Prosedur Pemberian Nutrisi Parenteral

Prosedur Pemberian Nutrisi Parenteral - Askep kapukonline.com update tentang bagaimana cara prosedur teknik tindakan pemberian nutrisi melalui parenteral. Ini adalah kelanjutan posting sebelumnya (baca : Prosedur Cara Teknik Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding)

Pemberian Nutrisi Parenteral merupakan pemberian nutrisi berupa cairan infus yang di masukkan ke dalam tubuh melalui darah vena baik sentral (untuk nutrisi parenteral total) atau vena perifer (untuk nutrisi parenteral parsial).

Pemberian nutrisi melalui parenteral dilakukan pasien yang tidak dapat di penuhi kebutuhan nutrisinya melalui oral atau enteral

Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral

  1. Mempertahankan kebutuhan nutrisi

Metode pemberian Pemberian Nutrisi Parenteral

  1. Nutrisi parenteral parsial, pemberian sebagian kebutuhan nutrisi melalui intravena. Sebagian kebutuhan nutrisi harian pasien masih dapat di penuhi melalui enteral. Cairan yang biasanya digunakan dalam bentuk dekstrosa atau cairan asam amino
  2. Nutrisi parenteral total, pemberian nutrisi melalui jalur intravena ketika kebutuhan nutrisi sepenuhnya harus dipenuhi melalui cairan infus. Cairan yang dapat digunakan adalah cairan yang mengandung karbohidrat seperti Triofusin E1000, cairan yang mengandung asam amino seperti PanAmin G, dan cairan yang mengandung lemak seperti Intralipid
  3. Lokasi pemberian nutrisi secara parenteral melalui vena sentral dapat melalui vena antikubital pada vena basilika sefalika, vena subklavia, vena jugularis interna dan eksterna, dan vena femoralis. Nutrisi parenteral melalui perifer dapat dilakukan pada sebagian vena di daerah tangan dan kaki

Prosedur | Pemberian | Nutrisi | Parenteral

Prosedur Perawatan Kateter Pemberian Nutrisi Parenteral

  1. Jelaskan prosedur pada pasien
  2. Cuci tangan
  3. Gunakan cara aseptik dalam perawatan kateter
  4. Ganti balutan tiap 24 - 48 jam
  5. Ganti set infus maksimal 2 x 24 jam
  6. Ganti posisi pemasangan infus maksimal 3 x 24 jam (perifer)
  7. Perhatikan tanda phlebitis, inflamasi, dan thrombosis
  8. Jangan gunakan untuk pengambilan sampel darah dan pemberian obat
  9. Lakukan pemantauan selama pemberian nutrisi parenteral, antara lain:
    1. Pemeriksaan laboratorium seperti BUN, kreatinin, gula darah, elektrolit dan faal hepar
    2. Timbang berat badan pasien
    3. Periksa reduksi urine
    4. Observasi jumlah cairan yang masuk dan keluar
    5. Cairan jangan di gantuk lebih dari 24 jam
    6. Pemberian asam amino harus bersamaan dengan karbohidrat dengan harapan kalori yang di butuhkan akan di penuhi karbohidrat
  10. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Referensi

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakarta : EGC : 2004

Demikian posting tentang Prosedur Pemberian Nutrisi Parenteral

Prosedur Cara Teknik Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding

Prosedur Cara Teknik Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding - Ini adalah kelanjutan posting sebelumnya ( Baca : Prosedur Cara Teknik Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Peroral )

Prosedur Cara Teknik Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding ini dilakukan pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi per-oral atau adanya gangguan fungsi menelan. Tindakan pemberian nutrisi melalui pipa lambung dapat dilakukan dengan pemasangan pipa lambung terlebih dahulu, kemudian dapat dilakukan pemberian nutrisi.

