Leaflet Kanker Prostat

Leaflet Kanker Prostat - askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting ( Baca : Leaflet Serangan Jantung dan Stroke )

Apakah Prostat itu?

Prostat adalah kelenjar yang merupakan bagian dari sistem urogenetal pria. Berukuran dan berbentuk seperti kenari terletak dibawah kandung kencing, dimuka rektum, mengelilingi uretra (pipa yang menyalurkan urine dari kandung kemih keluar tubuh). Prostat menghasilkan cairan semen yang berfungsi sebagai pembawa sperma

Apa saja penyakit yang bisa menyerang Prostat?

Leaflet | Kanker | Ca | Carsinoma | Prostat | Benign | Prostate | Hypertropy | BPH | Pengertian | Adalah | Resiko | Gejala | Tanda | Screening | PSA | Prostate | Spesific | Antigen

Seiring dengan bertambahnya usia, makin banyak penyakit yang bisa mengenai prostat, diantaranya: pembesaran prostat jinak (Benign Prostate Hypertropy - BPH), Prostatitis dan Kanker Prostat

Apakah Kanker Prostat itu?

Jika sel membelah secara berlebihan, terjadilah tumor. Pada kanker prostat, terjadi pembelahan dan pertumbuhan sel kelenjar prostat secara berlebihan. Kanker prostat merupakan jenis kanker yang paling sering pada pria dan merupakan penyebab kematian utama karena kanker

Siapa saja yang beresiko untuk terkena Kanker Prostat?

Kanker prostat bisa menyerang siapa saja, terutama yang mempunyai faktor resiko sebagai berikut :

  1. Pria usia diatas 55 tahun
  2. Riwayat kanker prostat pada keluarga
  3. Diet tinggi lemak
  4. Riwayat pembesaran prostat jinak (BPH)
  5. Obesitas / kegemukan
  6. Kurang olah raga
  7. Merokok
  8. Riwayat paparan radiasi pelvis

Apakah Gejala dan Tanda Kanker Prostat

Kanker prostat pada stadium dini sering tidak memberikan gejala apapun. Penyakit awalnya berkembang lambat, akan tetapi pada tahap yang lebih lanjut akan muncul gejala :

  1. Sering kencing terutama malam hari
  2. Sulit memulai kencing
  3. Tidak bisa kencing
  4. Aliran kencing lemah atau tersendat-sendat
  5. Nyeri atau panas saat kencing
  6. Gangguan ereksi
  7. Nyeri saat ejakulasi
  8. Terdapat darah dalam urine atau semen
  9. Nyeri atau kaku di punggung bawah, panggul atau paha atas

Apa yang dimaksud dengan Screening untuk Kanker Prostat?

Screening adalah pemeriksaan terhadap pria tanpa gejala kanker prostat. Bertujuan untuk mendeteksi kanker prostat sedini mungkin. Terdapat 2 cara screening yaitu DRE (Digital Rectal Examination) atau pemeriksaan colok dubur, serta pemeriksaan kadar PSA darah. Pemeriksaan colok dubur murah dan mudah dilakukan tapi kurang efektif karena 50% kanker prostat tidak terdeteksi.

Apakah PSA itu?

PSA (Prostate Spesific Antigen) merupakan protein yang hanya dihasilkan oleh kelenjar prostat. Tinggi rendahnya kadar PSA dapat membedakan berbagai kelainan prostat. Akan tetapi, pemeriksaan PSA saja belum mampu menyingkirkan atau menegakkan diagnosa Kanker Prostat. Kombinasi pemeriksaan colok dubur dan PSA memberikan efektifitas yang optimal untuk screening kanker prostat

Apa yang harus dilakukan jika pemeriksaan positif?

Jika pemeriksaan colok dubur dan PSA menunjukkan kecurigaan ke arah kanker prostat, biasany dokter akan meminta periksa biopsi, yaitu dengan mengambil sedikit sampel jaringan prostat dan diperiksa menggunakan mikroskop. Pemeriksaan ini untuk memastikan diagnosis kanker prostat secara akurat

Apa yang harus dilakukan jika hasil positif menderita Kanker Prostat

Kanker prostat bukan penyakit yang tak dapat diobati. Tergantung pada stadium kanker dan penyebarannya. Pilihan terapi meliputi: pembedahan, terapi radiasi, terapi hormon dan kemoterapi. Semakin dini kanker terdeteksi, semakin besar kemungkinan keberhasilan terapi

Apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghindarkan diri dari Kanker Prostat?

  1. Lakukan pemeriksaan PSA setiap tahun mulai usia 45 tahun, bila terdapat riwayat kanker prostat pada keluarga
  2. Waspada bila terjadi peningkatan kadar diatas 25%, segera konsultasikan hasil test pada Dokter
  3. Deteksi dini memberikan keberhasilan terapi yang lebih besar

Demikian posting tentang Leaflet Kanker Prostat, semoga bermanfaat..


Askep Asuhan Keperawatan Post Vacum Ekstraksi Kala II Tak Maju

askep kapukonline.com update Askep Asuhan Keperawatan Post Vacum Ekstraksi Kala II Tak Maju. Setelah sebelumnya posting ( Baca : Askep Persalinan Vacum Ekstraksi )

KONSEP DASAR

A. Pengertian

Post partum atau masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas 6-8 minggu (Mochtar, 1998 : 115).

Sedangkan menurut Prawirohardjo (2001 : 187) post partum adalah masa dimana alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.

askep | asuhan | keperawatan |Post | Vacum | Ekstraksi | Kala II | Tak | Maju

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18-24 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2000 : 100).

Sedangkan Farrer (2001 : 118) berpendapat bahwa persalinan normal adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm (bukan prematur atau post matur) mempunyai janin (tunggal) dengan presentasi verteks (puncak kepala) terlaksana tanpa bantuan, tidak mencakup komplikasi (seperti perdarahan hebat) mencakup kelahiran plasenta yang normal.

Fase laten kala II kontraksi rahim yang lemah disekitar waktu pembukaan lengkap sering kali dijumpai fase laten kala II sering dipandang abnormal dan dapat ditangani sebagai inersia uteri. Pada fase aktif kala II ditandai dengan penurunan janin dan usaha untuk mengejan tanpa sadar, fase ini kadang-kadang disebut sebagai bagian panggul dari persalinan, periode mengejan, kontraksi usaha mengejan dan posisi tubuh wanita merupakan kekuatan yang tergabung untuk melahirkan bayi (Simkin, 2005 : 89).

Persalinan dengan vakum esktraksi adalah suatu persalinan buatan di mana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) pada kepalanya (Prawirohardjo, 2000 : 10).

Menurut Saifuddin (2000 : 495) vakum ekstraksi merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi.

Sedangkan Mochtar (1998 : 120) berpendapat bahwa vakum ekstraksi merupakan suatu alat yang dipakai untuk memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir.

B. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita

Anatomi dan fisiologi sistem reproduksi wanita terdiri dari organ interna, yang terletak di dalam rongga pelvis dan genital eksterna yang terletak di perineum. (Menurut Bobak 2004;29 ).

  1. Struktur eksterna
    1. Mons pubis atau mons veneris
      Adalah jaringan lemak subkutan berbentuk lunak dan padat. Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea (minyak) dan ditumbuhi rambut berwarna hitam, kasar dan ikal pada masa pubertas, yakni sekitar satu sampai dua tahun sebelum awitan haid
    2. Labia mayora
      Adalah dua lipatan kulit panjang melengkung yang menutupi lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons pubis. Sensitivitas labia mayora terhadap sentuhan, nyeri dan suhu tinggi, hal ini diakibatkan adanya jaringan saraf yang menyebar luas yang juga berfungsi selama rangsangan seksual.
    3. Labia minora
      Adalah lipatan kulit panjang, sempit dan tidak berambut yang memanjang ke arah bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette, terdapat banyak pembuluh darah sehingga tampak kemerahan.
    4. Klitoris
      Adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil, mengandung banyak pembuluh darah dan saraf sensoris sehingga sangat sensitif. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksual.
    5. Vestibulum
      Merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labia minora) dibatasi oleh klitoris dan perinium, dalam vestibulum terdapat muara-muara dari introiuts vagina uretra, kelenjar bartolini dan kelenjar skine.
    6. Fourchette
      Adalah lipatan jaringan tranversal yang pipih dan tipis, terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan minora di garis tengah di bawah orifisium vagina.
    7. Perineum
      Adalah daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus vagina dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm.
  2. Struktur interna
    1. Ovarium
      Merupakan kelenjar terletak di kanan kiri uterus, di bawah dan di belakang tuba fallopi terikat oleh ligamentum latum uterus (mesovarium dan ovari proprium). Saat ovulasi (pematangan folikel degraf dan mengeluarkan ovum), ukuran ovarium dapat menjadi 2 kali lipat untuk sementara. Sebelum menarche permukaan ovarium licin, setelah maturitas sexual timbul luka parut akibat ovulasi dan ruptur folikel yang berulang membuat permukaan nodular menjadi kasar.
      Fungsi ovarium adalah :
      1. Memproduksi ovum
      2. Memproduksi hormon (estrogen dan progesteron)
    2. Tuba falopi atau tuba uterin
      Sepasang tuba falopi melekat pada fundus uterus memanjang ke arah lateral, panjang ± 10 cm dengan diameter 0,6 cm. Setiap tuba terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan peritonium (luar), lapisan otot tipis (tengah), lapisan mukosa (dalam). Tuba falopi terdiri 4 segmen meliputi :
      1. Interstitialis: Bagian yang terdapat di dinding uterus
      2. Ismus: Merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya
      3. Ampularis: Bagian yang berbentuk saluran leher tempat konsepsi agak lebar
      4. Infundibulum: Bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyai fimbria untuk menangkap ovum kemudian menyalurkan ke tuba

