan Tonsilitis

kapukonline.com Up date Askep / Asuhan Keperawatan Tonsilitis - ASKEP ANAK

A. DEFINISI TONSILITIS

Tonsilitis akut adalah peradangan pada tonsil yang masih bersifat ringan. Radang tonsil pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis. ( Ngastiyah,1997 )

Tonsilitis

B. ETIOLOGI TONSILITIS

Penyebab tonsilitis bermacam – macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini yaitu :

  1. Streptokokus Beta Hemolitikus
  2. Streptokokus Viridans
  3. Streptokokus Piogenes
  4. Virus Influenza

Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah (droplet infections)

C. PROSES PATOLOGI TONSILITIS

Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas, akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil.

Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara.

Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.

D. PATHWAYS TONSILITIS

  1. Download Pathway Tonsilitis

E. MANIFESTASI KLINIS TONSILITIS

Tanda dan gejala tonsilitis akut adalah :

  1. Nyeri tenggorok
  2. Nyeri telan
  3. Sulit menelan
  4. Demam
  5. Mual
  6. Anoreksia
  7. Kelenjar limfa leher membengkak
  8. Faring hiperemis
  9. Edema faring
  10. Pembesaran tonsil
  11. Tonsil hiperemia
  12. Mulut berbau
  13. Otalgia (sakit di telinga)
  14. Malaise

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG TONSILITIS

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :

  1. Leukosit : terjadi peningkatan
  2. Hemoglobin : terjadi penurunan
  3. Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat

G. KOMPLIKASI TONSILITIS

Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah :

  1. Tonsilitis kronis
  2. Otitis media

H. PENATALAKSANAAN TONSILITIS

Penanganan pada klien dengan tonsilitis akut adalah :

  1. Penatalaksanaan medis
    1. Antibiotik baik injeksi maupun oral seperti cefotaxim, penisilin, amoksisilin, eritromisin dll
    2. Antipiretik untuk menurunkan demam seperti parasetamol, ibuprofen.
    3. Analgesik untuk meredakan nyeri
  2. Penatalaksanaan keperawatan
    1. Kompres dengan air hangat
    2. Istirahat yang cukup
    3. Pemberian cairan adekuat, perbanyak minum hangat
    4. Kumur dengan air hangat
    5. Pemberian diit cair atau lunak sesuai kondisi pasien

I. FOKUS PENGKAJIAN ASKEP TONSILITIS

  1. Keluhan utama
    1. Sakit tenggorokan, nyeri telan, demam dll
  2. Riwayat penyakit sekarang : serangan, karakteristik, insiden, perkembangan, efek terapi dll
  3. Riwayat kesehatan lalu
    1. Riwayat kelahiran
    2. Riwayat imunisasi
    3. Penyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang, ISPA, otitis media )
    4. Riwayat hospitalisasi
  4. Pengkajian umum
    1. Usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda – tanda vital dll
  5. Pernafasan
    1. Kesulitan bernafas, batuk
    2. Ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :
      1. T0 : bila sudah dioperasi
      2. T1 : ukuran yang normal ada
      3. T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
      4. T3 : pembesaran mencapai garis tengah
      5. T4 : pembesaran melewati garis tengah
  6. Nutrisi
    1. Sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan minum, turgor kurang
  7. Aktifitas / istirahat
    1. Anak tampak lemah, letargi, iritabel, malaise
  8. Keamanan / kenyamanan
    1. Kecemasan anak terhadap hospitalisasi

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN dan FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN TONSILITIS

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada Tonsilitis akut adalah :

