Prosedur Pengukuran Pemeriksaan Pernafasan

kapukonline - Up date Askep / Asuhan Keperawatan Prosedur Pengukuran Pemeriksaan Pernafasan - KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (KDM). Ini merupakan kelanjutan posting sebelumnya, ( Baca : Prosedur Pengukuran Suhu Tubuh Oral Axilla Rectal dan Prosedur Tindakan Pemeriksaan Tanda Vital serta Prosedur Pengukuran Pemeriksaan Denyut Nadi )

Nilai pemeriksaan pernafasan merupakan salah satu indikator untuk mengetahui fungsi sistem pernafasan yang terdiri dari mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru dan pengaturan keseimbangan asam-basa.

TUJUAN :

  1. Mengetahui frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan
  2. Menilai kemampuan fungsi pernafasan.

ALAT dan BAHAN :

  1. Arloji (Jam) atau stop-watch
  2. Buku catatan nadi
  3. Pena

PROSEDUR KERJA :

  1. Atur posisi pasien
  2. Jangan beritahu klien jika frekuensi pernafasannya dihitung
  3. Hitung frekuensi dan irama pernafasan
  4. Jelaskan pada klien bahwa saudara telah menghitung frekuensi dan irama pernafasan klien
  5. Catat hasil

NAMA PASIEN

PEMERIKSA

HASIL PEMERIKSAAN PERNAFASAN (kali/menit dan irama)

KESIMPULAN

Frekuensi pernafasan

No

UMUR

RENTANG (kali/menit)

NILAI RATA-RATA WAKTU TIDUR (kali/menit)

1

Neonatus

30 – 60

35

2

1 bulan – 1 tahun

30 – 60

30

3

1 tahun – 2 tahun

25 – 50

25

4

3 tahun – 4 tahun

20 – 30

22

5

5 tahun – 10 tahun

15 – 30

18

6

10 tahun lebih

15 – 30

15

BUKU :

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakrata : EGC : 2004

Posting ini berlanjut tentang ( Baca : Prosedur Pemeriksaan Pengukuran Tekanan Darah )

Prosedur Pengukuran Pemeriksaan Denyut Nadi

kapukonline - Up date Askep / Asuhan Keperawatan Prosedur Pengukuran Pemeriksaan Denyut Nadi - KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (KDM). Ini merupakan kelanjutan posting sebelumnya ( Baca : Prosedur Pengukuran Suhu Tubuh Oral Axilla Rectal dan Prosedur Tindakan Pemeriksaan Tanda Vital )

Sekarang tentang pengukuran atau pemeriksaan denyut nadi. Nilai denyut nadi merupakan indikator untuk menilai sistem kardiovaskuler. Denyut nadi dapat diperiksa dengan mudah menggunakan jari tangan (palpasi) atau dapat juga dilakukan dengan alat elektronik yang sederhana maupun canggih

Cara Memeriksa Denyut Nadi

Pemeriksaan denyut nadi dapat dilakukan pada daerah arteri radialis pada pergelangan tangan, arteria brakhialis pada siku bagian dalam, arteri karotis pada leher, arteri temporalis pada samping muka bagian atas didepan-atas telinga, arteri femoralis, arteri dorsalis pedis, dan pada arteri frontalis pada bayi.

Titik Denyut Nadi

TUJUAN :

  1. Mengetahui denyut nadi (irama, frekuensi, dan kekuatan)
  2. Menilai kemampuan fungsi kardiovaskuler

ALAT dan BAHAN :

  1. Arloji (Jam) atau stop-watch
  2. Buku catatan nadi
  3. Pena

Prosedur Kerja :

  1. Jelaskan prosedur kepada klien
  2. Cuci tangan
  3. Atur posisi pasien
  4. Letakkan kedua lengan pasien terlentang disisi tubuh
  5. Tentukan letak arteri (denyut nadi yang akan dihitung)
  6. Periksa denyut nadi (arteri) dengan menggunakan ujung jari telunjuk, jari tengah dan jari manis (ex : lihat gambar). Tentukan frekuensi per-menit dan keteraturan irama serta kekuatan denyutan
  7. Catat hasil
  8. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

BUKU :

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakrata : EGC : 2004

Posting ini berlanjut tentang ( Baca : Prosedur Pemeriksaan Pengukuran Pernafasan )

Prosedur Pengukuran Suhu Tubuh Oral Axilla Rectal

kapukonline - Up date Askep / Asuhan Keperawatan Prosedur Pengukuran Suhu Tubuh Oral Axilla Rectal - KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (KDM). Postingan ini kelanjutan dari postingan sebelumnya PROSEDUR TINDAKAN PEMERIKSAAN TANDA VITAL

Nilai hasil pemeriksaan suhu merupakan indikator untuk menilai keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas. Nilai ini akan menunjukkan peningkatan bila pengeluaran panas meningkat.

Kondisi demikian dapat juga disebabkan oleh vasodilatasi, berkeringat, hiperventilasi dan lain-lain. Demikian sebaliknya, bila pembentukan panas meningkat maka nilai suhu tubuh akan menurun.