      Fungsi tuba falopi adalah menghantarkan ovum dari ovarium ke uterus. Perjalanan ovum dalam tuba fallopi didorong oleh gerakan peristaltik lapisan otot yang dipengaruhi oleh estrogen dan prostaglandin. Aktifitas ini terjadi saat ovulasi.
    3. Uterus
      Adalah organ berotot, terletak di dalam pelvis antara rektum dan vesika urinaria, panjang ± 7,5 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm, berat 50 gram.
      1. Uterus terdiri dari :
        1. Fundus uteri: Merupakan benjolan bulat dibagian atas dan terletak di atas insersi tuba falopi.
        2. Korpus uteri: Bagian yang mengelilingi cavum uteri (rongga rahim) berfungsi sebagai tempat janin berkembang.
        3. Ismus/servik uteri Ujung servik menuju puncak vagina disebut porsio, hubungan antara kavum uteri, dan kanalis servikalis disebut ostium uteri internium
      2. Fungsi uterus :
        Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan, pembuahan ovum secara normal terjadi di dalam tuba uterin, endometrium disiapkan untuk menerima ovum yang telah dibuahi, dan ovum tertanam dalam endometrium. Pada waktu hamil uterus bertambah besar dindingnya menjadi tipis tetapi kuat dan besar sampai ke luar pelvis masuk ke dalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan janin. Pada saat melahirkan uterus berkontraksi mendorong bayi dan plasenta keluar.
    4. Vagina
      Tabung yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris khusus dialiri banyak pembuluh darah dan serabut saraf. Panjangnya dari vestibulum sampai uterus 7,5 cm. Merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Dinding depan vagina 9 cm, lebih pendek dari dinding belakang, pada puncak vagina menonjol leher rahim (servik uteri) yang disebut porsio. Bentuk vagina lapisan bagian dalam berlipat-lipat disebut rugae.
    5. Servik (bagian paling bawah uterus)
      Disusun oleh jaringan ikat fibrosa, serabut otot, jaringan elastis, karakteristik servik atau kemampuannya meregang pada saat melahirkan anak pervaginaan, dipengaruhi oleh jaringan ikat yang banyak dan kandungan serabut yang elastis. Lipatan di dalam lapisan endoservik dan 10 % kandungan serabut otot.

C. Etiologi

  1. Teori-teori terjadinya persalinan menurut Manuaba (1998 : 158) :
    1. Teori keregangan
      Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas waktu tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai.
    2. Teori penurunan progesteron
      Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin. Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu.
    3. Teori oksitosin internal
      Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi braxton hicks. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat besarnya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat dimulai
    4. Teori prostaglandin
      Teori prostaglandin meningkat sejak umur 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan terjadinya persalinan
    5. Teori hipotalamus-pituatri dan glandula suprarenalis
      Teori menunjukkan pada kehamilan dengan anersefalus, sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas janin, induksi mulainya persalinan. Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya persalinan.
  2. Indikasi dilakukan vakum ekstraksi menurut (Prawirohardjo, 2000 : 82) :
    1. Untuk mempercepat kala II misalnya : penyakit jantung kompensta, penyakit paru-paru fibrotik.
    2. Waktu kala II yang memanjang
    3. Gawat janin (masih kontroversi)
    4. Kelelahan ibu
    5. Partus tak maju
  3. Penyebab lambatnya kala II menurut (Simkin, 2005 : 13)
    1. Posisi dan strategi lain untuk dugaan janin oksiput posterior atau oksiput transversal menetap.
    2. Diduga disproporsi kepala panggul (CPD).
    3. Diduga terjadi distasia emosional

D. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis masa nifas menurut Depkes (2004 : 6)

  1. Adaptasi fisik
    1. Tanda-tanda vital
      Pada 24 jam pertama suhu meningkat hingga 38°C sebagai akibat efek dehidrasi selama persalinan. Pada hari ke-2 sampai sepuluh suhu meningkat karena adanya infeksi kemungkinan mastitis infeksi infeksi traktus urinarius. Periode 6-8 hari sering terjadi bradikadi.
    2. Sistem kardiovaskuler
      Tekanan darah ibu harus kembali stabil sesudah melahirkan. Berkeringat dan menggigil disebabkan oleh ketidakstabilan vasomotor, komponen darah yang meliputi haemoglobin, hematokrit, dan eritrosit ibu post partus sesuai sebelum melahirkan.
    3. Sistem tractus urinarius
      Selama proses persalinan kandung kemih merupakan sasaran untuk mengalami trauma yang dapat disebabkan karena tekanan dan edema. Perubahan ini dapat menimbulkan overdistensi dan pemenuhan kandung kemih yang terjadi selama 2 hari post partum. Hematuri pada periode early post partum menunjukkan adanya trauma pada kandung kemih selama persalinan, selanjutnya bisa terjadi infeksi pada saluran kemih. Aseton dapat terjadi karena dehidrasi setelah persalinan lama, aliran darah ke ginjal glomerular filtration dan ureter dalam waktu sebulan secara bertahap akan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
    4. Sistem endokrin
      Mengikuti lahirnya placenta maka segera terjadi penurunan estrogen, progesteron dan prolaktin dengan cepat. Pada wanita tidak menyusui prolaktin akan terus menurun sampai normal pada minggu pertama. Perubahan payudara kolostrum sebelum produksi susu dapat muncul pada trimester III kehamilan dan dilanjutkan pada minggu pertama post partum.
    5. Sistem gastrointestinal
      Kembalinya fungsi normal usus besar biasanya pada minggu pertama post partum.
    6. Sistem muskuloskeletal
      Otot abdomen secara bertahap atau melebar selama kehamilan, menyebabkan pengurangan tonus otot yang akan terlihat jelas pada periode post partum.
    7. Sistem reproduksi
      1. Involusi uteri
        Pada akhir kala III ukuran uterus panjang 14 cm, lebar 12 cm, tebal 10 cm, berat kurang lebih 1000 gram sama dengan umur 16 minggu kehamilan.
      2. Kontraksi uterus
        Dengan adanya kontraksi uterus akan menjepit pembuluh darah uterus sehingga perdarahan dapat terhenti.
      3. Lochea
        Adalah sekret yang berasal dari kavum uteri yang dikeluarkan melalui vagina pada masa nifas. Macam-macam lochea antara lain : lochea rubra, lochea serosa, lochea alba, lochea purulenta, lochiostatis.
      4. Cervix
        Servik dan segmen uterus dengan bawah akan tampak edema tipis dan terbuka pada beberapa hari setelah melahirkan.
      5. Vagina dan perineum
        Secara bertahap akan kembali ke sebelum hamil dalam 6-8 minggu setelah post partum.
  2. Adaptasi psikologi; menurut (Bobak, 2000 : 740)
    1. Proses parenting (proses menjadi orang tua) adalah masa menjadi orang tua secara biologis mulai sat terjadinya penemuan antara ovum dan sperma.
    2. Attachment dan bonding adalah proses terjadinya rasa cinta dan menerima anak dan anak menerima serta mencintai orang tua.
    3. Peran tugas dan tanggung jawab orang tua sesudah kelahiran
      Ada 3 periode tugas dan tanggung jawab menurut (Bobak, 2000 : 745)
      1. Periode awal
        Periode ini orang tua akan mengorganisir hubungan orang tua dengan anaknya.
      2. Periode konsol idasi
        Mencakup egoisasi terhadap peran (suami-istri, ayah, ibu, orang tua, anak, saudara-saudara).
      3. Periode pertumbuhan
        Orang tua-anak akan berkembang dalam peranannya masing-masing sampai dengan dipisahkan oleh kematian.
    4. Penyesuaian ibu (maternal adjustment)
      Ada 3 fase perilaku ibu, menurut (Bobak, 2000 : 743)
      1. Fase dependent (taking in)
        Pada hari 1-2 pertama ibu lebih memfokuskan pada dirinya sendiri.
      2. Fase dependent-independen (taking hold)
        Ibu mulai menunjukkan perluasan, fokus intervensi yaitu memperlihatkan bayinya.
      3. Fase dependen
        Dalam fase ini terjadi ketidaktergantungan dalam merawat diri dan bayi lebih meningkat.

E. Patofisiologi

Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses persalinan kelahiran yaitu passenger (penumpang yaitu janin dan placenta), passagway (jalan lahir), powers (kekuatan) posisi ibu dan psikologi (Farrer, 1999 : 189). Penumpang, cara penumpang atau janin bergerak disepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap dan posisi janin. Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus (lubang luar vagina).

Meskipun jaringan lunak khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu lebih berperan dalam proses persalinan janin. Maka dari itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan. Kekuatan ibu melakukan kontraksi involunter dan volunter. Posisi ibu, posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan, posisi tegak memberi sejumlah keuntungan yaitu rasa letih hilang, merasa nyaman dan memperbaiki sirkulasi.

Pada kala II memanjang upaya mengedan ibu menambahi resiko pada bayi karena mengurangi jumlah oksigen ke placenta dianjurkan mengedan secara spontan jika tidak ada kemajuan penurunan kepala maka dilakukan ektraksi vakum untuk menyelamatkan janin dan ibunya (Simkin, 2005 : 2150).

Dengan tindakan vakum ekstraksi dapat menimbulkan komplikasi pada ibu seperti robekan pada servik uteri dan robekan pada dinding vagina. Robekan servik (trauma jalan lahir) dapat menyebabkan nyeri dan resiko terjadinya infeksi (Doenges, 2001 : 388) dan komplikasi pada janin dapat menyebabkan subgaleal hematoma yang dapat menimbulkan ikterus neonatorum jika fungsi hepar belum matur dan terjadi nekrosis kulit kepala yang menimbulkan alopenia (Prawirohardjo, 2002 : 840.)

