ASKEP HIPERTENSI




A.   KONSEP DASAR MEDIS


1.      Pengertian
Menurut JNC (joint national commite). Hipertensi adalah tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90   mmHg (Doenges 1993). Menurut WHO (1978) bahwa hipertensi adalah tekanan darah dengan sistolik > 160 mmHg dan diastolic > 95 mmHg (Soeparman 1987). Hipertensi adalah peninggian tekanan darah di atas normal.
-         Merupakan golongan penyakit yang terjadi akibat suatu mekanisme kompensasi kardiovaskuler untuk mempertahankan tubuh.
-         Apabila hipertensi tak terkontrol akan menyebabkan kelainan pada organ lain yang berhubungan dengan system tersebut. Semakin tinggi tekanan darah, lebih besar kemungkinan timbulnya penyakit kardiovaskuler.
-         Penyulit pada jantung dan segala manifestasi kliniknya disebut “penyakit jantung hipertensif” (Prof. dr. Lily I. Rilantono DSJP 1988).

2.      Insiden 
               Hipertensi sering ditemukan pada usia menengah dan lanjut, dapat pula ditemukan pada orang muda dan anak. Perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Tapi perempuan lebih tahan daripada laki-laki tanpa terjadinya kerusakan jantung atau pembuluh darah. Keturunan juga merupakan factor penting.

3.      Etiologi dan patogenesis 
Tekanan darah hanya dapat meninggi bila tahanan arterial perifer terhadap aliran darah meninggi. Kenaikan tahanan perifer disebabkan oleh: 
a.       Vasokontraksi yang meluas daripada saluran darah tepi terutama arteriol dan arteri kecil.
b.      Penyakit organic pembuluh darah yang merata. 
Jantung harus mempertahankan cardiac output yang normal terhadap tahanan perifer yang meninggi, Ada 3 teori yaitu:
a.       Bila pembesaran otot jantung melebihi perbekalan darah dan terjadi anoxia.
b.  Hipertensi merupakan factor penting untuk terjadinya atherosklerosis arteri coronaria yang selanjutnya memudahkan terjadinya anoxia myocardium.
c.   Hipertensi yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah ginjal dan menghambat ekskresi natrium dan air.

4.      Patofisiologi 
             Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor: aliran darah dan tahanan. Aliran darah ditentukan oleh cardiac output (kekuatan, kecepatan, ritmi dari denyutan jantung dan volume darah). Tahanan ditentukan oleh diameter dari pembuluh darah dan sedikit viskositas darah. Peningkatan tekanan perifer sebagai akibat dari penyempitan arteriola merupakan karasteristik pada hipertensi. 
Dilatasi dan kontriksi arteriola perifer dapat dikendalikan oleh stimulus pada system saraf simpatis dan pengaktifan system angiotensin yang rangsangannya dapat mengeluarkan epineprin dan norepineprin menyebabkan kontriksi pembuluh darah dan peningkatan resistensi perifer.
Epinefrin meningkatkan tenaga kontraksi cardiac sambil menyempitkan saluran menyebabkan tekanan darah meningkat.
Ditandai dengan hipertrofi ventrikel kiri dan penyakit jantung iskemik. Hipertensi merupakan factor resiko penyakit jantung insufisiensi yang kedua dan mempunyai hubungan yang erat. Gagal jantung disritmia kordis dan mati mendadak yang disebabkan oleh kedua macam kelainan tersebut.

5.      Gambaran klinis
a.       Dyspnea paroxymal malam hari.
b.      Cepat lelah.
c.     Dyspnoe arhopnoe, batuk, hemoptysis, karena kongesti dan edema paru akibat statis darah vena dalam paru.
d.      Palpitasi.
e.       Sakit kepala pada occipital sering timbul pada pagi hari.
f.       Kelainan pembuluh retina (hypertensi retinopati).
g.      Vertigo dan muka merah.
h.      Epistaksis spontan.