  1. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring dan tonsil
    1. Intervensi Keperawatan :
      1. Pantau suhu tubuh anak ( derajat dan pola ), perhatikan menggigil atau tidak
      2. Pantau suhu lingkungan
      3. Batasi penggunaan linen, pakaian yang dikenakan klien
      4. Berikan kompres hangat
      5. Berikan cairan yang banyak ( 1500 – 2000 cc/hari )
      6. Kolaborasi pemberian antipiretik
  2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil
    1. Intervensi Keperawatan:
      1. Pantau nyeri klien(skala, intensitas, kedalaman, frekuensi)
      2. Kaji Tanda-tanda Vital
      3. Berikan posisi yang nyaman
      4. Berikan tehnik relaksasi dengan tarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkannya pelan – pelan melalui mulut
      5. Berikan tehnik distraksi untuk mengalihkan perhatian anak
      6. Kolaborasi pemberian analgetik
  3. Resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia
    1. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji conjungtiva, sclera, turgor kulit
      2. Timbang BB tiap hari
      3. Berikan makanan dalam keadaan hangat
      4. Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi seringsajikan makanan dalam bentuk yang menarik
      5. Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan
      6. Kolaborasi pemberian vitamin penambah nafsu makan
  4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
    1. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
      2. Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas
      3. Monitor Tanda-tanda Vital sebelum, selama dan sesudah melakukan aktifitas
      4. Berikan lingkungan yang tenang
      5. Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi klien
  5. Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii
    1. Intervensi Keperawatan:
      1. Kaji ulang gangguan pendengaran yang dialami klien
      2. Lakukan irigasi telinga
      3. Berbicaralah dengan jelas dan pelan
      4. Gunakan papan tulis / kertas untuk berkomunikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
      5. Kolaborasi pemeriksaan audiometri
      6. Kolaborasi pemberian tetes telinga

DAFTAR PUSTAKA

  1. Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
  2. Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
  3. R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
  4. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001

Semoga ada manfaatnya....

Tabel Tanda Status Nutrisi

TABEL CLINICAL SIGN OF NUTRITIONAL STATUS

Tabel ini berfungsi untuk menentukan dan membedakan, apakah seorang anak mengalami masalah dalam status nutrisinya atau tidak

No

Organ / area

Normal

Tidak normal

1

Keadaan Umum

  1. Waspada,
  2. Responsif
  1. Apatis,
  2. Kakeksia
  3. Tidak punya kemauan

2

Berat Badan

  1. Normal untuk ukuran tubuh usia, postur
  1. Kurang
  2. Lebih

3

Postur Otot

  1. Tegak, lengan dan tungkai lurus
  2. Pertumbuhan baik, kuat, tonus baik
  3. Ada lemak di bawah kulit
  1. Penurunan bahu,
  2. Dada cekung,
  3. Punggung berpunuk
  4. Flaxid, tonus buruk,
  5. Edema,
  6. Nyeri tekan,
  7. Tampak kurus,
  8. Tidak dapat berjalan dengan baik

4

Fungsi Kardiovaskuler

  1. Nadi, Tekanan Darah dalam batas normal
  2. Irama jantung teratur
  1. Nadi, Tekanan Darah naik / lambat / cepat
  2. Irama jantung tidak teratur,
  3. Pembesaran jantung

5

Vitalitas umum

  1. Ketahanan baik,
  2. Bersemangat,
  3. Bidur baik
  4. Banyak bicara
  1. Cepat lelah,
  2. Tidak bersemangat
  3. Mudah ngantuk,
  4. Apatis
  5. Tampak lelah

6

Fungsi Gastro Intestinal

  1. Pencernaan dan selera makan baik
  2. Eliminasi teratur
  3. Tidak terdapat massa yang teraba
  1. Anoreksia,
  2. Ketidakmampuan mencerna
  3. Konstipasi atau Diare,
  4. Pembesaran hati dan limpa

7

Rambut

  1. Bercahaya, berkilau, kuat, tidak mudah mudah tercabut,
  2. Kulit kepala sehat
  1. Tipis ,
  2. Kusam,
  3. Rapuh, kering dan pecah-pecah
  4. Tidak ada pigmentasi
  5. Mudah tercabut

8

Kulit

  1. Halus,
  2. Lembab
  3. Berwarna baik
  1. Kasar
  2. Kering,
  3. Bersisik,
  4. Pucat,
  5. Iritasi,
  6. Terpigmentasi,
  7. Memar,
  8. Ptekie
  9. Hilangnya lemak jaringan sub kutan

