Pengaruh Stres Dan Depresi Pada Kesehatan Jantung

Tanda gejala depresi dan stress bisa mempunyai pengaruh dampak buruk terhadap kesehatan jantung kita. Penelitian mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkat stres dan depresi yang tinggi, 48 persen lebih mungkin meninggal dunia karena serangan jantung dibandingkan mereka yang tingkat stres dan depresinya rendah.

Dalam hasil penelitian terbaru terkait dengan depresi dan stress ini seperti yang dipublikasikan dalam Jurnal Circulation, kemudian juga disiarkan LiveScience telah memperoleh kesimpulan bahwa dua hal tersebut diatas mempunyai pengaruh buruk terhadap orang yang mempunyai masalah penyakit jantung.

Pengaruh Stres Dan Depresi Pada Kesehatan Jantung

Meningkatnya risiko (kematian) yang diiringi tingkat stres tinggi dan depresi berat kaitannya kuat dan konsisten dengan perilaku-perilaku demografis, sejarah medis, penggunaan obat-obatan dan risiko kesehatan.

Demikian dikatakan oleh ketua studi Carmela Alcantara yang juga asisten peneliti pada Pusat Kesehatan Universita Columbia, New York City.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti melibatkan 5.000 orang berusia 45 tahun yang mempunyai penyakit jantung koroner dari 2003 hingga 2007.

Mereka lalu meminta para partisipan menceritakan gejala depresi dan stresnya melalui kuesioner.

Hasil studi menemukan, sekitar enam persen atau 247 orang mengalami stres dan depresi tinggi. Setelah enam tahun masa studi, sekitar 1.337 orang meninggal dunia karena serangan jantung.

Para peneliti mencatat, orang yang sering stres dan depresi, risiko terkena serangan jantungnya meningkat dalam kurun waktu dua setengah tahun. Namun setelah itu, peningkatan risiko justru tak ada.

Mereka juga mendapati fakta, meningkatnya risiko terkena serangan jantung hanya terjadi pada orang yang mengalami kombinasi stres dan depresi, bukan salah satunya.

Alcantara mengatakan, intervensi perilaku dapat membantu penderita penyakit jantung dalam mengelola stres dan depresi mereka.

Penyakit Gangguan Kesehatan Akibat Stres


Penyakit yang ditimbulkan karena stress juga memang tidak bisa dibilang sedikit. Karena pengaruh stres apalagi yang berat serta berkepanjangan akan bisa menimbulkan gejala tanda stres yang akan terlihat baik itu secara fisik maupun secara psikologi juga.

Karena memang beban tekanan mental akan mempengaruhi mempengaruhi keadaan fisik, mental dan emosi seseorang yang sedang mengalaminya.

Penyakit Akibat Stres

Stress adalah merupakan suatu kondisi ketegangan yang akan bisa mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi diri seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya. Dan hal ini bisa berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang.

Beberapa gangguan kesehatan akibat stress antara lain adalah sebagai berikut :

Tubuh Mudah Terkena Sakit

Beberapa ilmuwan yang telah melakukan penelitian mengenai hubungan stres dengan penyakit ini juga bahwasannya stress akut akan bisa menurunkan daya tahan tubuh manusia. Beberapa studi kasus telah menunjukkan bahwa beberapa hormon stres yang dikeluarkan tubuh ketika beban berlebihan datang.

Hal ini lah yang akan bisa memengaruhi kemampuan kerja daripada kelenjar thymus untuk menstimulasi dan mengatur aktivitas leukosit (sel darah putih).

Terganggunya aktifitas sel darah putih ini lah yang akan bisa menurunkan imunitas dan daya tahan tubuh akan menurun. Kita tahu bahwa salah satu fungsi leukosit ini adalah memerangi berbagai jenis virus bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Bila terganggu maka otomatis tubuh akan lebih mudah untuk terserang berbagai jenis penyakit yang berkaitan dengan imunitas tubuh sendiri.

Kegemukan (Obesitas)

Banyak manusia ketika sedang dalam tekanan yang berat maka tindakan yang dilakukannya, atau pun mekanisme koping terhadap stres yang dilakukannya adalah dengan banyak makan. Dan yang lebih membahayakan lagi adalah bila makan ini adalah banyak mengkonsumsi makanan yang kurang sehat atau pun berkolesterol tinggi.

Terlalu banyak makan junk food, camilan tinggi garam dan gula atau minuman berpengawet dan berperisa buatan secara terus-menerus dalam waktu lama bisa mengakibatkan berat badan berlebih atau obesitas.

Selain itu juga akan memberikan dampak yang buruk lainnya yaitu penumpukan kolesterol jahat dalam tubuh dan akan banyak lagi penyakit yang bisa timbul akibat dari obesitas serta kolesterol jahat ini.

Cara Menurunkan Demam Anak

Tips kiat cara menurunkan demam pada anak serta juga perawatan penanganan demam anak secara alami dan medis tentunya perlu diketahui oleh para orang tua mengingat demam pada bayi anak seringkali terjadi pada buah hati kita.

Demam pada anak adalah merupakan hal yang banyak membuat para orang tua memeriksakan kesehatan anaknya pada tenaga medis dokter. Demam merupakan reaksi normal tubuh yang bermanfaat melawan kuman.