6.      Pemeriksaan Diagnostik
a.       Diagnosis secara klinis
Pemeriksaan paling sederhana untuk mendiagnosis hipertrofi ventrikel kiri ialah secara palpasi. Durasi bertambah karena periode ejeksi ventrikel memanjang yaitu lebih dari 2/3 waktu sistolik. Bila sudah terjadi dilatasi ventrikel kiri, ictus cordis akan bergeser ke kiri bawah.
b.      Diagnosis secara radiologis 
      Dari pemeriksaan radiology pada pasien hypertropi konsentrik akan didapatkan gambaran besar jantung masih dalam batas normal, pembesaran jantung didapaatkan bila sudah terjadi dilatasi ventrikel kiri.
c.       Diagnosis secara elektrokardiografis 
    Pada umumnya voltase tinggi di precordial lead merupakan kriteria diagnosis untuk hipertrofi ventrikel kiri yang paling sensitif, tetapi juga mempunyai false positive yang cukup tinggi.
d.      Diagnosis secara ekokardiografis.
Pemeriksaan ekokardiografi dapat mendeteksi hipertrofi ventrikel kiri secara dini. Ekokardiografi dapat mendeteksi kelainan anatomic dan fungsional jantung pasien hypertensi asimtomatik yang belum didapatkan kelainan pada Elektrokardiogram dan radiologis.
Dengan pemeriksaan ekokardiografis didapatkan prevalensi hipertrofi ventrikel kiri – eko kira-kira 5 – 10 x lebih tinggi dari hipertrofi ventrikel kiri pada elektrokardiogram. Disamping untuk pemeriksaan anatomi, ekokardiografi juga dapat digunakan untuk menilai fungsi sistolik dan diastolic ventrikel kiri.

7.      Pengobatan
Tujuan umum pengobatan hypertensi ialah pengendalian hypertensi untuk memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang usia. Pada penyakit jantung hipertensif pengobatan ditujukan untuk :
1)      Pengobatan kausatif ialah pengobatan hipertensi.
2)      Pencegahan terjadinya hipertrofi ventrikel kiri dan regresi hipertrofi ventrikel kiri apabilah sudah terjadi.
3)      Pencegahan dan pangobatan penyakit jantung insufisiensi, disfungsi ventrikel kiri, diastolic, maupun sistolik dan disritmia kordis.

Secara teoritis penurunan tekanan darah dengan mengurangi afterload akan mengurangi tegangan dinding ventrikel kiri dan menyebabkan pengurangan massa ventrikel kiri.
Regresi hipertrofi ventrikel kiri dapat dilakukan dengan pengobatan non farmakologis dan farmakologis. Pengobatan non farmakologis dapat berupa penurunan berat badan dan diet rendah garam. Pengobatan farmakologis untuk regresi hipertrofi ventrikel kiri pada hipertensi berdasarkan penelitian yang didapatkan ACE inhibitor, beta-blocker, antagonis kalsium dan diuretik mengurangi massa ventrikel kiri dan ternyata ACE inhibitor menunjukkan pengobatan yang paling efektif.

8.      Komplikasi
-          Angina pectoris.
-          Infark myokard.
-          Hipertropi ventrikel kiri menyebabkan kegagalan jantung kongestif.
-          Kerusakan ginjal permanen menyebabkan kegagalan ginjal.
-          Stroke.