Pengeluaran janin pada persalinan menyebabkan trauma pada uretra dan kandung kemih dan organ sekitarnya (Reeder, 1999 : 645). Kapasitas kandung kemih post partum meningkat sehingga pengeluaran urin pada awal post partum banyak sehingga dapat mengakibatkan perubahan pola eliminasi urin (Doenges, 2001 : 295). Nyeri dapat mengakibatkan aktivitas terbatas sehingga terjadi penurunan peristaltik usus yang menyebabkan konstipasi (Manuaba, 2003 : 64).

Setelah bayi dilahirkan uterus akan menyesuaikan dengan keadaan tanpa janin kemudian memulai proses kontraksi dan retraksi, plasenta akan mulai terangkat dari dinding uterus sehingga pembuluh darah besar yang ada dalam uterus di belakang plasenta akan berdarah dan darah yang keluar akan mengisi retroplasenta. Jika sudah terisi darah perdarahan berhenti dan darah membeku hal ini menyebabkan kontraksi uterus lebih lanjut sehingga terjadi pelepasan plasenta (Farrer, 1999 : 61).

Setelah plasenta lahir terjadi penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron dan digantikan hormon hipofise anterior yaitu prolaktin yang akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI (Farrer, 1999 : 193). Kelenjar hipofise posterior menghasilkan oksitosin sebagai reaksi terhadap pengisapan puting. Oksitosin mempengaruhi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveoli mamae sehingga alveoli tersebut berkontraksi dan mengeluarkan air susu yang sudah diekskresikan oleh kelenjar mamae (Farrer, 1999 : 201).

Isapan bayi menimbulkan rangsangan hipofise melalui nervus interkostalis 4-6, menuju dorsal root, spinal cord nucleus praventrikularis dan supra optikus sehingga oksitosin dapat dikeluarkan. Fungsi oksitosin yaitu merangsang mioepitel sekitar alveoli dan duktus berkontraksi sehingga ASI dapat dikeluarkan, merangsang kontraksi uterus sehingga mempercepat involusi uteri (Manuaba, 2003 : 66).

F. Pathway

  1. Download Pathway Vacum Ekstraksi

G. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik post partum menurut Mochtar ( 1998 : 118) meliputi :

  1. Pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi, keluhan, suhu badan.
  2. Payudara : ASI, putting susu, areola
  3. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum.
  4. Sekret yang keluar misalnya lochea, flour albus.
  5. Keadaan alat-alat kandungan

Pemeriksaan post partum dengan episiotomi berfokus pada REEDA kemerahan (redness), pembengkakan (edema) bintik biru (echimosis) pengeluaran cairan (discharge), penyatuan jaringan (aproximation).

Pemeriksaan post vakum ekstraksi menurut (Saefudin, 2002) meliputi :

  1. Pemeriksaan bimanual untuk menemukan bukaan servik, besar, arah dan konsistensi uterus dan kondisi fornises.
  2. Pemeriksaan kedalaman dan lengkung uterus dengan penera kavum uteri.

H. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan post partum spontan dengan vakum ekstraksi menurut Mochtar (1998 : 112) adalah :

  1. Pada robekan perinium lakukan penjahitan dengan baik lapis demi lapis, perhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka ke arah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka.
  2. Segera mobilisasi dan realimentasi.
  3. Konseling keluarga berencana.
  4. Berikan antibiotika cukup.
  5. Pada luka perinium lama lakukan perineoplastik dengan membuka luka dan menjahitnya kembali sebaik-baiknya.

I. Fokus Pengkajian

Fokus pengkajian post partum menurut Doenges (2001 : 387) antara lain :

  1. Aktivitas atau istirahat
    Dapat tampak berenergi atau kelelahan atau keletihan, mengantuk.
  2. Sirkulasi
    Nadi biasanya lambat (50 sampai 70 dpm) karena hipersensitivitas vagal. Tekanan darah bervariasi, mungkin lebih rendah pada respons terhadap analgesia atau meningkat pada respons terhadap pemberian oksitosin atau hipertensi karena kehamilan.
    Edema bila ada, mungkin dependen atau dapat meliputi ekstremitas atas dan wajah atau mungkin umum. Kehilangan darah selama persalinan dan kelahiran sampai 400-500 ml untuk kelahiran vaginal atau 600-800 ml untuk kelahiran sesarea.
  3. Integritas ego
    Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah, misalnya eksitasi atau perilaku menunjukkan kurang kedekatan, tidak berminat (kelelahan).
  4. Eliminasi
    Hemoroid sering ada dan menonjol. Kandung kemih mungkin teraba di atas simfisis pubis. Diuresis dapat terjadi bila tekanan bagian presentasi menghambat aliran urinarius.
  5. Makanan atau cairan
    Dapat mengeluh haus, lapar atau mual.
  6. Neuro sensori
    Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya anestesia spinal atau analgesia kauda. Hiperfleksia mungkin ada.
  7. Nyeri atau ketidaknyamanan
    Dapat melaporkan ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya setelah nyeri, trauma jaringan atau perbaikan episiotomi, kandung kemih penuh atau menggigil.
  8. Keamanan
    Pada awalnya suhu tubuh meningkat sedikit. Perbaikan episiotomi utuh, dengan tepi jaringan merapat.
  9. Seksualitas
    Fundus keras berkontraksi, pada garis tengah dan terletak setinggi umbilikus. Drainase vagina atau lokhea jumlahnya sedang, merah gelap, dengan hanya beberapa bekuan kecil. Perineum bebas dari kemerahan, edema, ekimosis atau rabas. Striae mungkin ada pada abdomen, paha dan payudara. Payudara lunak, dengan puting tegang.
  10. Penyuluha atau pembelajaran
    Catat obat-obatan yang diberikan, termasuk waktu dan jumlah.
  11. Pemeriksaan diagnostik
    Hemoglobin atau hematokrit, jumlah darah lengkap, urinalisis.

J. Diagnosa Keperawatan dan Fokus Intervensi

Fokus intervensi pada pasien post partum spontan berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan menurut (Tucker ,1998 : 869)adalah sebagai berikut :

  1. Nyeri berhubungan dengan episiotomi, nyeri setelah melahirkan dan atau ketidaknyamanan payudara.
    1. Intervensi :
      1. Atasi nyeri berikan obat sesuai program
      2. Berikan kantong es pada perineum
      3. Anjurkan ibu untuk mengeratkan bokong bersamaan bila duduk pada luka episiotomi nyeri.
      4. Antisipasi kebutuhan terhadap penghilang nyeri
      5. Anjurkan ibu untuk menggunakan tehnik relaksasi
      6. Periksa payudara setiap 4 sampai 8 jam
      7. Izinkan ibu menggunakan bra penyongkong setiap waktu
      8. Kompres payudara selama 15 menit – 3 menit setiap 1-3 jam
      9. Massase payudara secara manual tekan payudara
  2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan insisi atau laserasi
    1. Intervensi :
      1. Observasi kondisi episiotomi dan dokumentasi setiap hari
      2. Perhatikan terhadap peningkatan suhu tubuh atau perubahan lain pada parameter vital sign
      3. Lakukan perawatan perineum
      4. Perhatikan dan laporkan adanya drainase bau busuk
      5. Berikan antibiotik sesuai program
  3. Konstipasi berhubungan dengan episiotomi dan hemoragi sekunder terhadap proses kelahiran.
    1. Intervensi :
      1. Jamin masukan cairan adekuat
      2. Berikan pelunak feses atau laksatif sesuai program
      3. Anjurkan pasien untuk ambulasi sesuai toleransi
      4. Perhatikan diit reguler
  4. Resiko kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan pasca persalinan
    1. Intervensi :
      1. Anjurkan cairan per oral.
      2. Ukur masukan dan haluaran selama 24 jam
      3. Pertahankan cairan parenteral dengan eksitosik program
      4. Hindari massage yang tidak perlu
      5. Ganti pembalut perineal setiap 30-60 menit sesuai kebutuhan
      6. Bila fundus lunak masage sampai keras
  5. Resiko retensi urin berhubungan dengan trauma dan edema lanjut sekunder terhadap kelahiran.
    1. Intervensi :
      1. Anjurkan cairan setiap hari sampai 3 liter kecuali dikontraindikasikan
      2. Anjurkan berkemih dalam 6-8 jam setelah melahirkan
      3. Berikan tehnik untuk membantu berkemih sesuai kebutuhan dengan berkemih rendam bokong
  6. Resiko terhadap perubahan peran orang tua berhubungan dengan transisi pada masa menjadi orang tua.
    1. Intervensi :
      1. Penuhi ketergantungan ibu selama berada pada fase 2-3 hari pertama
      2. Bantu dan ajarkan ibu untuk melakukan semua tugas perawatan bayi
      3. Ajarkan ibu dan pengunjung tehnik mencuci tangan yang baik
      4. Libatkan pasangan atau orang tua atau orang terdekat dalam perawatan bayi dan penyuluhan
      5. Hindari tehnik negatif pada ibu
  7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan pasca persalinan.
    1. Intervensi :
      1. Demonstrasikan perawatan payudara
      2. Tekankan pentingnya diit nutrisi
      3. Anjurkan pasien untuk menghindarkan koitus selama 4-6 minggu atau sesuai intruksi dokter.
      4. Jelaskan pentingnya kebersihan perineum
      5. Jelaskan pentingnya latihan ringan pada awal

Doenges (2001 : 237) juga menambahkan diagnosa yang muncul pada post partum berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan sebagai berikut :