Walaupun banyak orangtua memberikan obat penurun panas akan tetapi yang perlu untuk digaris bawahi dan juga ditekankan bahwa tujuan utama obat penurun panas pada anak tersebut adalah membuat anak merasa nyaman, bukan mempertahankan suhu yang normal.

Cara Menurunkan Demam Anak

Saat anak mengalami demam, orang tua harus memperhatikan aktivitas anaknya secara umum, apakah masih bisa bermain, makan dan minum dengan baik, dan perhatikan buang air kecil anaknya setiap 3-4 jam.

Jika anak lebih sering tidur, malas minum dan buang air kecil semakin jarang, segera bawa anak ke dokter. Pada anak sedang tertidur lelap, sebaiknya orangtua tidak membangunkan untuk memberi obat penurun panas.

Obat pereda penurun demam untuk anak-anak banyak macamnya dan mudah didapatkan di apotik-aptik. Namun banyak di antara kita para orang tua yang menghindarinya dan hanya menggunakan obat tersebut bila suhu badannya benar-benar tinggi.

Bahan dasar obat untuk meredakan demam pada anak umumnya adalah parasetamol atau ibuprofen. Keduanya memiliki efek samping, misalnya parasetamol dapat dikaitkan dengan penyakit asma, sedangkan ibuprofen dapat mengakibatkan sakit maag dan masalah ginjal.

Penanganan Pengobatan Perawatan Demam Tinggi Pada Anak


Berikut beberapa hal yang bisa digunakan sebagai cara menurunkan demam panas tinggi anak seperti informasi yang dilansir dari www.parentsindonesia.com jika bayi Anda yang berusia 3 bulan mengalami demam dengan suhu 38 derajat celcius atau di atasnya, segera telepon dokter.

Demam pada bayi bisa sangat berbahaya. Jika anak baru berusia di atas 1 tahun dan demam, orang tua bisa melakukan cara-cara di bawah ini untuk meredakan demamnya sebelum kita membawanya ke dokter atau tenaga medis lainnya yang berkompeten antara lain adalah sebagai berikut :

Mandikan dia

Mandi selama 5 menit menggunakan spon dalam air suam-suam kuku atau air hangat bisa membuat anak merasa lebih dingin dan menurunkan suhu tubuhnya.

Penanganan Pengobatan Perawatan Demam Tinggi Pada Anak

Obat penurun panas

Berikan obat penurun demam Ibuprofen atau asetaminofein seharusnya bisa menurunkan demam anak dan meringankan nyeri tubuh. Namun dosisnya jangan berlebihan. Menurut studi yang dilakukan John Hopkins Children’s Center, kebanyakan orangtua tidak menunggu jangka waktu yang disarankan untuk dosis pemberian obat yang berlebihan untuk anak mereka yang demam.

Selalu berikan acetaminophen—bukan ibuprofen—untuk bayi di bawah 6 bulan, dan jangan pernah memberikan aspirin pada anak. Memberikan aspirin bisa menyebabkan penyakit yang langka dan fatal bernama Reye’s syndrome.

Indikasi pemberian obat penurun panas yang utama adalah Pemberian Obat penurun panas adalah membuat anak merasa nyaman dan mengurangi kecemasan orangtua, bukan menurunkan suhu tubuh.

Pemberian obat penurun panas diindikasikan untuk anak demam dengan suhu 38 derajat Celcius (pengukuran dari lipat ketiak). Dengan menurunkan suhu tubuh maka aktivitas dan kesiagaan anak membaik, dan perbaikan suasana hati (mood) dan nafsu makan juga semakin membaik

Jangan sampai kekurangan cairan

Si kecil kehilangan banyak cairan saat tubuhnya sedang melawan demam. Jadi pastikan Anda memberikannya banyak asupan cairan agar dia tidak mengalami dehidrasi.

Coba berikan rehidrasi oral yang mengandung campuran air dan garam yang bisa membantu anak mendapatkan cairan tubuh lagi, serta cairan elektrolit.

Apabila bayi anda demam pada usia 3 bulan, suhu tubuhnya melebihi 37,5 derajat celcius sebaiknya segera diperiksakan ke dokter anak. Selain itu apabila anak demam dengan kondisi urinnya kental dan kakinya sering kali menggerak-gerakan.

Salah satu penyebabnya bisa dikarenakan infeksi saluran kemih atau demam yang tidak turun-turun selama 3 hari lebih disertai dengan mimisan atau bintik merah,sebaiknya segera bawa anak anda ke dokter untuk melakukan tes kesehatan.

Manfaat Gizi Untuk Ibu Hamil Dan Janin

Pentingnya manfaat dan tujuan pemenuhan gizi nutrisi ibu hamil dan janin dalam rangka menjaga kesehatan ibu hamil dan janin di dalam kandungan perlu untuk diketahui dan dipahami dengan baik dan benar oleh para ibu-ibu dalam masa kehamilan.

Pemenuhan asupan gizi ibu hamil perlu dijaga, karena dalam masa kehamilan tentunya bagi para ibu hamil yang mendapatkan gizi seimbang dan baik diharapkan dapat terhindar dan mencegah dari risiko kesehatan baik bagi janin dan ibu sendiri.

Kebutuhan gizi nutrisi untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan janin dalam setiap semester bulannya bertambah seiring dengan bertambahnya umur kehamilan sang ibu.