B.     KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1.      Pengkajian

Dasar Data Pengkajian Pasien

a.       Aktifitas
Gejala    :   Kelemahan, letih nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda    :   Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, tachypnea.
b.      Sirkulasi
Gejala    :   Riwayat hipertensi, atherosklerosis, penyakit jantung kongesti/katup dan penyakit serebrovaskuler.
Tanda    :   Kenaikan tekanan darah.
                  Nadi: denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, perbedaan denyut.
Denyut apical: titik point of maksimum impuls, mungki bergeser atau sangat kuat.
Frekuensi/irama: takikardia, berbagai disritmia.
Bunyi jantung: tidak terdengar bunyi jantung I, pada dasar bunyi jantung II dan bunyi jantung III.
Murmur stenosis valvular.
Distensi vena jugularis/kongesti vena.
Desiran vaskuler tidak terdengar di atas karotis, femoralis atau epigastrium (stenosis arteri).
Ekstremitas: perubahan warna kulit, suhu dingin, pengisian kapiler mungkin lambat atau tertunda.
c.       Integritas ego
Gejala    :   Riwayat kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah kronik, factor stress multiple.
Tanda    :   Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak, gerak tangan empati, muka tegang, gerak fisik, pernafasan menghela nafas, penurunan pola bicara.
d.      Eliminasi
Gejala    :   Gejala ginjal saat ini atau yang lalu (misalnya: infeksi, obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa lalu).
e.       Makanan dan cairan
Gejala    :   Makanan yang disukai mencakup makanan tinggi garam, lemak, kolesterol serta makanan dengan kandungan tinggi kalori.
Tanda    :   Berat badan normal atau obesitas.
Adanya edema, kongesti vena, distensi vena jugulalaris, glikosuria.
f.       Neurosensori
Gejala    :   Keluhan pening/ pusing, berdenyut, sakit kepala sub occipital.
                Episode bebas atau kelemahan pada satu sisi tubuh.
                Gangguan penglihatan dan episode statis staksis.
Tanda    :   Status mental: perubahan keterjagaaan, orientasi. Pola/isi bicara, afek, proses fikir atau memori.
Respon motorik: penurunan kekuatan, genggaman tangan
Perubahan retinal optik: sclerosis, penyempitan arteri ringan – mendatar, edema, papiladema, exudat, hemorgi.
g.      Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala    :   Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung).
                Nyeri tungkai yang hilang timbul/klaudasi.
                Sakit kepala  oxipital berat.
                Nyeri abdomen/massa.
h.      Pernafasan (berhubungan dengan efek cardiopulmonal tahap lanjut dari hipertensi menetap/berat).
Gejala    :   Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja tachypnea, ortopnea, dispnea, nocturnal paroxysmal, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda    :   Distress respirasi/penggunaan otot aksesori pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis.
l.        Keamanan
Keluhan :   Gangguan koordinasi/cara berjalan.
Gejala    :   Episode parastesia unilateral transien, hypotensi postural.

Diagnosa keperawatan

a.       Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
b.      Intolerans aktifitas
c.       Nyeri (akut)
d.      Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh.
e.       Koping individual tidak efektif
f.       Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana pengobatan.



2.     Diagnosa dan Intervensi

a.      Curah jantung, penurunan, resti, terhadap.
Berhubungan dengan        : Peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia myokardia, hypertropi/rigiditas (kekakuan) ventrikuler,
Tujuan:
-          Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima.
-          Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang dan pasien.

Intervensi
1.)    Pantau tekanan darah.
Rasional: perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler.
2.)    Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
Rasional: denyutan karotis, jugularis, radialis, dan femoralis mungkin diamati atau tekanan palpasi. Denyutan pada tungkai mungkin menurun: efek dari vasokontraksi.
3.)    Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas.
Rasional: bunyi jantung IV umum terdengar pada hipertensi berat dan kerusakan fungsi adanya krakels mengi dapat mengindikasi kongesti paru sekunder terhadap atau gagal jantung kronik.
4.)    Amati warna kulit, kelembaban suhu, dan masa pengisian kapiler.
Rasional: mungkin berkaitan dengan vasokontraksi atau mencerminkan dekompensasi atau penurunan curah jantung.
5.)    Catat edema umum/tertentu.
Rasional: mengindikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
6.)    Beri lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktifitas/keributan lingkungan dan batasi jumlah pengunjung dan lamannya tinggal.
Rasional: membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis, menurunkan relaksasi.
7.)    Pertahankan pembatasan aktifitas (jadwal istirahat tanpa gangguan, istirahat di tempat tidur/kursi), bantu pasien melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
Rasional: menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi.
8.)    Lakukan tindakan yang nyaman (pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur).
Rasional: mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
9.)    Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi, dan panduan imajinasi.
Rasional: menurunkan rangsangan stress membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
10.)    Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
Rasional: respon terhadap terapi obat tergantung pada individu dan efek sinergis obat.
Kolaborasi:
11.)    Berikan obat-obat sesuai indikasi seperti:
Diuretik tiazoid: diuril, esidrix, bendroflumentiazoid
Rasional: dapat memperkuat agen antihipertensi lain dengan membatasi retensi cairan.
Diuretic loop: furosemid, etakrinic, bumetanoid, dan lain-lain.
Rasional: menghasilkan diuresis kuat dengan menghambat resorpsi natrium dan klorida.
12.)    Berikan pembatasan cairan dan diet natrium sesuai indikasi.
Rasional: dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensi yang dapat melibatkan beban kerja jantung.
13.)    Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.
Rasional: bila hipertensi berhubungan dengan adanya fcokromositoma maka pengangkatan tumor dapat memperbaiki kondisi.
b.      Intoleran aktifitas
Berhubungan dengan: kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan:     
-          Berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan/diperlukan.
-          Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat diukur.
-          Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda toleransi fisiologis.