  1. Berduka berhubungan dengan kematian janin atau bayi
    1. Intervensi :
      1. Libatkan pasangan dalam perencanaan perawatan
      2. Identifikasi ekspresi dan tahap berduka
      3. Tentukan makna kehilangan terhadap kedua anggota pasangan
      4. Perhatikan pola komunikasi antara anggota pasangan dan sistem pendukung
      5. Kuatkan realita situasi dan anjurkan diskusi dengan klien
      6. Anjurkan keluarga untuk mengekspresikan perasaan dan mendengar
      7. Kaji beratnya depresi
      8. Perhatikan tingkat aktivitas klien, pola tidur, nafsu makan, personal
  2. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan kebutuhan perawatan bayi berhubungan dengan kurang informasi.
    1. Intervensi :
      1. Berikan rencana penyuluhan dengan menggunakan format yang standarisasi.
      2. Pertahankan status psikologis klien dan respon terhadap kelahiran bayi dan peran menjadi ibu
      3. Anjurkan partisipasi dalam perawatan bila klien mampu
      4. Demonstrasikan tehnik-tehnik perawatan bayi
      5. Kaji ulang tingkat pengetahuan pasien
  3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, tindakan invasif.
    1. Intervensi :
      1. Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan dengan cermat
      2. Bersihkan luka dan ganti balutan bila basah
      3. Perhatikan jumlah dan bau lochea
      4. Kaji suhu, nadi, dan jumlah sel darah putih
      5. Perhatikan perawatan perineal dan kateter
      6. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
  4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal dan psikologis (sangat gembira, ansietas) nyeri.
    1. Intervensi :
      1. Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat.
      2. Kaji faktor-faktor bila ada yang mempengaruhi istirahat.
      3. Berikan lingkungan yang tenang.
      4. Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai ASI.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bobak, Loudermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas (terjemahan), Edisi 4, EGC, Jakarta
  2. Bobak, M..I., Jensen, D. M., 2000, Perawatan Maternitas dan Ginekologi (terjemahan), Edisi 1, YIA. PKP, Bandung.
  3. Carpenito, L.J., 2001, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik (terjemahan), EGC, Jakarta.
  4. Depkes, RI., 2004, Asuhan Keperawatan Post Partum Mata Ajaran Keperawatan Maternitas, Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Semarang.
  5. Dongoes, M.E., 2001, Rencana Keperawatan Maternal Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Pasien (terjemahan), Edisi 2, EGC, Jakarta.
  6. Farrer, H., 1999, Perawatan Maternitas (terjemahan), EGC, Jakarta.
  7. Manuaba, I.B.G., 1998, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC, Jakarta.
  8. Potter and Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktek, Edisi 4, EGC, Jakarta
  9. Prawirohardjo, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
  10. Prawirohardjo, 2000, Ilmu Kebidanan, Y.B.P.S.P, Jakarta.
  11. Reeders, S.J., 1997, Maternity Nursing Family Newborn and Klomens Healt Care, Lippinclot, Company, Philadelphia.
  12. Saefuddin, A.B., 2000, Buku Acuan Nasional (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal), JNPKK POGI, Jakarta.
  13. Tucker, S.M., 1998, Standar Perawatan Pasien Proses Keperawatan Diagnosa dan Evaluasi (terjemahan), EGC, Jakarta.
  14. Underwood, J. C., 1999, Patologi umum dan sistemik, Editor edisi Bahasa Indonesia, sarjadi, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Demikian posting tentang Askep Asuhan Keperawatan Post Vacum Ekstraksi Kala II Tak Maju, semoga bermanfaat..

Pemeriksaan Petanda Tumor dan Pemeriksaan Lain : Fungsi dan Artinya

Pemeriksaan Petanda Tumor dan Pemeriksaan lain : Fungsi dan Artinya | Askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting ( Baca : Pemeriksaan Imunoserologi : Fungsi dan Artinya )

Pemeriksaan Petanda Tumor (Tumor Marker)

  1. AFP (Alfa Feto Protein)
    Merupakan petanda tumor untuk hati dan tumor-tumor germinal
  2. CEA (Carcino-Embronic Antigen
    Merupakan petanda tumor untuk usus dan payudara
  3. PSA (Prostate Specific Antigen
    Merupakan petanda tumor untuk prostat

Pemeriksaan lain-lain

Pemeriksaan | Petanda | Tumor |Ca | Kanker | cancer | Fungsi | Arti | Tumor Marker | Urin | Feces | Rutin | EEG | ECG | EKG | Rekam | Otak | deteksi

  1. Urin Rutin
    Untuk membantu mendiagnosis adanya infeksi saluran kencing (karena bakteri, parasit, jamur), batu saluran kencing
  2. Mikroalbumin Urin
    Adanya mikroalbumin dalam urine merupakan petanda kebocoran ginjal (setelah menyingkirkan penyebab-penyebab albuminuria yang lain). Sebelum dilakukan pemeriksaan mikroalbumin, dilakukan skrining protein urin lebih dulu. Jika protein urine (+), pemeriksaan mikroalbumin ditunda dulu, sampai penyebab proteinuria teratasi
  3. Feses Rutin
    Untuk membantu menegakkan diagnosis penyebab diare
  4. USG 3D
    Untuk mendiagnosa ada tidaknya batu, radang, tumor pada organ dalam tubuh
  5. USG 4D
    Untuk mendiagnosa jenis kelamin, letak placenta, ada tidaknya kelainan pada janin
  6. EEG (Rekam Otak)
    Untuk mendukung diagnosa klinik penyakit epilepsi dan untuk membantu mengklasifikasikan sindrom epilepsi
  7. Foto Thorax
    Untuk mendeteksi kelainan pada paru-paru
  8. Panoramic
    Untuk mendeteksi kelainan pada gigi dan rongga mulut
  9. Mammografi
    Untuk mendeteksi kelainan pada payudara
  10. EKG
    Alat rekam jantung, untuk mendeteksi kelainan pada jantung
  11. Treadmill
    Untuk mendeteksi dini penyakit jantung koroner, dilakukan diatas ban berjalan seperti alat olah raga pada umumnya, dilengkapi dengan monitor dan alat rekam jantung (EKG)
  12. Audiometri
    Alat test pendengaran
  13. Spirometri
    Alat test pernafasan
  14. Fisioterapi
    Untuk mempercepat penyembuhan kelainan gangguan otot, sendi dan jaringan lunak
  15. Pap Smear
    Untuk mendeteksi kanker leher rahim

Demikian posting tentang Pemeriksaan Petanda Tumor dan Pemeriksaan lain : Fungsi dan Artinya, semoga bermanfaat...!!!

Pemeriksaan Imunoserologi : Fungsi dan Artinya

Pemeriksaan Imunoserologi : Fungsi dan Artinya | Askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting ( Baca : Pemeriksaan Kimia Darah : Fungsi dan Artinya )

  1. Feritin
    Mengetahui cadangan besi dalam tubuh
  2. HBsAG
    Untuk mengetahui adanya infeksi virus Hepatitis B
    1. Jika HBsAG Positif: Terinfeksi virus Hepatitis B
    2. Jika HBsAG Positif selama lebih dari 6 bulan: Berarti pasien menderita Hepatitis B kronis; disarankan untuk rutin memeriksakan fungsi hati (SGOT, SGPT, Protein Total, Albumin, AFP) minimal 6 bulan sekali
  3. Anti HBs
    Untuk mengetahui adanya antibody / zat kekebalan terhadap virus Hepatitis B
    1. Pada penderita Hepatitis B, anti HBs positif merupakan tanda kesembuhan
    2. Pada pasien yang belum / sudah mmendapatkan vaksinasi Hepatitis B, jika anti HBs positif berarti pasien sudah mempunyai kekebalan terhadap infeksi virus Hepatitis B. Disarankan untuk rutin memeriksakan kadar anti HBs, jika kadar Anti HBs menurun, perlu diberikan vaksinasi ulang
    3. Jika HBsAg dan Anti HBs negatif: Pasien belum pernah terinfeksi dan belum mempunyai kekebalan terhadap infeksi Hepatitis B, disarankan untuk vaksinasi
  4. HBeAg
    Disarankan untuk diperiksa bila HBsAg positif. Bila HBeAg positif berarti penderita masih infeksius (Berpotensi menularkan virus Hepatitis B)
  5. HBV DNA
    Untuk mengetahui jumlah virus hepatitis B yang masih hidup: digunakan untuk memantau perjalanan penyakit dan terapi Hepatitis B
  6. Anti HCV
    Untuk mengetahui adanya antibody terhadap virus Hepatitis C. Anti HCV positif berarti pasien menderita Hepatitis C
  7. HCV RNA
    Untuk mengetahui jumlah virus Hepatitis C yang masih hidup, dipergunakan untuk memantau perjalanan penyakit dan terapi Hepatitis C
  8. Anti Dengue IgM dan IgG
    Untuk mengetahui adanya infeksi virus dengue, penyebab demam dengue / demam berdarah
  9. Anti Toxoplasma IgM
    Untuk mengetahu adanya infeksi akut dari Toxoplasma Gondii
  10. Anti Toxoplasma IgG
    Merupakan petanda adanya kekebalan terhadap infeksi Toxoplasma Gondii
  11. Anti CMV IgM
    Untuk mengetahui adanya infeksi akut dari CMV (Cytomegalovirus)
  12. Anti CMV IgG
    Merupakan petanda adanya kekebalan terhadap infeksi CMV (Cytomegalovirus)
  13. Anti Rubella IgM
    Untuk mengetahui adanya infeksi akut dari virus Rubella
  14. Anti Rubella IgG
    Merupakan petanda adanya kekebalan terhadap infeksi Rubella
  15. AntiHSV2 IgM
    Untuk mengetahui adanya infeksi akut dari virus Herpes Simpleks tipe 2
  16. Anti HSV2 IgG
    Merupakan petanda adanya kekebalan terhadap infeksi virus Herpes Simpleks tipe 2
  17. VDRL, TPHA
    VDRL dan TPHA merupakan tes skrining / penapis untuk mengetahui adanya penyakit sifilis

Pemeriksaan | Imunoserologi | Feritin | HBsAG | Hepatitis B | Anti HBs | HBeAg | HBV DNA | Anti HCV | HCV RNA | IgM | IgG | CMV | HSV2 | VDRL | TPHA |

Posting berlanjut dengan ( Baca : Pemeriksaan Petanda Tumor dan Pemeriksaan lain : Fungsi dan Artinya )

Demikian posting tentang Pemeriksaan Imunoserologi : Fungsi dan Artinya, semoga bermanfaat...