Manfaat Gizi Untuk Ibu Hamil Dan Janin

Manfaat fungsi tujuan pemenuhan nutrisi gizi ibu hamil yang baik cukup dan optimal dalam masa kehamilan 9 bulan perlu dijaga dan dipelihara asupannya bulan demi bulannya.

Kelahiran seorang anak buah hati yang sehat dan normal tentunya erat kaitan dan hubungannya dengan kondisi kesehatan sang ibu.

Seorang ibu yang sedang mengandung sebaiknya untuk selalu dan konsen dalam rangka memperhatikan kondisi ketercukupan gizinya supaya janin yang sedang dikandungnya juga terpenuhi kadar gizinya.

Manfaat Nutrisi Bagi Ibu Hamil


Kebutuhan gizi serta nutrisi pada seorang ibu hamil tentunya akan berbeda dengan kebutuhan pada umumnya seorang ibu. Karena nutrisi gizi lebih banyak dibutuhkan ibu hamil untuk kesehatannya sendiri dan juga kesehatan calon bayinya yang masih dalam kandungan.

Berkaitan dengan bertambahnya usia kehamilan seorang ibu hamil, maka kebutuhan gizi ibu hamil juga mengalami peningkatan. Bersamaan dengan meningkatnya berat badan janin yang ada dalam kandungannya pula.

Ketika kita membicarakan mengenai nutrisi ibu hamil ini juga tak terlepas dari bagaimana kita para ibu hamil untuk bisa mengatur Pola Makan Sehat Untuk Ibu Hamil dalam kehidupan sehari-hari selama masa mengandung.

Hanya saja ada beberapa nutrisi gizi ibu hamil yang haris mendapatkan perhatian ekstra dari kita semuanya.

Nutrisi menjadi pengobatan yang komplementer sehingga membantu dalam efektifitas dari pengobatan sehingga pada saat bersamaan dapat mengatasi efek samping bagi pasien. Karena itu, nutrisi atau gizi sangat erat kaitannya dengan kesehatan yang optimal dan peningkatan kualitas hidup. Hasil ukur bisa dilakukan dengan metode antropometri.

Adapun kebutuhan nutrisi pada ibu hamil merupakan sumber makanan yang diperlukan mengandung fosfor, zat kapur, zat besi, protein, yodium, dan vitamin A, vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, dan vitamin B6.

Yang itu semuanya harus menjadi perhatian dan dikonsumsi oleh ibu hamil sehari-hari selama kehamilannya agar perkembangan, pertumbuhan, dan kesehatan ibu dan janinnya sehat dan optimal.

Manfaat Nutrisi Bagi Ibu Hamil

Tujuan pemberian nutrisi pada ibu hamil untuk kesehatan janin dalam kandungan antara lain adalah sebagai berikut yaitu :
  1. Memenuhi kebutuhan bagi ibu dan bayi dalam kandungannya selama masa kehamilan.
  2. Membantu proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan.
  3. Sebagai sumber tenaga bagi ibu dan janinnya.
  4. Mengurangi komplikasi dan resiko pada ibu hamil seperti halnya perdarahan post partum.
  5. Mencegah terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) dan berat badan lahir sangat rendah pada janin.
  6. Menghindari dan mencegah terjadinya infeksi pada waktu persalinan

Jenis Macam Gizi Nutrisi Ibu Hamil Dan Manfaatnya


Berikut ini beberapa jenis gizi yang dibutuhkan oleh para ibu hamil dan juga makanan sumber nutrisi ibu hamil antara lain adalah sebagai berikut yaitu :

Asam Folat

Kebutuhan akan asam folat pada kehamilan sangat penting dalam hal pembentukan sel syaraf dan juga sel-sel pada janin yang ada dalam kandungannya pula. Untuk itu kita harus bisa mencukupi akan hal ini.

Sumber asam folat dapat kita temui pada sumber makanan seperti halnya beras merah, sayuran hijau dan buah-buahan.

Kalori

Kebutuhan kalori ini pada ibu hamil akan juga semakin meningkat dalam trimester kehamilannya. Pada trimester kedua dan ketiga kehamilan akan banyak membutuhkan kalori lebih banyak dibandingkan pada awal-awal kehamilannya.

Zat Besi

Kebutuhan akan zat besi harus bisa dicukupi dengan baik. Karena hal ini berkaitan erat dengan proses pembentukan darah. Karena bila seorang ibu hamil yang kekurangan akan zat besi ini akan bisa berdampak anemia yang tentunya anemia pada ibu hamil ini akan bisa berpengaruh banyak pada kesehatan ibu sendiri dan juga janin yang ada dalam kandungannya.

Protein

Kebutuhan ibu hamil akan protein ini karena protein membantu dalam hal proses pembentukan sel-sel darah selain dari zat besi yang di atas tadi. Selain itu protein sendiri fungsinya dalam tubuh manusia adalah sebagai sumber kalori pula dan juga sebagai zat pembangun dalam berbagai hal dalam tubuh.

Protein juga merupakan salah satu nutrisi yang paling dibutuhkan oleh ibu hamil. Protein memiliki peran yang sangat besar dalam memproduksi sel-sel darah. Selain protein, karbohidrat adalah salah satu nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk kebutuhan energi sehari-hari.

Sumber makanan untuk protein antara lain bisa diperoleh dari susu, keju, daging, biji-bijian, kacang-kacangan.