Tujuan Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding

  1. Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien

Pemasangan Pipa Lambung / Sonde Fooding

Alat dan Bahan Pemasangan Pipa Lambung / Sonde Fooding

  1. Pipa penduga dengan tempatnya corong
  2. Spuit 20 cc
  3. Pengalas
  4. Bengkok
  5. Plester dan gunting
  6. Makanan dalam bentuk cair
  7. Air matang
  8. Obat-obatan
  9. Stetoskop
  10. Klem
  11. Baskom berisi air (kalau tidak ada stetoskop)
  12. Vaselin

Prosedur Kerja Pemasangan Pipa Lambung / Sonde Fooding

  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  3. Atur posisi pasien (manusia coba) dengan posisi semi-Fowler
  4. Bersihkan daerah hidung dan pasangkan pengalas di daerah dada
  5. Letakkan bengkok di dekat pasien
  6. Tentuksn letak pipa penduga dengan cara mengukur panjang pipa dari Epigastrium sampai hidung kemudian di bengkokkan ke telinga dan beri tanda batasnya (Lihat Gambar>
  7. Berikan vaselin atau pelicin pada ujung pipa dan klem pangkal pipa tersebut, lalu masukkan melalui hidung secara perlahann-lahan sambil pasien di anjurkan untuk menelannya
  8. Tentukan apakah pipa tersebut benar-benar sudah masuk ke lambung, dengan cara :
    1. Masukkan ujung slang yang di klem ke dalam waskom yang berisi air (klem di buka) dan perhatikan bila ada gelembung, pipa masuk ke paru, dan jika tidak ada gelembung berarti pipa tersebut masuk kedalam lambung setelah itu di klem atau dilipat kembali
    2. Masukkan udara dengan spuit ke dalam lambung melalui pipa tersebut dan dengarkan dengan stetoskop. Apabila di lambung terdengar bunyi, berarti pipa tersebut sudah masuk. Setelah itu, keluarkan udara yang ada di dalam lambung sebanyak yang telah di masukkan
  9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Pemberian Nutrisi

Alat dan Bahan Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding

  1. Corong
  2. Spuit 20 cc
  3. Pengalas
  4. Bengkok
  5. Makanan dalam bentuk cair
  6. Air matang
  7. Obat-obatan (Bila ada)
  8. Klem
  9. Stetoskop

Prosedur Kerja Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung / Sonde Fooding

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi semi-Fowler
  4. Pasangkan pengalas
  5. Letakkan bengkok
  6. Periksa dahulu sisa makanan di lambung dengan menggunakan spuit yang di aspirasikan ke pipa lambung
  7. Buka Klem atau penutup
  8. Lakukan tindakan pemberian makan dengan cara pasang corong/spuit pada pangkal pipa
  9. Masukkan air matang kurang-lebuh 15 cc pada awal dengan di tuangkan lewat pinggirnya
  10. Berikan makanan dalam bentuk cair yang tersedia. Kemudian, bila ada obat-obatan masukkan dan beri air minum lalu klem pipa penduga
  11. Catat hasilnya atau respon pasien selama pemberian makanan
  12. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Cara Pasang NGT

Referensi

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakarta : EGC : 2004

Posting berlanjut dengan ( Baca : Prosedur Pemberian Nutrisi Parenteral )

Prosedur Cara Teknik Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Peroral

Prosedur Cara Teknik Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Peroral


Prosedur Cara Teknik Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Peroral ini adalah kelanjutan posting sebelumnya (Baca : Prosedur Cara Teknik Penghisapan Lendir )


Kebutuhan nutrisi bagi tubuh merupakan suatu kebutuhan dasar manusia yang sangat penting. Dilihat dari kegunaannya, nutrisi merupakan sumber energi untuk segala aktivitas dalam sistem tubuh.


Sumber nutrisi dalam tubuh berasal dari dalam tubuh sendiri, seperti glikogen yang terdapat dalam otot dan hati ataupun protein dan lemak dalam jaringan dan sumber lain yang berasal dari luar tubuh seperti yang sehari-hari dimakan oleh manusia. Pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak akan sangat berguna dalam membantu proses tumbuh-kembang.


Prosedur Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi pada orang sakit yang tidak mampu secara mandiri dapat dilakukan dengan cara membantu memenuhinya melalui oral (mulut), enteral (pipa lambung) atau parenteral (infus).

Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)

Tindakan Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut) ini merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi per-oral secara mandiri


Tindakan Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)

Tujuan Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)

  1. Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien

Alat dan Bahan Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)

  1. Piring
  2. Sendok
  3. Garpu
  4. Gelas
  5. Serbet
  6. Mangkok cuci tangan
  7. Pengalas
  8. Makanan dengan menu dan porsi sesuai dengan program

Prosedur Kerja Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)

  1. Berikan penjelasan
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi pasien dengan duduk atau setengah duduk sesuai dengan kondisi pasien
  4. Pasang pengalas
  5. Tawarkan pasien melakukan ritual makan (misalnya: berdo'a sebelum makan)
  6. Bantu aktivitas dengan cara menyuap makan sedikit demi sedikit dan berikan minum sesudah makan
  7. Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sbentar
  8. Catat tindakan dan hasil atau respons terhadap tindakan
  9. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Referensi

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakarta : EGC : 2004

Posting berlanjut dengan (Baca : Pemberian Nutrisi Melalui Pipa Lambung)

Prosedur Cara Teknik Penghisapan Lendir

Prosedur Cara Teknik Penghisapan Lendir


Penghisapan lendir (Suction) merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir secara mandiri dengan menggunakan alat penghisap


Posting ini adalah kelanjutan posting sebelumnya (baca : Cara Tindakan Keperawatan Clapping dan Vibrating)


Tujuan Penghisapan Lendir


  1. Membersihkan jalan nafas
  2. Memenuhi kebutuhan oksigenasi

Alat dan Bahan Penghisapan Lendir


  1. Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan
  2. Kateter penghisap lendir steril
  3. Pinset steril
  4. Sarung tangan steril
  5. Dua kom berisi larutan Aquades atau NaCl 0,9% dan larutan desinfektan
  6. Kasa steril
  7. Kertas tissue
  8. Stetoskop

Prosedur Kerja Penghisapan Lendir


  1. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
  2. Cuci tangan
  3. Tempatkan pasien pada posisi terlentang dengan kepala miring ke arah perawat
  4. Gunakan/Pakai sarung tangan
  5. Hubungkan kateter penghisap dengan slang alat penghisap
  6. Mesin penghisap dihidupkan
  7. Lakukan penghisapan lendir dengan memasukkan kateter penghisap kedalam kom berisi aquades atau NaCl 0,9% untuk mempertahankan tingkat kesterilan (asepsis)
  8. Masukkan kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap
  9. Gunakan alat penghisap dengan tekanan 110 - 150 mmHg untuk dewasa, 95 - 11- mmHg untuk anak-anak dan 50 - 95 mmHg untuk bayi (Potter & Perry, 1995)
  10. Tarik dengan memutar kateter penghisap tidak lebih dari 15 detik
  11. Bilas kateter dengan aquades atau NaCl 0,9%
  12. Lakukan penghisapan antara penghisapan pertama dengan berikutnya, minta pasien untuk bernafas dalam dan batuk. Apabila pasien mengalami distress pernafasan, biarkan istirahat 20 - 30 detik sebelum melakukan penghisapan berikutnya
  13. Setelah selesai, kaji jumlah, konsistensi, warna, bau sekret dan respons pasien terhadap prosedur yang dilakukan
  14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Penghisapan Lendir


Referensi


A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakarta : EGC : 2004


Posting berlanjut dengan (Baca : Prosedur Cara Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi)

Prosedur Cara Tindakan Keperawatan Clapping dan Vibrating

Clapping dan Vibrating

Untuk Tujuan, Alat dan Bahan Prosedur Cara Tindakan Keperawatan Clapping dan Vibrating, sesuai dengan posting sebelumnya (Baca : Prosedur Cara Postural Drainase dan Fisioterapi Dada ) agar dapat mengikuti posting Prosedur Cara Tindakan Keperawatan Clapping dan Vibrating.