Pemeriksaan Kimia Darah : Fungsi dan Artinya

Pemeriksaan Kimia Darah : Fungsi dan Artinya | Askep kapukonline.com. Setelah sebelumnya posting ( Baca : Pemeriksaan Darah (Hematologi) : Fungsi dan Artinya )

  1. Glukosa (Sewaktu, Puasa dan 2 jam PP)
    Untuk mengetahui kadar Glukosa darah, sehingga membantu menentukan terapi pasien diabetes
  2. Cholesterol Total, Trigliserida, HDL, LDL Direk
    Untuk mengetahui profil lemak pasien, sehingga membantu menentukan terapi, memantau terapi, menentukan faktor resiko PJK dan Stroke
  3. Lp(a)
    Merupakan faktor resiko stroke
  4. Small dense-LDL
    LDL berukuran kesil dan lebih berbahaya dari LDL, merupakan faktor resiko PJK dan stroke
  5. Ureum (BUN), Kreatinin
    Untuk mengetahui fungsi ginjal
  6. Asam Urat
    Untuk mengetahui adanya penyakit Gout Arthritis (nyeri sendi karena tingginya kadar asam urat)
  7. SGOT, SGPT
    Untuk mengetahui fungsi hati, sehingga membantu mendiagnosis kelainan hati
  8. Billirubin
    Peningkatan kadar billirubin bisa terjadi karena penyakit hati dan empedu (karena radang / infeksi, sumbatan batu, tumor) atau pemecahan sel darah merah yang berlebihan
  9. Protein Total
    Untuk mengetahui apakah seseorang menderita kekurangan protein, untuk mengetahui fungsi hati (hati merupakan organ yang menghasilkan protein)
  10. Albumin
    Kekurangan albumin dapat terjadi pada penyakit hati (misalnya serosi), kekurangan gizi, kebocoran di ginjal (misalnya sindrom nefrotik)
  11. Globulin
    Penurunan kadarnya berarti terdapat gangguan kekebalan tubuh. Peningkatan kadar globulin terjadi pada infeksi, penyakit hati dan beberapa keganasan.
  12. Cholenesterase (CHE)
    Merupakan enzim hati yang dipergunakan untuk membantu menentukan apakah fungsi sintetis dari hati masih baik
  13. Alkali Fosfatase (ALP) Gamma-GT
    Meruoakan enzim yang dihasilkan oleh hati dan saluran empedu. Peningkatan kadarnya berarti kemungkinan ada kelainan (radang, infeksi, batu, tumor) pada hati dan saluran empedu
  14. Protein Elektrophoresis (SPF)
    Merupakan test untuk mengetahui proporsi (%) fraksi-fraksi protein dalam darah (albumin, a1- dan a2-globulin, b-globulin, dan g-globulin

Posting berlanjut dengan ( Baca : Pemeriksaan Imunoserologi : Fungsi dan Artinya )

Demikian posting tentang Pemeriksaan Kimia Darah : Fungsi dan Artinya, semoga bermanfaat...

Pemeriksaan Darah / Hematologi : Fungsi dan Artinya

Pemeriksaan Darah (Hematologi) : Fungsi dan Artinya | kapukonline.com

  1. Hematologi Rutin
    Mengetahui adanya kelainan darah seperti anemia (kurang darah), adanya infeksi atau kelainan sel darah putih yang lain, alergi dan gangguan pembekuan darah akibat kelainan jumlah trombosit
  2. Fibrinogen
    Pemeriksaan fibrinogen berguna untuk mengetahui adanya kelainan pembekuan darah, mengetahui adanya resiko terjadinya pembekuan darah (peningkatan resiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan Stroke dan mengetahui adanya gangguan fungsi hati
  3. Test Agregasi Trombosit (TAT)
    TAT berguna untuk mengetahui gangguan agregasi
    1. Hiperagregasi berarti peningkatan kecenderungan trombosit membentuk agregasi, sehingga meningkatkan resiko stroke dan PJK
    2. Hipoagregasi berarti trombosit "malas" membentuk bekuan, sehingga meningkatkan resiko perdarahan
  4. Golongan Darah dan Rhesus
    Untuk mengetahui golongan darah berdasar sistem ABO dan Rhesus faktor. Dalam tranfusi darah, darah donor dan darah penerima harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor
  5. IgM Anti Salmonella Typhi
    Untuk mendeteksi penyakit Tifus

Pemeriksaan Kimia Darah : Fungsi dan Artinya

Posting berlanjut dengan ( Baca juga : Pemeriksaan Kimia Darah : Fungsi dan Artinya )

Demikian posting tentang Pemeriksaan Darah (Hematologi) : Fungsi dan Artinya, semoga bermanfaat

Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal

Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal - kapukonline.com | ASKEP ANAK

Definisi / Pengertian Malformasi Anorektal

Malformasi anorektal (anus imperforate) ialah suatu malformasi kongenital dimana rektum tidak mempunyai jalan keluar. Jadi pada kasus ini anus tertutup sama sekali dan tebalnya bagian yang tertutup ini bermacam-macam.

Klasifikasi Malformasi Anorektal

Terdapat 3 macam bentuk anus imperforate :

  1. Anomali tinggi (Supralevator) : Rektum berakhir diatas M.Levat0r ani (M.Puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum > 1 cm. Letak supralevator biasanya disertai dengan fistel kesaluran kencing atau kesaluran genital
  2. Anomali Intermediate : Rektum terletak pada M.Levator ani tapi tidak menembusnya
  3. Anomali Rendah : Rektum berakhir dibawah >Levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.

Etiologi Malformasi Anorektal

Penyebabnya tidak diketahui. Tidak ada faktor resiko jelas yang mempengaruhi seorang anak dengan anus imperforata. Tetapi, hubungan genetik terkadang ada. Paling banyak kasus anus imperforata jarang tanpa adanya riwayat keluarga, tetapi beberapa keluarga memiliki anak dengan malformasi.

Patofisiologi Malformasi Anorektal

Embriogenesis malformasi ini tidak jelas. Rectum dan anus berkembang dari bagian dorsal usus atau ruang cloaca ketika mesenchym bertumbuh ke dalam membentuk septum anorectum pada midline. Septum ini memisahkan rectum dan canalis anus secara dorsal dari vesica urinaria dan uretra. Ductus cloaca adalah penghubung kecil antara 2 usus. Pertumbuhan ke bawah septum urorectalis menutup ductus ini selama 7 minggu kehamilan.

Selama itu, bagian ventral urogenital berhubungan dengan dunia luar; membran analis dorsalis terbuka kemudian. Anus berkembang dengan penyatuan tuberculum analis dan invaginasi external, diketahui sebagai proctodeum, yang mengarah ke rectum tetapi terpisah oleh membran anal. Membran pemisah ini akan terpisahkan pada usia 8 minggu kehamilan.

Gangguan perkembangan struktur anorectum pada tingkat bermacam-macam menjadi berbagai kelainan, berawal dari stenosis anus, anus imperforate, atau agenesis anus dan gagalnya invaginasi proctodeum. Hubungan antara tractus urogenital dan bagian rectum menyebabkan fistula rectourethralis atau rectovestibularis.

Tanda dan Gejala Malformasi Anorektal

Secara klinik pada bayi ditemukan tidak adanya mekonium yang keluar dalam waktu 24-48 jam setelah kelahiran atau tidak tampak adanya lubang anus. Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan pemasukan thermometer melalui anus.

Tindakan ini tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tetapi juga untuk mengetahui apakah terdapat anus imperforata atau tidak. Bila anus terlihat normal dan terdapat penyumbatan yang lebih tinggi dari perineum maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam, berupa perut kembung, muntah, tidak bisa buang air besar dan ada yang mengeluarkan tinja dari vagina atau ureter.

Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Malformasi Anorektal

  1. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostic yang umum dilakukan pada gangguan ini
  2. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium
  3. Pemeriksaan sinar-X lateral inverse (teknik Wangensteen-Rice) dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada atau di dekat perineum; dapat menyesatkan jika rectum penuh dengan mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal
  4. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak kantong rectal
  5. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan cara menusukkan jarum tersebut sambil melakukan aspirasi; jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm, defek tersebut dianggap sebagai defek tingkat tinggi

Komplikasi Malformasi Anorektal

Semua pasien yang mempunyai malformasi anorectal dengan komorbiditas yang tidak jelas mengancam hidup akan bertahan. Pada lesi letak tinggi, banyak anak mempunyai masalah pengontrolan fungsi usus dan juga paling banyak menjadi konstipasi. Pada lesi letak rendah, anak pada umumnya mempunyai control usus yang baik, tetapi masih dapat menjadi konstipasi.

Komplikasi operasi yang buruk berkesempatan menjadi kontinensia primer, walaupun akibat ini sulit diukur. Reoperasi penting untuk mengurangi terjadinya kontinensia. Kira-kira 90% anak perempuan dengan fistula vestibulum, 80% anak laki-laki dengan fistula ureterobulbar, 66% anak laki-laki dengan fistula ureteroprostatic, dan hanya 15% anak laki-laki dengan fistula bladder-neck mempunyai pergerakan usus yang baik. 76% anak dengan anus imperforata tanpa fistula mempunyai pergerakan usus yang baik.

Selain itu, komplikasi lain yang dapat muncul yaitu :

  1. Asidosis hiperkloremia
  2. Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan
  3. Komplikasi jangka pendek :
  4. Eversi mukosa anal
  5. Stenosis (akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis)
  6. Masalah atau kelambatan yang baerhubungan dengan toilet training
  7. Inkontinensia (akibat stenosis anal atau impaksi)
  8. Prolaps mukosa anorektal (menyebabkan inkontinensia dan rembesan persisten)
  9. Fistula kambuhan (karena tegangan di area pembedahan dan infeksi).