Kalsium

Keluhan ibu hamil yang umum adalah rasa pegal-pegal dan kebutuhan akan kalsium ini harus terpenuhi dengan baik selain untuk hal tersebut adalah fungsi dan peranan penting lainnya kalsium ini adalah untuk pembentukan serta menjaga pertumbuhan tulang dan gigi, kontraksi otot dan sistem syaraf pada janin yang berada dalam kandungannya.

Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah berkisar 1000 mg/hari. Ibu hamil juga sangat membutuhkan kalsium karena kalsium sangat penting untuk mendukung pertumbuhan bayi.

Vitamin Ibu Hamil

Vitamin Ibu Hamil


Selain itu kebutuhan vitamin ibu hamil juga perlu mendapatkan perhatian yang serius. Berikut ini beberapa jenis macam vitamin yang dibutuhkan ibu hamil dan manfaatnya antara lain adalah sebagai berikut :
  • Vitamin A memberikan manfaat untuk pemeliharaan kulit dan juga pertumbuhan tulang, meskipun demikian penggunaanya tidak berlebihan karena akan berakibat pada gangguan pada embrio.
  • Vitamin B. Manfaat vitamin B pada ibu hamil dan janin antara lain adalah meminimalisir morning sickness bagi ibu hamil selain itu melancarkan pencernaan. dalam perkembagan janin di minggu pertama dan membantu dalam mengurai makanan menjadi sari makanan yang dibutuhkan oleh janin selama masa kandungan
  • Vitamin C. Dalam hal ini manfaat vitamin C bagi ibu hamil diantaranya adalah membantu memudahkan penyerapan zat besi itu sendiri.
  • Vitamin D bermanfaat untuk pembentukan tulang karena membantu proses penyerapan kalsium. Selain itu Vitamin D memiliki manfaat dalam mengurangi resiko hipertensi dan diabetes. Selain itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan kesulitan bernafas pada bayi. Bantuan sinar matahari memiliki peran dalam memberikan vitamin D pada tubuh
  • Vitamin E sangat bagus untuk kesuburan, kelembaban kulit dan penguat rahim.
  • Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah dan kesehatan tulang.
Kandungan vitamin sangat dibutuhkan mengingat tubuh tidak dapat menghasilkan vitamin. Sedangkan vitamin memiliki fungsi yang besar dalam membantu anda dalam proses metabolisme.

Begitu pula pemenuhan kebutuhan vitamin mineral zat gizi pada ibu hamil yang tentunya lebih membutuhkan vitamin yang tidak sekedar dalam metabolisme tubuh akan tetapi yang bermanfaat dalam membantu perkembangan janin dalam kandungan pula.

Konsil Keperawatan Bab 9 UU Keperawatan 2014

Bab IX Undang Undang Keperawatan 2014 tentang Konsil Keperawatan lanjutan dari Undang Undang Keperawatan tentang Organisasi Profesi Perawat

BAB IX

KONSIL KEPERAWATAN

Pasal 47

  1. Untuk meningkatkan mutu Praktik Keperawatan dan untuk memberikan pelindungan serta kepastian hukum kepada Perawat dan masyarakat, dibentuk Konsil Keperawatan.
  2. Konsil Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.

Pasal 48

Konsil Keperawatan sebagai mana dimaksud dalam Pasal 47 berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.

Pasal 49

  1. Konsil Keperawatan mempunyai fungsi pengaturan, penetapan, dan pembinaan Perawat dalam menjalankan Praktik Keperawatan.
  2. Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Konsil Keperawatan memiliki tugas:
    1. melakukan Registrasi Perawat;
    2. melakukan pembinaan Perawat dalam menjalankan Praktik Keperawatan;
    3. menyusun standar pendidikan tinggi Keperawatan;
    4. menyusun standar praktik dan standar kompetensi Perawat; dan
    5. menegakkan disiplin Praktik Keperawatan.
  3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan fungsi dan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Konsil Keperawatan.

Pasal 50

Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, Konsil Keperawatan mempunyai wewenang:

  1. menyetujui atau menolak permohonan Registrasi Perawat, termasuk Perawat Warga Negara Asing;
  2. menerbitkan atau mencabut STR;
  3. menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin profesi Perawat;
  4. menetapkan dan memberikan sanksi disiplin profesi Perawat; dan
  5. memberikan pertimbangan pendirian atau penutupan Institusi Pendidikan Keperawatan.

Pasal 51

Pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan Konsil Keperawatan dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara dan sumber lain yang tidak mengikat sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 52

  1. Keanggotaan Konsil Keperawatan terdiri atas unsur Pemerintah, Organisasi Profesi Keperawatan, Kolegium Keperawatan, asosiasi Institusi Pendidikan Keperawatan, asosiasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan tokoh masyarakat.
  2. Jumlah anggota Konsil Keperawatan paling banyak 9 (sembilan) orang. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi, pengangkatan, pemberhentian, dan keanggotaan Konsil Keperawatan diatur dengan Peraturan Presiden.