9

Wajah dan leher

  1. Warna kulit serupa,
  2. Halus
  3. Merah muda
  4. Tampak sehat
  5. Tidak membengkak
  1. Berlemak
  2. Pewarnaan tidak baik
  3. Bersisik
  4. Membengkak
  5. Kulit di bawah pipi dan di bawah mata tampak lebih gelap
  6. Benjolan atau flakiness pada kulit sekitar hidung dan mata

10

Bibir

  1. Halus
  2. Warna baik
  3. Lembab tidak kasar
  4. Tidak pecah-pecah atau membengkak
  1. Kering
  2. Bersisik
  3. Bengkak
  4. Kemerahan dan mulai membesar (cheilosis)
  5. Terjadinya lesi angular di sudut mulut
  6. Fissure atau bekas luka (stomatitis)

11

Mulut dan membran oral

  1. Membran mukosa pink
  2. Kemerahan di dalam rongga mulut
  1. Membran mukosa membengkak dan basah

12

Gusi

  1. Warna merah muda, sehat,
  2. Tidak terjadi pembengkakan atau perdarahan
  1. Lunak berongga,
  2. Mudah berdarah
  3. Kemerahan pada tepinya
  4. Inflamasi
  5. Gusi menyusut

13

Lidah

  1. Pink baik atau merah kalem
  2. Tidak bengkak juga tidak halus
  3. Papilla permukaan ada
  4. Tidak ada lesi
  1. Bengkak,
  2. Merah kekuningan atau orange dan tampak sariawan
  3. Berwarna magenta
  4. Tampak seperti daging matang (glositis)
  5. Hiperemik dan Hipertropik papilla
  6. Atropik papilla.

14

Gigi

  1. Tidak ada lubang,
  2. Tidak terasa nyeri
  3. Tampak terang
  4. Lurus
  5. Bersih tidak ada penumpukan kotoran
  6. Rahang terbentuk baik,
  7. Tidak terlihat adanya pewarnaan yang tidak wajar.
  1. Karies
  2. Tidak ada gigi (Tanggal / Ompong)
  3. Permukaan yang tampak aus
  4. Fluorosis
  5. Salah posisi

15

Mata

  1. Terang,
  2. Jernih, berkilau
  3. Tidak ada iritasi pada sudut kelopak mata
  4. Membran lembab, warna pink sehat
  5. Tidak ada penonjolan pembuluh darah atau penebalan jaringan atau sclera
  6. Tidak ada lingkaran kelelahan di sekitar mata
  1. Konjungtiva pucat (Anemis)
  2. Kemerahan pada membran
  3. Kekeringan
  4. Tanda - tanda infeksi,
  5. Titik bitot
  6. Kemerahan dan fisura dari sudut kelopak mata
  7. Serosis konjungtiva (Icterik)
  8. Serosis kornea
  9. Keratomalacia

16

Kelenjar leher

  1. Tidak ada pembesaran
  1. Pembesaran tiroid

17

Kuku

  1. Kuat,
  2. Pink
  1. Koilonicia
  2. Rapuh,
  3. Datar

18

Tungkai, telapak kaki

  1. Tidak ada nyeri
  2. Tidak ada kelemahan atau pembengkakan,
  3. Warna baik
  1. Edema,
  2. Betis nyeri,
  3. Kesemutan
  4. Kelemahan

19

Rangka

  1. Tidak ada salah bentuk
  1. Tungkai berbentuk O atau X.
  2. Deformitas dada pada area diafragma,
  3. Iga – iga kecil dan cenderung membundar,
  4. Scapula menonjol

20

Kendali saraf

  1. Rentang perhatian baik
  2. Tidak cepat tersinggung atau gelisah
  3. Refleks normal
  4. Stabilitas psikologia
  1. Tidak perhatian
  2. Cepat tersinggung, bingung,
  3. Parestesia,
  4. Kelemahan dan nyeri tekan otot,
  5. Kehilangan posisi dan rasa getar,
  6. Penurunan atau kehilangan refleks tumit
  7. Tidak ada rasa getar.

Semoga yang sedikit dari kapukonline.com ini ada manfaatnya...