Penatalaksanaan / Pengobatan Malformasi Anorektal

Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan defek. Semakin tinggi lesi, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk anomaly tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir. Bedah definitifnya, yaitu anoplasti perineal (prosedur penarikan perineum abdominal), umumnya ditunda 9-12 bulan.

Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan bertambah baik status nutrisinya. Lesi rendah diatasi dengan menarik kantong rectal melalui sfingter sampai lubang pada kulit ananl. Fistula, bila ada harus ditutup. Defek membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal. Membran tersebut dilubangi dengan hemostat atau scalpel.

Pada kebanyakan kasus, pengobatan malformasi anorektal memerlukan dua tahap tindakan pembedahan. Untuk defek ringan sampai sedang, prognosisnya baik. Defeknya dapat diperbaiki, peristalsis dan kontinensia normal juga dapat diperolah. Defek yang lebih berat umumnya disertai anomaly lain, dan hal tersebut akan menambah masalah pada hasil tindakan pembedahan. Anus imperforata biasanya memerlukan operasi sedang untuk membuka pasase feses.

Tergantung pada beratnya imperforate, salah satu tindakan adalah anoplasti perineal atau colostomy : prosedur operasi termasuk menghubungkan bagian atas colon dengan dinding anterior abdomen, pasien ditinggalkan dengan lubang abdomen disebut stoma. Lubang ini dibentuk dari ujung usus besar melalui insisi dan sutura ke kulit.

Setelah colostomy, feses dibuang dari tubuh pasien melalui stoma, dan terkumpul dalam kantong yang melekat pada abdomen yang diganti bila perlu. Pengobatan pada anus malformasi anorektal juga dapat dilakukan dengan jalan operasi PSARP (Posterio Sagital Anorectoplasy). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk membuka lipatan bokong pasien.

Teknik ini merupakan ganti dari teknik lama yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT). Teknik lama ini mempunyai resiko gagl tinggi karena harus membuka dinding abdomen

Malformasi Anorectal Malformasi Anorectal Malformasi Anorectal

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Askep Malformasi Anorektal

  1. Lakukan pengkajian kepatenan lubang anal pada bayi baru lahir
  2. Observasi adanya pasase mekonium. Perhatikan bila mekonium tampak pada orifisium yang tidak tepat.
  3. Observasi feses yang seperti karbon pada bayi yang lebih besar atau anak kecil yang mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi abdomen
  4. Bantu dengan prosedur diagnostik mis : endoskopi, radiografi

Dioagosa Keperawatan Askep Malformasi Anorektal

  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan. intake tidak adekuat
  2. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
  3. Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan rectum
  4. Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
  5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
  6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
  7. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi

Intervensi Keperawatan Askep Malformasi Anorektal

  1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake tidak adekuat
    1. Tujuan : Mempertahankan Berat Badan stabil / menunjukkan kemajuan peningkatan Berat Badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Pertahankan potensi selang Naso-gastrik. Jangan mengembalikan posisi selang bila terjadi perubahan posisi.
        Rasional : Memberikan istirahat pada traktus GI. Selama fase pasca operasi akut sampai kembali berfungsi normal
      2. Berikan perawatan oral secara teratur
        Rasional : Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah
      3. Kolaborasi pemberian cairan IV,
        Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai
      4. Awasi pemeriksaan laboratorium. Misalnya Hb / Ht dan elektrolit.
        Rasional : Indikator kebutuhan cairan / nutrisi dan keaktifan terapi dan terjadinya konstipasi.
  2. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
    1. Tujuan :
      1. Menyatakan nyeri hilang
      2. Menunjukkan rileks, mampu tidur, dan istirahat dengan tepat
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Catat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri
        Rasional : Membantu mendiagnosa etiologi perdarahan dan terjadinya komplikasi
      2. Catat petunjuk nonverbal. Mis: gelisah, menolak untuk bergerak
        Rasional : Bahasa tubuh / petunjuk non verbal dapat secara prikologis dan fisiologis dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi masalah
      3. Kaji faktor-faktor yang dapat meningkatkan / menghilangkan nyeri
        Rasional : Menunjukkan faktor pencetus dan pemberat dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi
      4. Berikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi dan
        Rasional : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan perhatian, dan meningkatkan koping
      5. Kolaborasi pemberian analgetik
        Rasional : Memudahkan istirahat dan menurunkan rasa sakit
  3. Konstipasi berhubungan dengan gangguan pasase feses, feses lama dalam kolon dan rectum
    1. Tujuan :
      1. Menormalkan fungsi usus
      2. Mengeluarkan feses melalui anus
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja
        Rasional : Memperoleh informasi tentang kondisi usus
      2. Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus
        Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus menunjukkan fungsi defekasi hilang
      3. Berikan enema jika diperlukan
        Rasional : Mungkin perlu untuk menghilangkan distensi
  4. Distres pernafasan berhubungan dengan distensi abdomen
    1. Tujuan: Pola nafas efektif, tidak ada gangguan pernafasan
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Observasi frekuensi / kedalaman pernafasan
        Rasional : Nafas dangkal, distress pernafasan, menahan nafas, dapat menyebabkan hipoventilasi
      2. Dorong latihan napas dalam
        Rasional : Meningkatkan ekspansi paru maksimal dan alat pembersihan jalan napas, sehingga menurunkan resikoatelektasis
      3. Berikan oksigen tambahan
        Rasional : memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan peningkatan kerja nafas
      4. Tinggikan kepala tempat tidur 300
        Rasional : Mendorong pengembangan diafragma / ekspansi paru optimal dan meminimalkan isi abdomen pada rongga thorax
  5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan colostomy
    1. Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Observasi luka, catat karakteristik drainase
        Rasional : Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja
      2. Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik
        Rasional : Sejumlah besar drainase serosa menuntut pergantian dengan sering untuk menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi
      3. Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali
        Rasional : Diperlukan untuk mengobati inflamasi infeksi praap / post op
  6. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kolostomi
    1. Tujuan:
      1. Menyatakan penerimaan diri sesuai situasi
      2. Menerima perubahan kedalam konsep diri
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Dorong pasien/orang terdekat untuk mengungkapkan perasaannya
        Rasional : Membantu pasien untuk menyadari perasaannya yang tidak biasa
      2. Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan
        Rasional : Dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih kuat
      3. Gunakan kesempatan pada pasien untuk menerima stoma dan berpartisipasi dan perawatan
        Rasional : Ketergantungan pada perawatan diri membantu untuk memperbaiki kepercayaan diri
      4. Berikan kesempatan pada anak dan orang terdekat untuk memandang stoma
        Rasional : Membantu dalam menerima kenyataan
      5. Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien
        Rasional : Meningkatkan kontrol dan harga diri
      6. Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan
        Rasional : Membantu pasien menerima kondisinya dan perubahan pada tubuhnya
  7. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi
    1. Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / proses penyakit, tindakan dan prognosis
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Tentukan persepsi anak tentang penyakit
        Rasional : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu
      2. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis
        Rasional : Meningkatkan pemahaman dan kerjasama
      3. Tekankan pentingnya perawatan kulit pada orang tua
        Rasional : Menurunkan penyebaran bakteri

Bagan penatalaksanaan bayi dengan malformasi anorektal

Bagan penatalaksanaan bayi dengan malformasi anorektal

Demikian posting tentang Askep / Asuhan Keperawatan Malformasi Anorektal, semoga bermanfaat dan silahkan Share dengan teman-teman anda .... !!

Leaflet Serangan Jantung dan Stroke

Leaflet Serangan Jantung dan Stroke - kapukonline.com

Serangan Jantung adalah : keadaan dimana kerja jantung terganggu karena otot jantung mengalami kerusakan akibat kekurangan suplai oksigen dan zat makanan karena gangguan peredaran darah menuju otot jantung.

Stroke : adalah gangguan fungsi otak akibat kerusakan otak karena gangguan peredaran darah menuju otak

Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di tempat tidur.

Penyebab serangan jantung dan Stroke adalah sama, yaitu gangguan aliran darah menuju jantung dan otak akibat sumbatan pada pembuluh darah

PENYEBAB SERANGAN JANTUNG dan STROKE

  1. Aterosklerosis, yaitu penyempitan atau kekakuan pembuluh darah akibat timbunan lemak (Plak) di dinding pembuluh darah.
  2. Trombosis, yaitu sumbatan pada pembuluh darah kecil oleh guguran Plak aterosklerosis yang lepas dari dinding pembuluh darah karena aliran darah yang deras, misalnya tekanan darah tinggi

FAKTOR RESIKO ATEROSKLEROSIS

Faktor Utama :

  1. Dislipidemia (Kelainan profil lemak darah)
  2. Hipertensi (Tekanan darah tinggi)
  3. Diabetes Melittus (Kencing Manis)
  4. Perokok

Faktor Resiko Tambahan :

  1. Kurang aktifitas fisik
  2. Stress
  3. Kadar asam urat diatas normal (Hiperuricemia)

Dislipidemia, yaitu kadar lemak darah abnormal, ditandai dengan :

  1. Peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL, Apo B danLP(a)
  2. Penurunan kadar kolesterol HDL merupakan awal terjadinya plak aterosklerosis

LDL merupakan kolesterol jahat karena dapat menyusup ke dinding pembuluh darah yang menjadi awal mula terjadinya plak, terutama bila memiliki ukuran kecil dan padat, atau sering disebut Small—dense LDL. Keberadaan small-dense LDL ditandai dengan rasio kolesterol LDL direk : Apo B yang rendah (<1.2).