Posting ini berlanjut dengan UU Keperawatan Bab X Pengembangan Pembinaan Pengawasan Perawat

Undang Undang Keperawatan 2014 BAB 7 dan 8

Bab 6 Undang Undang Keperawatan 2014 telah diposting Disini selanjutnya Undang Undang Keperawatan 2014 BAB 7 dan 8

BAB VII

ORGANISASI PROFESI PERAWAT

Pasal 41

  1. Organisasi Profesi Perawat dibentuk sebagai satu wadah yang menghimpun Perawat secara nasional dan berbadan hukum.
  2. Organisasi Profesi Perawat bertujuan untuk:
    1. meningkatkan dan/atau mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, martabat, dan etika profesi Perawat; dan
    2. mempersatukan dan memberdayakan Perawat dalam rangka menunjang pembangunan kesehatan.

Pasal 42

Organisasi Profesi Perawat berfungsi sebagai pemersatu, pembina, pengembang, dan pengawas Keperawatan di Indonesia.

Pasal 43

Organisasi Profesi Perawat berlokasi di ibukota negara Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di daerah.

BAB VIII

KOLEGIUM KEPERAWATAN

Pasal 44

  1. Kolegium Keperawatan merupakan badan otonom di dalam Organisasi Profesi Perawat.
  2. Kolegium Keperawatan bertanggung jawab kepada Organisasi Profesi Perawat.

Pasal 45

Kolegium Keperawatan berfungsi mengembangkan cabang disiplin ilmu Keperawatan dan standar pendidikan tinggi bagi Perawat profesi.

Pasal 46

Ketentuan lebih lanjut mengenai Kolegium Keperawatan diatur oleh Organisasi Profesi Perawat.

ASKEP HIPERTENSI




A.   KONSEP DASAR MEDIS


1.      Pengertian
Menurut JNC (joint national commite). Hipertensi adalah tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90   mmHg (Doenges 1993). Menurut WHO (1978) bahwa hipertensi adalah tekanan darah dengan sistolik > 160 mmHg dan diastolic > 95 mmHg (Soeparman 1987). Hipertensi adalah peninggian tekanan darah di atas normal.
-         Merupakan golongan penyakit yang terjadi akibat suatu mekanisme kompensasi kardiovaskuler untuk mempertahankan tubuh.
-         Apabila hipertensi tak terkontrol akan menyebabkan kelainan pada organ lain yang berhubungan dengan system tersebut. Semakin tinggi tekanan darah, lebih besar kemungkinan timbulnya penyakit kardiovaskuler.
-         Penyulit pada jantung dan segala manifestasi kliniknya disebut “penyakit jantung hipertensif” (Prof. dr. Lily I. Rilantono DSJP 1988).

2.      Insiden 
               Hipertensi sering ditemukan pada usia menengah dan lanjut, dapat pula ditemukan pada orang muda dan anak. Perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Tapi perempuan lebih tahan daripada laki-laki tanpa terjadinya kerusakan jantung atau pembuluh darah. Keturunan juga merupakan factor penting.

3.      Etiologi dan patogenesis 
Tekanan darah hanya dapat meninggi bila tahanan arterial perifer terhadap aliran darah meninggi. Kenaikan tahanan perifer disebabkan oleh: 
a.       Vasokontraksi yang meluas daripada saluran darah tepi terutama arteriol dan arteri kecil.
b.      Penyakit organic pembuluh darah yang merata. 
Jantung harus mempertahankan cardiac output yang normal terhadap tahanan perifer yang meninggi, Ada 3 teori yaitu:
a.       Bila pembesaran otot jantung melebihi perbekalan darah dan terjadi anoxia.
b.  Hipertensi merupakan factor penting untuk terjadinya atherosklerosis arteri coronaria yang selanjutnya memudahkan terjadinya anoxia myocardium.
c.   Hipertensi yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah ginjal dan menghambat ekskresi natrium dan air.

4.      Patofisiologi 
             Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor: aliran darah dan tahanan. Aliran darah ditentukan oleh cardiac output (kekuatan, kecepatan, ritmi dari denyutan jantung dan volume darah). Tahanan ditentukan oleh diameter dari pembuluh darah dan sedikit viskositas darah. Peningkatan tekanan perifer sebagai akibat dari penyempitan arteriola merupakan karasteristik pada hipertensi. 
Dilatasi dan kontriksi arteriola perifer dapat dikendalikan oleh stimulus pada system saraf simpatis dan pengaktifan system angiotensin yang rangsangannya dapat mengeluarkan epineprin dan norepineprin menyebabkan kontriksi pembuluh darah dan peningkatan resistensi perifer.
Epinefrin meningkatkan tenaga kontraksi cardiac sambil menyempitkan saluran menyebabkan tekanan darah meningkat.
Ditandai dengan hipertrofi ventrikel kiri dan penyakit jantung iskemik. Hipertensi merupakan factor resiko penyakit jantung insufisiensi yang kedua dan mempunyai hubungan yang erat. Gagal jantung disritmia kordis dan mati mendadak yang disebabkan oleh kedua macam kelainan tersebut.

5.      Gambaran klinis
a.       Dyspnea paroxymal malam hari.
b.      Cepat lelah.
c.     Dyspnoe arhopnoe, batuk, hemoptysis, karena kongesti dan edema paru akibat statis darah vena dalam paru.
d.      Palpitasi.
e.       Sakit kepala pada occipital sering timbul pada pagi hari.
f.       Kelainan pembuluh retina (hypertensi retinopati).
g.      Vertigo dan muka merah.
h.      Epistaksis spontan.