Intervensi
1.)   Kaji respon pasien terhadap aktifitas frekuensi nadi, peningkatan tekanan darah yang nyata selama/sesudah aktifitas, dyspnea, nyeri dada, keletihan, dan kelemahan, diasporesis, pusing, dan pingsan.
Rasional: menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologis stress terhadap aktifitas dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktifitas.
2.)  Instruksikan tehnik penghematan energi (menggunakan kursi saat mandi, duduk, menyisir rambut atau menyikat gigi, lakukan aktifitas dengan perlahan.
Rasional: dapat mengurangi penggunaan energi dan membantu keseimbangan antara suplai antara suplai dan kebutuhan O2.
3.)  Berikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional: kemajuan aktifitas bertahap mencegah penurunan kerja jantung tiba.

c.       Nyeri (akut), sakit kepala berhubungan dengan: peningkatan tekanan vaskuler serebral.
Tujuan:
-          melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/tidak terkontrol.
-          Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan.

Intervensi:
1.)    Mempertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional: meminimalkan stimulasi atau menurunkan relaksasi.
2.)  Berikan kompres dingin pada dahi, pijat punggung, dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, tehnik relaksasi.
Rasional: menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/ memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasi.
3.) Hilangnya/minimalkan aktifitas vasokonstriksi yang dapat menurunkan dan sakit kepala, misalnya: batuk panjang, mengejan saat BAB, dan lain-lain.
Rasional: menyebabkan sakit kepala pada adanya tekanan vaskuler serebral karena aktifitas yang meningkatkan vaskonotraksi.
4.)    Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
 Rasional: pusing dan pengelihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala.
5.)    Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres di hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan.
Rasional: menaikkan kenyamanan kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan mukosa.

Kolaborasi:
6.) Berikan sesuai indikasi:
1. Analgesik menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan system saraf simpatis.
2.      Antiancietas (diazepam, lorazepam)
Rasional: dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang diperbuat oleh stress.

d.      Nutrisi, perubahan, lebih dari kebutuhan tubuh
Berhubungan dengan: Masukan berlebihan sehubungan dengan metabolic
Pola hidup monoton.
Keyakinan budaya.
Tujuan:
-         Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan.
-         Menunjukkan perubahan pola makan.
-         Mempertahankan berat badan yang diinginkan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.
-         Melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepat.
Intervensi:
1)      Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.
Rasional: kegemukan adalah resiko tambahan pada hipertensi karena kondisi proporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.
2)      Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, gula sesuai indikasi.
Rasional: kesalahan kebiasaan maksimum menunjang terjadinya atherosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya.
3)      Tetapkan keinginan pasien untuk menurunkan berat badan.
Rasional: motivasi penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil.
4)      Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
Rasional: membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/penyuluhan dan mengidentifikasi kekuatan/ kelemahan dalam program diet terakhir.
5)   Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi dan kolesterol.
Rasional: penting untuk mencegah perkembangan aterogenesis.
Kolaboratif.
 Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi.
Rasional: memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual.

e.   Koping individual, inefektif berhubungan dengan:
-         Krisis situasional/diaturasional.
-         Perubahan hidup beragam.
-         Relaksasi tidak adekuat.
-         System pendukung tidak adekuat.
-         Persepsi tidak realistic.
-         Sedikit atau tidak pernah olahraga.
-         Nutrisi buruk.
-         Harapan yang tidak terpenuhi.
-         Kerja tidak berlebihan.
-         Metode koping tidak efektif.

Tujuan:
-         Mengidentifikasi kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi.
- Mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari/mengubahnya.
-         Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan/metode koping efektif.