Guguran plak aterosklerosis meninggalkan luka pada dinding pembuluh darah. Untuk menutup bekas luka, fibrinogen diubah menjadi benang-benang fibrin. Peningkatan kadar fibrinogen merupakan salah satu faktor resiko stroke dan PJK (Penyakit Jantung Koroner)

Bekuan darah dibentuk juga oleh trombosit (sel darah yang berperan juga dalam pembekuan darah). Trombosit yang mengalami kecenderungan untuk membentuk jendalan jendalan (agregasi) merupakan faktor resiko terjadinya trombosis. Untuk itu tes Agregasi Trombosit (TAT) bermanfaat dalam menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan trombosis atau aterosklerosis.

Akhir-akhir ini, gangguan fungsi sel yang melapisi dinding pembuluh darah bagiian dalam (sel endotel) dan proses inflamasi ditengarai juga merupakan faktor resiko stroke dan PJK.
Berkaitan dengan hal itu, peningkatan kadar homosistein dan hs-CRP dapat digunakan juga sebagai petanda untuk memperkirakan resiko terjadinya  stroke dan PJK.

Penentuan faktor resiko terhadap stroke dan serangan jantung perlu dilakukan agar kita dapat melakukan upaya-upaya pencegahan

PANEL RESIKO SERANGAN JANTUNG dan STROKE :

  1. Kolesterol Total
  2. Kolesterol HDL
  3. Kolesterol LDL direk
  4. Trigliserida
  5. Rasio kolesterol total : HDL
  6. Apo B
  7. Small-dense LDL
  8. Lp(a)
  9. Glukosa puasa dan 2 Jam PP
  10. Fibrinogen
  11. Tes Agregasi Trombosit (TAT)
  12. Homosistein
  13. Hs-CRP
  14. Asam Urat
Lakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin (6 bulan sekali) agar faktor resiko serangan jantung dan stroke dapat diketahui sedini mungkin

PENCEGAHAN SERANGAN JANTUNG dan STROKE

  1. Aspek Diet
  2. Diet gizi seimabang makanan dengan mengacu pada 4 SEHAT 5 SEMPURNA
  3. Kandungan lemak < 30% total kalori dengan rendah lemak jenuh dan cukup lemak tak jenuh
  4. Cukup serat
  5. Menghindari alkohol
  6. Olah Raga
  7. 3 – 5 kali seminggu minimal 30 menit
  8. Intensitas cukup, disesuaikan dengan usia
  9. Dipilih olah raga ritmis
  10. Obat

Bila diet dan olah raga belum dapat mengendalikan kadar gula dan profil lemak, dianjurkan menghubungi dokter agar dapat dipilih obat yang sesuai

Demikian artikel tentang Leaflet Serangan Jantung dan Stroke. Semoga membantu ... Bila bermanfaat, silahkan Share kepada teman-teman anda...!!

Osca Perawat Tindakan Vulva Hygiene

Osca Perawat Tindakan Vulva Hygiene - Askep kapukonline.com update Standard Operasional Prosedur Tindakan Vulva Hygiene - STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) untuk Perawat, setelah sebelumnya posting ( Baca : Osca Perawat Terapi Bermain dan Penilaian Perkembangan Anak )

 

VULVA HYGIENE

 

 

 

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

 

 

PENGERTIAN

Memberikan tindakan pada vulva untuk menjaga kebersihannya

TUJUAN

  1. Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum maupun uterus
  2. Untuk penyembuhan luka perineum/jahitan pada perineum
  3. Untuk kebersihan perineum dan vulva
  4. Memberikan rasa nyaman pasien

KEBIJAKAN

Dilakukan pada ibu setelah melahirkan

PETUGAS

Perawat

PERALATAN

  1. Oleum coccus yang hangat (direndam dalam air hangat)
  2. Kapas
  3. Handuk besar: 2 buah
  4. Peniti: 2 buah
  5. Air hangat dan dingin dalam baskom
  6. Waslap: 2 buah
  7. Bengkok

PROSEDUR PELAKSANAAN

  1. Tahap Pra Interaksi
    1. Melakukan verifikasi program pengobatan klien
    2. Mencuci tangan
    3. Menyiapkan alat
  2. Tahap Orientasi
    1. Memberikan salam kepada pasien dan sapa nama pasien
    2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga
    3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
  3. Tahap Kerja
    1. Memasang sampiran/menjaga privacy
    2. Memasang selimut mandi
    3. Mengatur posisi pasien dorsal recumbent
    4. Memasang alas dan perlak dibawah pantat
    5. Gurita dibuka, celana dan pembalut dilepas bersamaan dengan pemasangan pispot, sambil memperhatikan lochea. Celana dan pembalut dimasukkan dalam tas plastic yang berbeda
    6. Pasien disuruh BAK/BAB
    7. Perawat memakai sarung tangan kiri
    8. Mengguyur vulva dengan air matang
    9. Pispot diambil
    10. Mendekatkan bengkok ke dekat pasien
    11. Memakai sarung tangan kanan, kemudian mengambil kapas basah. Membuka vulva dengan ibu jari dan jari telunjuk kiri
    12. Membersihkan vulva mulai dari labia mayora kiri, labia mayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan, vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapas basah (1 kapas, 1 kali usap)
    13. Perhatikan keadaan perineum. Bila ada jahitan, perhatikan apakah lepas/longgar, bengkak/iritasi. Membersihkan luka jahitan dengan kapas basah
    14. Menutup luka dengan kassa yang telah diolesi salep/betadine
    15. Memasang celana dalam dan pembalut
    16. Mengambil alas, perlak dan bengkok
    17. Merapikan pasien, mengambil selimut mandi dan memakaikan selimut pasien
  4. Tahap Terminasi
    1. Mengevaluasi hasil tindakan yang baru dilakukan
    2. Berpamitan dengan pasien
    3. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
    4. Mencuci tangan
    5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN VULVA HYGIENE

No

ASPEK YANG DINILAI

BOBOT

NILAI

0

1

2

A

ALAT

 

 

 

 

1

Perlak dan pengalas

0,5

 

 

 

2

Selimut mandi

0,5

 

 

 

3

Hand schoen 1 pasang

1

 

 

 

4

Bengkok 2 buah, 1 berisi Lysol 2%

1

 

 

 

5

Tas plastic 2 buah

0,5

 

 

 

6

Kom berisi kapas basah (air dan kapas direbus bersama)

2

 

 

 

7

Celana dalam (bila diperlukan, persiapan pembalut)

1

 

 

 

8

Pispot

1

 

 

 

9

Botol cebok berisi air hangat

0,5

 

 

 

B

Tahap Pra Interaksi

 

 

 

 

1

Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada

1

 

 

 

2

Mencuci tangan

1

 

 

 

3

Menempatkan alat didekat pasien dengan benar

2

 

 

 

C

Tahap Orientasi

 

 

 

 

1

Memberikan salam dan menyapa nama pasien

1

 

 

 

2

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga

2

 

 

 

3

Menayakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum tindakan dilakukan

1

 

 

 

D

Tahap Kerja

 

 

 

 

1

Memasang sampiran/menjaga privacy

1

 

 

 

2

Memasang selimut mandi

1

 

 

 

3

Mengatur posisi pasien dorsal recumbent

1

 

 

 

4

Memasang alas dan perlak dibawah pantat

1

 

 

 

5

Gurita dibuka, celana dan pembalut dilepas bersamaan dengan pemasangan pispot, sambil memperhatikan lochea. Celana dan pembalut dimasukkan dalam tas plastic yang berbeda

3

 

 

 

6

Pasien disuruh BAK/BAB

1

 

 

 

7

Perawat memakai sarung tangan kiri

1

 

 

 

8

Mengguyur vulva dengan air matang

2

 

 

 

9

Pispot diambil

1

 

 

 

10

Mendekatkan bengkok ke dekat pasien

1

 

 

 

11

Memakai sarung tangan kanan, kemudian mengambil kapas basah. Membuka vulva dengan ibu jari dan jari telunjuk kiri

2

 

 

 

12

Membersihkan vulva mulai dari labia mayora kiri, labia mayora kanan, labia minora kiri, labia minora kanan, vestibulum, perineum. Arah dari atas ke bawah dengan kapas basah (1 kapas, 1 kali usap)

6

 

 

 

13

Perhatikan keadaan perineum. Bila ada jahitan, perhatikan apakah lepas/longgar, bengkak/iritasi. Membersihkan luka jahitan dengan kapas basah

2

 

 

 

14

Menutup luka dengan kassa yang telah diolesi salep/betadine

 

 

 

 

15

Memasang celana dalam dan pembalut

2

 

 

 

16

Mengambil alas, perlak dan bengkok

1

 

 

 

17

Merapikan pasien, mengambil selimut mandi dan memakaikan selimut pasien

1

 

 

 

E

Tahap Terminasi

 

 

 

 

1

Mengevaluasi hasil tindakan

1

 

 

 

2

Berpamitan dengan pasien

2

 

 

 

3

Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula

2

 

 

 

4

Mencuci tangan

2

 

 

 

5

Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

2

 

 

 

 

TOTAL

50

 

 

 

Benar-benar capai ngetik ngabisin satu buku, semoga bermanfaat bagi teman-teman blogger umumnya dan teman-teman perawat maupun calon perawat pada khususnya

Demikian artikel tentang Standard Operasional Prosedur (SOP) Osca Perawat Tindakan Vulva Hygiene. Semoga membantu dalam Test Osca Perawat Jateng / Jawa Tengah. Bila bermanfaat, silahkan Share kepada teman-teman anda...!!