6.      Pemeriksaan Diagnostik
a.       Diagnosis secara klinis
Pemeriksaan paling sederhana untuk mendiagnosis hipertrofi ventrikel kiri ialah secara palpasi. Durasi bertambah karena periode ejeksi ventrikel memanjang yaitu lebih dari 2/3 waktu sistolik. Bila sudah terjadi dilatasi ventrikel kiri, ictus cordis akan bergeser ke kiri bawah.
b.      Diagnosis secara radiologis 
      Dari pemeriksaan radiology pada pasien hypertropi konsentrik akan didapatkan gambaran besar jantung masih dalam batas normal, pembesaran jantung didapaatkan bila sudah terjadi dilatasi ventrikel kiri.
c.       Diagnosis secara elektrokardiografis 
    Pada umumnya voltase tinggi di precordial lead merupakan kriteria diagnosis untuk hipertrofi ventrikel kiri yang paling sensitif, tetapi juga mempunyai false positive yang cukup tinggi.
d.      Diagnosis secara ekokardiografis.
Pemeriksaan ekokardiografi dapat mendeteksi hipertrofi ventrikel kiri secara dini. Ekokardiografi dapat mendeteksi kelainan anatomic dan fungsional jantung pasien hypertensi asimtomatik yang belum didapatkan kelainan pada Elektrokardiogram dan radiologis.
Dengan pemeriksaan ekokardiografis didapatkan prevalensi hipertrofi ventrikel kiri – eko kira-kira 5 – 10 x lebih tinggi dari hipertrofi ventrikel kiri pada elektrokardiogram. Disamping untuk pemeriksaan anatomi, ekokardiografi juga dapat digunakan untuk menilai fungsi sistolik dan diastolic ventrikel kiri.

7.      Pengobatan
Tujuan umum pengobatan hypertensi ialah pengendalian hypertensi untuk memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang usia. Pada penyakit jantung hipertensif pengobatan ditujukan untuk :
1)      Pengobatan kausatif ialah pengobatan hipertensi.
2)      Pencegahan terjadinya hipertrofi ventrikel kiri dan regresi hipertrofi ventrikel kiri apabilah sudah terjadi.
3)      Pencegahan dan pangobatan penyakit jantung insufisiensi, disfungsi ventrikel kiri, diastolic, maupun sistolik dan disritmia kordis.

Secara teoritis penurunan tekanan darah dengan mengurangi afterload akan mengurangi tegangan dinding ventrikel kiri dan menyebabkan pengurangan massa ventrikel kiri.
Regresi hipertrofi ventrikel kiri dapat dilakukan dengan pengobatan non farmakologis dan farmakologis. Pengobatan non farmakologis dapat berupa penurunan berat badan dan diet rendah garam. Pengobatan farmakologis untuk regresi hipertrofi ventrikel kiri pada hipertensi berdasarkan penelitian yang didapatkan ACE inhibitor, beta-blocker, antagonis kalsium dan diuretik mengurangi massa ventrikel kiri dan ternyata ACE inhibitor menunjukkan pengobatan yang paling efektif.

8.      Komplikasi
-          Angina pectoris.
-          Infark myokard.
-          Hipertropi ventrikel kiri menyebabkan kegagalan jantung kongestif.
-          Kerusakan ginjal permanen menyebabkan kegagalan ginjal.
-          Stroke.

B.     KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1.      Pengkajian

Dasar Data Pengkajian Pasien

a.       Aktifitas
Gejala    :   Kelemahan, letih nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda    :   Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, tachypnea.
b.      Sirkulasi
Gejala    :   Riwayat hipertensi, atherosklerosis, penyakit jantung kongesti/katup dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda    :   Kenaikan tekanan darah.
                  Nadi: denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, perbedaan denyut.
Denyut apical: titik point of maksimum impuls, mungki bergeser atau sangat kuat.
Frekuensi/irama: takikardia, berbagai disritmia.
Bunyi jantung: tidak terdengar bunyi jantung I, pada dasar bunyi jantung II dan bunyi jantung III.
Murmur stenosis valvular.
Distensi vena jugularis/kongesti vena.
Desiran vaskuler tidak terdengar di atas karotis, femoralis atau epigastrium (stenosis arteri).
Ekstremitas: perubahan warna kulit, suhu dingin, pengisian kapiler mungkin lambat atau tertunda.
c.       Integritas ego
Gejala    :   Riwayat kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah kronik, factor stress multiple.
Tanda    :   Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak, gerak tangan empati, muka tegang, gerak fisik, pernafasan menghela nafas, penurunan pola bicara.
d.      Eliminasi
Gejala    :   Gejala ginjal saat ini atau yang lalu (misalnya: infeksi, obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa lalu).
e.       Makanan dan cairan
Gejala    :   Makanan yang disukai mencakup makanan tinggi garam, lemak, kolesterol serta makanan dengan kandungan tinggi kalori.
Tanda    :   Berat badan normal atau obesitas.
Adanya edema, kongesti vena, distensi vena jugulalaris, glikosuria.
f.       Neurosensori
Gejala    :   Keluhan pening/ pusing, berdenyut, sakit kepala sub occipital.
                Episode bebas atau kelemahan pada satu sisi tubuh.
                Gangguan penglihatan dan episode statis staksis.
Tanda    :   Status mental: perubahan keterjagaaan, orientasi. Pola/isi bicara, afek, proses fikir atau memori.
Respon motorik: penurunan kekuatan, genggaman tangan
Perubahan retinal optik: sclerosis, penyempitan arteri ringan – mendatar, edema, papiladema, exudat, hemorgi.
g.      Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala    :   Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung).
                Nyeri tungkai yang hilang timbul/klaudasi.
                Sakit kepala  oxipital berat.
                Nyeri abdomen/massa.
h.      Pernafasan (berhubungan dengan efek cardiopulmonal tahap lanjut dari hipertensi menetap/berat).
Gejala    :   Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja tachypnea, ortopnea, dispnea, nocturnal paroxysmal, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda    :   Distress respirasi/penggunaan otot aksesori pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis.
l.        Keamanan
Keluhan :   Gangguan koordinasi/cara berjalan.
Gejala    :   Episode parastesia unilateral transien, hypotensi postural.