Prosedur Kerja Cara Tindakan Keperawatan Clapping dan Vibrating

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi sesuai dengan drainase postural
  4. Lakukan clapping atau vibrasi pada :
    1. Seluruh lebar bahu atau meluas beberapa jari ke klavicula apabila daerah paru yang perlu di clapping/vibrasi adalah daerah bronkhus apikal
    2. Lebar bahu masing-masing sisi apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah bronkus posterior
    3. Dada depan di bawah clavicula, apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah bronkus anterior
    4. Anterior dan lateral dada kanan dan lipat ketiak sampai mid-anterior dada apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah lobus tengah (bronkus lateral dan medial
    5. Lipat ketiak kiri sampai mid-anterior dada apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah bronkus superir dan inferior
    6. Sepertiga bawah costae posterior kedua sisi, apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah bronkus apikal
    7. Sepertiga bawah costae posterior kedua sisi, apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah bronkus medial
    8. Sepertiga bawah costae posterior kanan, apabila yang akan di clapping dan vibrasi adalah daerah bronkus lateral
    9. Sepertiga bawah costae posterior kedua sisi, apabila yang akan di Clapping dan Vibrating adalah daerah bronkus posterior
  5. Lakukan clapping dan vibrasi selam kurang lebih 1 menit
  6. Setelah dilakukan tindakan drainase postural, clapping dan vibrasi, dapat dilakukan tindakan penghisapan lendir (Baca : Penghisapan Lendir)
  7. Lakukan auskultasi pada daerah paru yang dilakukan tindakan drainase postural, clapping dan vibrasi.
  8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Cara Tindakan Keperawatan Clapping dan Vibrating

Referensi

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakarta : EGC : 2004

Posting berlanjut dengan ( Baca : Prosedur Cara Teknik Penghisapan Lendir )

Prosedur Cara Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

Prosedur Cara Postural Drainase dan Fisioterapi Dada. Askep kapukonline.com update tentang Prosedur Tindakan Keperawatan Cara Postural Drainase dan Fisioterapi Dada, setelah sebelumnya posting ( Baca : Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen )

Fisioterapi Dada

Fisioterapi dada merupakan tindakan keperawatan dengan melakukan drainase postural, clapping dan vibrating pada pasien dengan gangguan sistem pernafasan, misalnya penyakit paru paru obstruksi kronis (Bronkhitis kronis), Asma dan Emfisema).

Tindakan drainase postural merupakan tindakan dengan menempatkan pasien dalam berbagai posisi untuk mengalirkan sekret di saluran pernafasan. Tindakan postural drainase diikuti dengan tindakan clapping (penepukan) dan vibrating (vibrasi/getaran).

Clapping dilakukan dengan menepuk dada posterior dan memberikan getaran (vibrasi) tangan pada daerah tersebut yang dilakukan pada saat pasien ekspirasi

Postural_Drainage

Tindakan drainase postural tidak dapat dilakukan pada pasien dengan penyakit tekanan intrakranial, dispnea berat, dan lansia. Clapping tidak dapat dilakukan pada pasien emboli paru, hemoragie, eksaserbasi dan nyeri hebat (Seperti pasien kanker)

Tujuan Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

  1. Meningkatkan efisiensi pola pernafasan
  2. Membersihkan jalan nafas

Alat dan bahan Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

  1. Pot sputum berisi desinfektan
  2. Kertas tissue
  3. Dua balok tempat tidur (Untuk drainase postural)
  4. Satu bantal (Untuk drainase postural)
  5. Stetoskop

Prosedur Kerja Postural Drainase dan Fisioterapi Dada

Drainase Postural
  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi
    1. Semi fowler bersandar kekanan, kekiri, lalu kedepan apabila daerah yang akan didrainase pada lobus atas bronkus apikal
    2. Tegak dengan sudut 450 membungkuk ke depan pada bantal dengan sudut 450 ke kiri dsan ke kanan apabila daerah yang akan di drainase bronkus posterior
    3. Berbaring dengan bantal di bawah lutut apabila yang akan di drainase bronkus anterior
    4. Posisi trandelenburg dengan sudut 300 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 35 - 40 cm, sedikit miring kekiri apabila yang akan di drainase pada lobus tengah (Bronkhus lateral dan medial)
    5. Posisi trandelenburg dengan sudut 300 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 35 - 40 cm, sedikit miring ke kanan apabila daerah yang akan di drainase bronkhus superior dan inferior
    6. Condong dengan bantal di bawah panggul apabila yang di drainase bronkus apikal
    7. Posisi trandelenburg dengan sudut 450 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 45 - 50 cm ke samping kanan, apabila yang akan di drainase bronkhus medial
    8. Posisi trandelenburg dengan sudut 450 atau dengan menaikkan kaki tempat tidur 45 - 50 cm ke samping kiri, apabila yang akan di drainase bronkhus lateral
    9. Posisi trandelenburg condong dengan sudut 450 dengan bantal di bawah panggul, apabila yang akan di drainase bronkhus posterior
  4. Lama pengaturan posisi pertama kali adalah 10 menit, kemudian periode selanjutnya kurang lebih 15 - 30 menit
  5. Lakukan observasi tanda vital selama prosedur
  6. Setelah pelaksanaan drainase postural lakukan clapping, vibrasi dan pengisapan (suction)
  7. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Refferensi