Intervensi
1.)  Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, misalnya: kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
Rasional: mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari.
2.)    Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah.
Rasional: manifestasi mekanisme koping maladaptik mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama tekanan darah diastolic.
3.) Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah.
Rasional: pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor.
4.)    Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan berikan dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.
Rasional: memperbaiki keterampilan koping dan dapat meningkatkan kerjasama dalam regimen teraupetik.
5.)     Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup. 
     Rasional: focus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.
f.    Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi rencana pengobatan berhubungan dengan:
-         Kurang pengetahuan/daya ingat
-         Misinterpretasi informasi
-         Keterbatasan kopnitif.
-         Menyangkal diagnosa.
Tujuan:
-         Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan
-         Mempertahankan tekanan darah dalam parameter normal.
-         Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.
Intervensi:
1.)   Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk orang terdekat.
Rasional : Mengidentifikasi kemampuan klien dalam menerima pembelajaran.
2.) Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal, dan otak.
Rasional : Meningkatkan pengetahuan klien tentang tekanan darah normal dan efek hipertensi.
3.) Hindari mengatakan tekanan darah normal dan gunakan istilah terkontrol dengan baik saat menggambarkan tekanan darah pasien dalam batas yang diinginkan.
Rasional : Tekanan darah normal pada setiap orang berbeda tergantung pada banyak faktor.
4.) Bantu pasien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko kardiovaskuler yang dapat diubah misalnya obesitas, diet, tinggi lemak jenuh, kolesterol, pola hidup monoton, dan minum alcohol, pola hidup stress.
Rasional : Mencegah meningkatnya tekanan darah dengan memperhatikan faktor – faktor resiko.
5.)   Rekomendasikan untuk menghindari mandi air panas, ruang penguapan, penggunaan alcohol yang berlebihan. 
       Rasional : Dapat menyebabkan tekanan darah berubah – ubah.
6.)     Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberi perawatan sebelum menggunakan obat. 
       Rasional : Menghindari terjadinya resiko overdosis obat.
7.)       Instruksikan pasien tentang peningkatan masukan makanan atau cairan tinggi kalium. 
        Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

e.       Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan/implementasi harus sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi. Dalam pelaksanaan keperawatan ada 4 tindakan yang dilakukan yaitu :
a.       Tindakan mandiri
b.      Tindakan observasi
c.       Tindakan health education
d.      Tindakan kolaborasi

f.       Evaluasi
Tahapan evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan dapat dicapai, sehingga dalam mengevaluasi efektivitas tindakan keperawatan. Perawat perlu mengetahui kriteria keberhasilan dimana kriteria ini harus dapat diukur dan diamati agar kemajuan perkembangan keperawatan kesehatan klien dapat diketahui Dalam evaluasi dapat dikemukakan 4 kemungkinan yang menentukan keperawatan selanjutnya yaitu :
a.       Masalah klien dapat dipecahkan .
b.      Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.
c.       Masalah klien tidak dapat dipecahkan.
d.      Dapat muncul masalah baru.
Evaluasi untuk klien dengan hipertensi dapat disesuaikan dengan masalah yang telah ditanggulangi dengan mengacu pada tujuan yang telah ditentukan.
a.       Apakah tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima oleh klien ?.
b.      Apakah klien dapat beraktifitas secara mandiri ?.
c.       Apakah kebutuhan nutrisi klien terpenuhi ?.
d.      Apakah klien dapat menggunakan koping yang efektif ?.
e.       Apakah pemahaman klien tentang penyakit meningkat ?.

ASKEP EFUSI PLEURA



ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN EFUSI PLEURA

A.                Definisi
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000)
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price C Sylvia, 1995)

B.                 Etiologi
  1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior.
  2. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis.
Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar :
a.       Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
b.      Penurunan tekanan osmotic koloid darah
c.       Peningkatan tekanan negative intrapleural
d.      Adanya inflamasi atau neoplastik pleura
C.                Tanda dan Gejala
    1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
    2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.
    3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
    4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
    5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
    6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

D.                Patofisiologi
Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah.

E.                 Pemeriksaan Diagnostik
1.      Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum.
2.      Ultrasonografi
3.      Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang).
4.      Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan gram, basil tahan asam (untuk TBC), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase (LDH), protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH.
5.      Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

F.                  Penatalaksanaan medis
q  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).
q   Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu.
q  Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.
q  Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.
q  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic.

G.                Water Seal Drainase (WSD)
1.      Pengertian
WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada.