Diagnosa keperawatan

a.       Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
b.      Intolerans aktifitas
c.       Nyeri (akut)
d.      Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh.
e.       Koping individual tidak efektif
f.       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana pengobatan.



2.     Diagnosa dan Intervensi

a.      Curah jantung, penurunan, resti, terhadap.
Berhubungan dengan        : Peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia myokardia, hypertropi/rigiditas (kekakuan) ventrikuler,
Tujuan:
-          Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima.
-          Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang dan pasien.

Intervensi
1.)    Pantau tekanan darah.
Rasional: perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler.
2.)    Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
Rasional: denyutan karotis, jugularis, radialis, dan femoralis mungkin diamati atau tekanan palpasi. Denyutan pada tungkai mungkin menurun: efek dari vasokontraksi.
3.)    Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas.
Rasional: bunyi jantung IV umum terdengar pada hipertensi berat dan kerusakan fungsi adanya krakels mengi dapat mengindikasi kongesti paru sekunder terhadap atau gagal jantung kronik.
4.)    Amati warna kulit, kelembaban suhu, dan masa pengisian kapiler.
Rasional: mungkin berkaitan dengan vasokontraksi atau mencerminkan dekompensasi atau penurunan curah jantung.
5.)    Catat edema umum/tertentu.
Rasional: mengindikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
6.)    Beri lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktifitas/keributan lingkungan dan batasi jumlah pengunjung dan lamannya tinggal.
Rasional: membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis, menurunkan relaksasi.
7.)    Pertahankan pembatasan aktifitas (jadwal istirahat tanpa gangguan, istirahat di tempat tidur/kursi), bantu pasien melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
Rasional: menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi.
8.)    Lakukan tindakan yang nyaman (pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur).
Rasional: mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
9.)    Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi, dan panduan imajinasi.
Rasional: menurunkan rangsangan stress membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
10.)    Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
Rasional: respon terhadap terapi obat tergantung pada individu dan efek sinergis obat.
Kolaborasi:
11.)    Berikan obat-obat sesuai indikasi seperti:
Diuretik tiazoid: diuril, esidrix, bendroflumentiazoid
Rasional: dapat memperkuat agen antihipertensi lain dengan membatasi retensi cairan.
Diuretic loop: furosemid, etakrinic, bumetanoid, dan lain-lain.
Rasional: menghasilkan diuresis kuat dengan menghambat resorpsi natrium dan klorida.
12.)    Berikan pembatasan cairan dan diet natrium sesuai indikasi.
Rasional: dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensi yang dapat melibatkan beban kerja jantung.
13.)    Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.
Rasional: bila hipertensi berhubungan dengan adanya fcokromositoma maka pengangkatan tumor dapat memperbaiki kondisi.
b.      Intoleran aktifitas
Berhubungan dengan: kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan:     
-          Berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan/diperlukan.
-          Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat diukur.
-          Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda toleransi fisiologis.

Intervensi
1.)   Kaji respon pasien terhadap aktifitas frekuensi nadi, peningkatan tekanan darah yang nyata selama/sesudah aktifitas, dyspnea, nyeri dada, keletihan, dan kelemahan, diasporesis, pusing, dan pingsan.
Rasional: menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologis stress terhadap aktifitas dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktifitas.
2.)  Instruksikan tehnik penghematan energi (menggunakan kursi saat mandi, duduk, menyisir rambut atau menyikat gigi, lakukan aktifitas dengan perlahan.
Rasional: dapat mengurangi penggunaan energi dan membantu keseimbangan antara suplai antara suplai dan kebutuhan O2.
3.)  Berikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional: kemajuan aktifitas bertahap mencegah penurunan kerja jantung tiba.

c.       Nyeri (akut), sakit kepala berhubungan dengan: peningkatan tekanan vaskuler serebral.
Tujuan:
-          melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/tidak terkontrol.
-          Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan.

Intervensi:
1.)    Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional: meminimalkan stimulasi atau menurunkan relaksasi.
2.)  Berikan kompres dingin pada dahi, pijat punggung, dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, tehnik relaksasi.
Rasional: menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/ memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasi.
3.) Hilangnya/minimalkan aktifitas vasokonstriksi yang dapat menurunkan dan sakit kepala, misalnya: batuk panjang, mengejan saat BAB, dan lain-lain.
Rasional: menyebabkan sakit kepala pada adanya tekanan vaskuler serebral karena aktifitas yang meningkatkan vaskonotraksi.
4.)    Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
 Rasional: pusing dan pengelihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala.
5.)    Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres di hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan.
Rasional: menaikkan kenyamanan kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan mukosa.