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakarta : EGC : 2004

Posting ini berlanjut dan tak terpisahkan dengan posting selanjutnya Prosedur Cara Tindakan Clapping dan Vibrating

Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen

Prosedur Cara Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen. Askep kapukonline.com update tentang Prosedur Tindakan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen, setelah sebelumnya posting ( Baca : Prosedur Cara Tindakan Memandikan Pasien )

Prosedur Pemenuhan Kebutuhan Oksigen

Pemenuhan kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut hierarki Maslow. Kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh.

Kebutuhan oksigen dalam tubuh harus terpenuhi karena apabila kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang, maka akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan apabila hal tersebut berlangsung lama, akan terjadi kematian.

Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigen adalah sistem pernafasan, sistem persarafan dan kardiovaskuler. Masalah kebutuhan oksigen merupakan masalah utama dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Hal ini terbukti pada seseorang yang kekurangan oksigen akan mengalami hipoksia dan akan terjadi kematian.

Proses pemenuhan kebutuhan oksigen pada manusia dapat dilakukan dengan cara pemberian oksigen melalui saluran pernafasan, membebaskan saluran pernafasan dari sumbatan yang menghalangi masuknya oksigen, memulihkan dan memperbaiki organ pernafasan agar berfungsi secara normal

Prosedur pemenuhan kebutuhan oksigen dalam pelayanan keperawatan dapat dilakukan dengan pemberian oksigen dengan menggunakan kanula dan masker, fisioterapi dada dan cara penghisapan lendir (suction)

Pemberian Oksigen

Pemberian oksigen berupa pemberian oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernafasan dengan menggunakan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen pada klien dapat melalui tiga cara, yaitu melalui kateter nasal, kanula nasal dan masker oksigen

Tujuan Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen

  1. Memenuhi kebutuhan oksigen
  2. Mencegah terjadinya hipoksia

Alat dan Bahan Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen

  1. Tabung oksigen lengkap dengan flow meter dan humidifier
  2. Kateter nasal
  3. Vaselin / jelly

Prosedur Kerja Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen

Kateter nasal

  1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
  2. Cuci tangan
  3. Atur aliran oksigen sesuai dengan kecepatan yang dibutuhkan, biasanya 1 - 6 liter/menit. Kemudian observasi humidifier dengan melihat air yang bergelembung
  4. Atur posisi pasin dengan semi fowler
  5. Ukur kateter nasal dimulai dari lubang telinga sampai ke hidung dan berikan tanda
  6. Buka saluran udara dari tabung oksigen
  7. Berikan minyak pelumas (Vaselin / jelly)
  8. Masukkan ke dalam hidung sampai batas tadi yang ditentukan
  9. Lakukan pengecekan kateter apakah sudah masuk atau belumengan menekan lidah pasien menggunakan spatel (akan terlihat posisinya di belakang uvula)
  10. Fiksasi pada daerah hidung
  11. Periksa kateter nasal setiap 6 - 8 jam
  12. Kaji cuping, septum dan mukos hidung serta periksa kecepatan aliran oksigen setiap 6 - 8 jam
  13. Catat kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respon pasien
  14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

Prosedur Cara Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Oksigen

Refferensi

  1. A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakrata : EGC : 2004

Posting ini berlanjut dengan Prosedur Cara Tindakan Pemberian Oksigen dengan Kanula Nasal