2.      Indikasi
1.      Pneumothoraks karena rupture bleb, luka tusuk tembus.
2.      Hemothoraks karena robekan pleura, kelebihan anti koagulan, pasca bedah toraks.
3.      Torakotomi.
4.      Efusi pleura
5.      Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi

3.      Tujuan Pemasangan
1)      Untuk mengeluarkan udara, cairan atau darah dari rongga pleura
2)      Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
3)      Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian
4)      Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada.

4.      Tempat pemasangan
1.         Apikal
a.       Letak selang pada interkosta III mid klavikula
b.      Dimasukkan secara antero lateral
c.       Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
2.       Basal
a.       Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller.
b.      Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura

5.      Jenis WSD
a.       Sistem satu botol
Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks
b.      Sistem dua botol
Pada system ini, botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal.
c.       System tiga botol
Sistem tiga botol, botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan.

H.                Pengkajian
1.      Aktifitas/istirahat
       Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat
2.      Sirkulasi
      Tanda : Takikardi, disritmia, irama jantung gallop, hipertensi/hipotensi, DVJ
3.       Integritas ego
      Tanda : ketakutan, gelisah
4.        Makanan / cairan
      Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus
5.     nyeri/kenyamanan
      Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher, bahu, abdomen
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi
6.     Pernapasan
     Gejala : Kesulitan bernapas, Batuk, riwayat bedah dada/trauma,
Tanda : Takipnea, penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada, retraksi interkostal, Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat), Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan
Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps, penurunan pengembangan (area sakit). Kulit : pucat, sianosis,berkeringat, krepitasi subkutan

I.                   Diagnosa Keperawatan
1.   Pola napas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan), gangguan musculoskeletal, nyeri/ansietas, proses inflamasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu, takipneu, perubahan kedalaman pernapasan, penggunaan otot aksesori, gangguan pengembangan dada, sianosis, GDA taknormal.
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria hasil :
-          Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal
-          Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia
Intervensi :
1)      Identifikasi etiologi atau factor pencetus
2)      Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat, sianosis, perubahan tanda vital)
3)      Auskultasi bunyi napas
4)      Catat pengembangan dada dan posisi trakea, kaji fremitus.
5)      Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur
6)      Bila selang dada dipasang :
                   a.       periksa pengontrol penghisap, batas cairan
                   b.      Observasi gelembung udara botol penampung
                   c.       Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran
                   d.      Awasi pasang surutnya air penampung
                   e.       Catat karakter/jumlah drainase selang dada.
                   f.       Berikan oksigen melalui kanul/masker

2.      Nyeri dada b.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada)
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
-          Pasien mengatakan nyeri berkurang  atau dapat dikontrol
-          Pasien tampak tenang
Intervensi :
1)      Kaji terhadap adanya nyeri, skala dan intensitas nyeri
2)      Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi
3)      Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi.
4)      Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri
5)      Berikan analgetik sesuai indikasi.
3. Resiko tinggi trauma/henti napas b.d proses cidera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan
Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas
Kriteria hasil :
-          Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi.
-          Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik.
Intervensi :
1)      Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase, catat gambaran keamanan
2)      Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah
3)      Awasi sisi lubang pemasangan selang, catat kondisi kulit, ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan
4)      Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang
5)      Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut.

4.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan
Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan
Kriteria hasil :
-          Menyatakan pemahaman tentang masalahnya
-      Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah
Intervensi :
1)      Kaji pemahaman klien tentang masalahnya
2)      Identifikasi  kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang
3)      Kaji ulang praktik kesehatan yang baik, nutrisi, istirahat, latihan
4)      Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien
5)      Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien .



DAFTAR PUSTAKA

    Baughman C Diane, Keperawatan medical bedah, Jakrta, EGC, 2000.
    Doenges E Mailyn, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaandan               pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta, EGC. 1999
    Hudak,Carolyn M. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol.1, Jakarta.EGC. 1997
    Purnawan J. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Ed2. Media Aesculapius. FKUI.1982.
    Price, Sylvia A, Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit, Ed4. Jakarta. EGC. 1995.
    Smeltzer c Suzanne, Buku Ajar Keperawatan medical Bedah, Brunner and Suddarth’s, Ed8. Vol.1, Jakarta, EGC, 2002.
    Syamsuhidayat, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta, EGC, 1997.
    Susan Martin Tucker, Standar perawatan Pasien: proses keperawatan, diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta EGC. 1998.