Kolaborasi:
6.) Berikan sesuai indikasi:
1. Analgesik menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan system saraf simpatis.
2.      Antiancietas (diazepam, lorazepam)
Rasional: dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang diperbuat oleh stress.

d.      Nutrisi, perubahan, lebih dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan: Masukan berlebihan sehubungan dengan metabolic
Pola hidup monoton.
Keyakinan budaya.
Tujuan:
-         Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan.
-         Menunjukkan perubahan pola makan.
-         Mempertahankan berat badan yang diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
-         Melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepat.
Intervensi:
1)      Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.
Rasional: kegemukan adalah resiko tambahan pada hipertensi karena kondisi proporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.
2)      Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, gula sesuai indikasi.
Rasional: kesalahan kebiasaan maksimum menunjang terjadinya atherosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya.
3)      Tetapkan keinginan pasien untuk menurunkan berat badan.
Rasional: motivasi penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil.
4)      Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
Rasional: membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/penyuluhan dan mengidentifikasi kekuatan/ kelemahan dalam program diet terakhir.
5)   Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi dan kolesterol.
Rasional: penting untuk mencegah perkembangan aterogenesis.
Kolaboratif.
 Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi.
Rasional: memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual.

e.   Koping individual, inefektif berhubungan dengan:
-         Krisis situasional/diaturasional.
-         Perubahan hidup beragam.
-         Relaksasi tidak adekuat.
-         System pendukung tidak adekuat.
-         Persepsi tidak realistic.
-         Sedikit atau tidak pernah olahraga.
-         Nutrisi buruk.
-         Harapan yang tidak terpenuhi.
-         Kerja tidak berlebihan.
-         Metode koping tidak efektif.

Tujuan:
-         Mengidentifikasi kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi.
- Mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari/mengubahnya.
-         Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan/metode koping efektif.

Intervensi
1.)  Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, misalnya: kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
Rasional: mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari.
2.)    Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah.
Rasional: manifestasi mekanisme koping maladaptik mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama tekanan darah diastolic.
3.) Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah.
Rasional: pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor.
4.)    Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan berikan dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.
Rasional: memperbaiki keterampilan koping dan dapat meningkatkan kerjasama dalam regimen teraupetik.
5.)     Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup. 
     Rasional: focus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.
f.    Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan dengan:
-         Kurang pengetahuan/daya ingat
-         Misinterpretasi informasi
-         Keterbatasan kopnitif.
-         Menyangkal diagnosa.
Tujuan:
-         Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan
-         Mempertahankan tekanan darah dalam parameter normal.
-         Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.
Intervensi:
1.)   Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk orang terdekat.
Rasional : Mengidentifikasi kemampuan klien dalam menerima pembelajaran.
2.) Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal, dan otak.
Rasional : Meningkatkan pengetahuan klien tentang tekanan darah normal dan efek hipertensi.
3.) Hindari mengatakan tekanan darah normal dan gunakan istilah terkontrol dengan baik saat menggambarkan tekanan darah pasien dalam batas yang diinginkan.
Rasional : Tekanan darah normal pada setiap orang berbeda tergantung pada banyak faktor.
4.) Bantu pasien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko kardiovaskuler yang dapat diubah misalnya obesitas, diet, tinggi lemak jenuh, kolesterol, pola hidup monoton, dan minum alcohol, pola hidup stress.
Rasional : Mencegah meningkatnya tekanan darah dengan memperhatikan faktor – faktor resiko.
5.)   Rekomendasikan untuk menghindari mandi air panas, ruang penguapan, penggunaan alcohol yang berlebihan. 
       Rasional : Dapat menyebabkan tekanan darah berubah – ubah.
6.)     Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberi perawatan sebelum menggunakan obat. 
       Rasional : Menghindari terjadinya resiko overdosis obat.
7.)       Instruksikan pasien tentang peningkatan masukan makanan atau cairan tinggi kalium. 
        Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

e.       Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan/implementasi harus sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi. Dalam pelaksanaan keperawatan ada 4 tindakan yang dilakukan yaitu :
a.       Tindakan mandiri
b.      Tindakan observasi
c.       Tindakan health education
d.      Tindakan kolaborasi

f.       Evaluasi
Tahapan evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan dapat dicapai, sehingga dalam mengevaluasi efektivitas tindakan keperawatan. Perawat perlu mengetahui kriteria keberhasilan dimana kriteria ini harus dapat diukur dan diamati agar kemajuan perkembangan keperawatan kesehatan klien dapat diketahui Dalam evaluasi dapat dikemukakan 4 kemungkinan yang menentukan keperawatan selanjutnya yaitu :
a.       Masalah klien dapat dipecahkan .
b.      Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.
c.       Masalah klien tidak dapat dipecahkan.
d.      Dapat muncul masalah baru.
Evaluasi untuk klien dengan hipertensi dapat disesuaikan dengan masalah yang telah ditanggulangi dengan mengacu pada tujuan yang telah ditentukan.
a.       Apakah tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima oleh klien ?.
b.      Apakah klien dapat beraktifitas secara mandiri ?.
c.       Apakah kebutuhan nutrisi klien terpenuhi ?.
d.      Apakah klien dapat menggunakan koping yang efektif ?.
e.       Apakah pemahaman klien tentang penyakit meningkat ?.