Osca Perawat Terapi Bermain dan Penilaian Perkembangan Anak

Osca Perawat Terapi Bermain dan Penilaian Perkembangan Anak - Askep kapukonline.com update Standard Operasional Prosedur Terapi Bermain dan Penilaian Perkembangan Anak - STANDARD OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) untuk Perawat, setelah sebelumnya posting ( Baca : Osca Perawat Perawatan Tali Pusat )

 

TERAPI BERMAIN

 

 

 

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

 

 

PENGERTIAN

  1. Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dirinya yang tidak disadari (Wong: 1991)
  2. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya tanpa mempertimbangkan hasil akhirnya (Hurlock: 1978)
  3. Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan dalam mengatasi konflik dari dalam dirinya yang tidak disadari serta dengan keinginan sendiri ubtuk memperoleh kesenangan (Roster: 1987)

TUJUAN

  1. Meminimalisir tindakan perawatan yang traumatis
  2. Mengurangi kecemasan
  3. Membantu mempercepat penyembuhan
  4. Sebagai fasilitas komunikasi
  5. Persiapan untuk hospitalisasi atau surgery
  6. Sarana untuk mengekspresikan perasaan

KEBIJAKAN

Dilakukan di Ruang rawat inap, Poli tumbuh kembang, Poli rawat jalan dan Tempat penitipan anak

PETUGAS

Perawat

PERSIAPAN PASIEN

  1. Pasien dan keluarga diberitahu tujuan bermain
  2. Melakukan kontrak waktu
  3. Tidak ngantuk
  4. Tidak rewel
  5. Keadaan umum mulai membaik
  6. Pasien bias dengan tiduran atau duduk, sesuai kondisi klien

PERALATAN

  1. Rancangan program bermain yang lengkap dan sistematis
  2. Alat bermain sesuai dengan umur / jenis kelamin dan tujuan

PROSEDUR PELAKSANAAN

  1. Tahap Pra Interaksi
    1. Melakukan kontrak waktu
    2. Mengecek kesiapan anak (tidak ngantuk, tidak rewel, keadaan umum membaik/kondisi yang memungkinkan)
    3. Menyaiapkan alat
  2. Tahap Orientasi
    1. Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama pasien
    2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
    3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
  3. Tahap Kerja
    1. Memberi petunjuk pada anak cara bermain
    2. Mempersilahkan anak untuk melakukan permainan sendiri atau dibantu
    3. Memotivasi keterlibatan klien dan keluarga
    4. Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan
    5. Mengobservasi emosi, hubungan inter-personal, psikomotor anak saat bermain
    6. Meminta anak menceritakan apa yang dilakukan/dibuatnya
    7. Menanyakan perasaan anak setelah bermain
    8. Menanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang permainan
  4. Tahap Terminasi
    1. Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan
    2. Berpamitan dengan pasien
    3. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
    4. Mencuci tangan
    5. Mencatat jenis permainan dan respon pasien serta keluarga kegiatan dalam lembar catatan keperawatan dan kesimpulan hasil bermain meliputi emosional, hubungan inter-personal, psikomotor dan anjuran untuk anak dan keluarga

Contoh
Topik: Terapi bermain
Sub Topik: Mewarnai gambar
Sasaran: Anak Pra Sekolah
Tempat: Ruang perawatan anak
Waktu : 35 menit


  1. TUJUAN
    1. TIU (Tujuan Instruksional Umum)
      Setelah diajak bermain, diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh kembangnya, mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress karena penyakit dan dirawat
    2. TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
      Setelah diajak bermain selama 35 menit, anak diharapkan :
      1. Gerakan motorik halusnya lebih terarah
      2. Berkembang kognitifnya
      3. Dapat mewarnai gambar yang disukainya
      4. Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya yang dirawat di ruang yang sama
      5. Kejenuhan selama dirawat di RS berkurang
  2. PERENCANAAN
    1. Jenis Program Bermain
      Mewarnai gambar dengan pensil warna/spidol/pantel pada kertas gambar yang telah tersedia
    2. Karakteristik bermain
      1. Melatih motorik halus
      2. Melatik kesabaran dan ketelitian
    3. Karakteristik peserta
      1. Usia 3 – 6 tahun
      2. Jumalah peserta: 2 – 4 anak dan didampingi orang tua
      3. Keadaan umum mulai membaik
      4. Klien dapat duduk
      5. Peserta kooperatif
    4. Metode: Demontrasi
    5. Alat-alat yang digunakan (Media)
      1. Kertas gambar yang siap diwarnai
      2. Alat untuk menggambar (Pensil warna/spidol/pantel)
      3. Benang
      4. Penggaris
      5. Alat untuk melubangi kertas (Perforator)
  3. STRATEGI PELAKSANAAN
    1. Persiapan: 5 Menit
      1. Menyiapkan ruangan
      2. Menyiapkan alat
      3. Menyiapkan peserta
    2. Pembukaan: 5 Menit
      1. Perkenalan dengan anak dan keluarga
      2. Anak yang akan bermain saling berkenalan
      3. Menjelaskan maksud dan tujuan
    3. Kegiatan: 20 Menit
      1. Anak diminta untuk memilih gambar yang ingin diwarnai yang sudah tersedia
      2. Kemudian anak dianjurkan untuk mewarnai gambar dengan warna yang disukai
      3. Setelah selesai mewarnai gambar, anak dibantu untuk melubangi bagian atas kertas gambar
      4. Dipasang benang sepanjang ± 10 cm pada bagian atas yang dilubangi
      5. Gantungkan hasil mewarnai gambar di dekat tempat tidur anak
    4. Penutup: 5 Menit
      Memberikan reward pada anak atas hasil karyanya
  4. EVALUASI YANG DIHARAPKAN
    1. Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu gambar yang diwarnai, kemudian digantung
    2. Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik
    3. Anak merasa senang
    4. Anak tidak takut lagi dengan perawat
    5. Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai
    6. Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas bermain

Mengetahui
Pembimbing Praktek

 

Nama Mahasiswa

(………………..)

 

(………………….)

PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN TERAPI BERMAIN

No

ASPEK YANG DINILAI

BOBOT

NILAI

0

1

2

A

ALAT

 

 

 

 

1

Rancangan program bermain yang lengkap dan sistematis

3

 

 

 

2

Alat bermain sesuai dengan umur/jenis kelamin dan tujuan

2

 

 

 

B

Tahap Pra Interaksi

 

 

 

 

1

Melakukan kontrak waktu

2

 

 

 

2

Mengecek kesiapan anak (tidak ngantuk, tidak rewel, keadaan umum membaik / kondisi yang memungkinkan)

3

 

 

 

3

Menyaiapkan alat

2

 

 

 

4

Mencuci tangan

1

 

 

 

C

Tahap Orientasi

 

 

 

 

1

Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama pasien

1

 

 

 

2

Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan

3

 

 

 

3

Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

1

 

 

 

D

Tahap Kerja

 

 

 

 

1

Memberi petunjuk pada anak cara bermain

3

 

 

 

2

Mempersilahkan anak untuk melakukan permainan sendiri atau dibantu

2

 

 

 

3

Memotivasi keterlibatan klien dan keluarga

3

 

 

 

4

Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan

3

 

 

 

5

Mengobservasi emosi, hubungan inter-personal, psikomotor anak saat bermain

3

 

 

 

6

Meminta anak menceritakan apa yang dilakukan / dibuatnya

3

 

 

 

7

Menanyakan perasaan anak setelah bermain

3

 

 

 

8

Menanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang permainan

2

 

 

 

E

Tahap Terminasi

 

 

 

 

1

Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan

3

 

 

 

2

Berpamitan dengan pasien

1

 

 

 

3

Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula

2

 

 

 

4

Mencuci tangan

1

 

 

 

5

Mencatat jenis permainan dan respon pasien serta keluarga kegiatan dalam lembar catatan keperawatan dan kesimpulan hasil bermain meliputi emosional, hubungan inter-personal, psikomotor dan anjuran untuk anak dan keluarga

3

 

 

 

 

TOTAL

50

 

 

 

PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK MENGGUNAKAN DENVER II

No

ASPEK YANG DINILAI

BOBOT

NILAI

0

1

2

A

ALAT

 

 

 

 

1

Format penialian Denver II

2

 

 

 

2

Kotak berisi alat-alat bantu tes

3

 

 

 

B

Tahap Pra Interaksi

 

 

 

 

1

Melakukan kontrak waktu

1

 

 

 

2

Menyiapkan alat termasuk mengisi data pemeriksa dank lien / pasien pada form. Penilaian Denver II

2

 

 

 

3

Mencuci tangan

1

 

 

 

C

Tahap Orientasi

 

 

 

 

1

Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama pasien

1

 

 

 

2

Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan

3

 

 

 

3

Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

3

 

 

 

4

Mempersiapkan lingkungan tempat pemeriksaan

3

 

 

 

D

Tahap Kerja

 

 

 

 

1

Memberi petunjuk pada klien/pasien cara melakukan tes, kemudian meminta klien/pasien untuk melakukannya

8

 

 

 

2

Melakukan tes mulai dari item yang paling mudah

3

 

 

 

3

Melakukan tes secara urut dari item yang menggunakan sedikit energi

3

 

 

 

4

Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan tes

3

 

 

 

5

Menuliskan skor pada form. Denver II setiap satu tindakan tes

3

 

 

 

6

Menyimpulkan hasil tes setelah menyelesaikan minimal 5 tindakan tes

6

 

 

 

E

Tahap Terminasi

 

 

 

 

1

Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan

1

 

 

 

2

Berpamitan dengan pasien/klien

1

 

 

 

3

Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula

1

 

 

 

4

Mencuci tangan

1

 

 

 

5

Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

1

 

 

 

 

TOTAL

50

 

 

 

Posting berlanjut dengan ( Baca : Standard Operasional Prosedur (SOP) Osca Perawat Tindakan Vulva Hygiene )

Demikian artikel tentang Standard Operasional Prosedur (SOP) Osca Perawat Terapi Bermain dan Penilaian Perkembangan Anak. Semoga membantu dalam Test Osca Perawat Jateng / Jawa Tengah. Bila bermanfaat, silahkan Share kepada teman-teman anda...!!