Prosedur Pengukuran Suhu Tubuh

Kondisi ini dapat dilihat pada peningkatan metabolisme dan kontraksi otot. Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan secara oral, rektal dan aksila.

TUJUAN TINDAKAN

Pengukuran suhu tubuh dilakukan untuk mengetahui rentang suhu tubuh.

Alat dan Bahan

  1. Termometer
  2. 3 buah botol:
    1. Botol 1 berisi larutan sabun
    2. Botol 2 berisi larutan desinfektan
    3. Botol 3 berisi air bersih
  3. Bengkok
  4. Kertas / tissue
  5. Vaselin
  6. Buku catatan suhu
  7. Sarung tangan
Prosedur Kerja

PEMERIKSAAN SUHU ORAL

  1. Jelaskan prosedur kepada klien
  2. Cuci tangan
  3. Gunakan sarung tangan
  4. Atur posisi pasien
  5. Tentukan letak bawah lidah
  6. Turunkan suhu termometer dibawah anatara 340C – 350C.
  7. Letakkan termometer dibawah lidah sejajar dengan gusi
  8. Anjurkan mulut dikatupkan selama 3 – 5 menit
  9. Angkat termometer dan baca hasilnya
  10. Catat hasil
  11. Bersihkan termometer dengan kertas / tissue
  12. Cuci termometer dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan.
  13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

PEMERIKSAAN SUHU AKSILA

  1. Jelaskan prosedur kepada klien
  2. Cuci tangan
  3. Gunakan sarung tangan
  4. Atur posisi pasien
  5. Tentukan letak aksila (Ketiak) dan bersihkan daerah aksila dengan menggunakan tissue
  6. Turunkan suhu termometer dibawah anatara 340C – 350C.
  7. Letakkan termometer pada daerah aksila dan lengan pasien fleksi diatas dada (mendekap dada)
  8. Setelah 3 – 5 menit, angkat termometer dan baca hasilnya
  9. Catat hasil
  10. Bersihkan termometer dengan kertas / tissue
  11. Cuci termometer dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan.
  12. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

PEMERIKSAAN SUHU REKTAL

  1. Jelaskan prosedur kepada klien
  2. Cuci tangan
  3. Gunakan sarung tangan
  4. Atur posisi pasien dengan posisi miring
  5. Pakaian diturunkan sampai dibawah glutea (dibawah pantat)
  6. Tentukan letak rektal, lalu oleskan vaseline
  7. Turunkan suhu termometer dibawah anatara 340C – 350C.
  8. Letakkan telapak tangan pada sisi glutea pasien, masukkan termometer kedalam rektal dengan perlahan-lahan, jangan sampi berubah posisi dan ukur suhu
  9. Setelah 3 – 5 menit, angkat termometer dan baca hasilnya
  10. Catat hasil
  11. Bersihkan termometer dengan kertas / tissue
  12. Cuci termometer dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan.
  13. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

BUKU:

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakrata : EGC : 2004

Posting ini berlanjut tentang (Baca : Prosedur Pengukuran Pemeriksaan Denyut Nadi )

Prosedur Tindakan Pemeriksaan Tanda Vital

Pemeriksaan tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan sitem tubuh. Tanda vital meliputi suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah.

Prosedur Tindakan Pemeriksaan Tanda Vital

Tanda vital mempunyai nilai sangat penting pada fungsi tubuh. Adanya perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh; Denyut nadi dapat menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskuler; Frekuensi pernafasan dapat menunjukkan fungsi pernafasan; dan Tekanan darah dapat menilai kemampuan sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi.

Semua tanda vital tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi. Perubahan tanda vital dapat terjadi bila tubuh dalam dalam kondisi aktivitas berat atau dalam keadaan sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem tubuh

Pemeriksaan tanda vital yang dilaksanakan oleh perawat digunakan untuk memantau perkembangan pasien. Tindakan ini bukan hanya merupakan kegiatan rutin pada klien, akan tetapi merupakan tindakan pengawasan terhadap perubahan atau gangguan sistem tubuh.

Pelaksanaan pemeriksaan tanda vital pada semua klien berbeda satu dengan yang lain. Tingkat kegawatan pasien seperti pada kondisi pasien kritis akan membutuhkan pengawasan terhadap tanda vital yang lebih ketat dibanding pada kondisi pasien yang tidak kritis, demikian sebaliknya.

Prosedur pemeriksaan tanda vital yang dilakukan pada pasien meliputi pengukuran suhu, pemeriksaan denyut nadi, pemeriksaan pernafasan, dan pengukuran tekanan darah.

BUKU:

A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, “Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia” Penulis: A. Aziz Alimul Hidayat, S.Kp, Musrifatul Uliyah, S.Kp; Editor: Monica Ester.- Jakrata : EGC : 2004

Posting ini berlanjut dengan Prosedur Pengukuran Suhu Tubuh Oral Axilla Rectal

Askep / Asuhan Keperawatan Jiwa Harga Diri Rendah

Askep kapukonline.com Up date Askep / Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah - ASKEP JIWA, setelah sebelumnya posting tentang Askep Jiwa Halusinasi Dengar

A. MASALAH UTAMA

Harga diri rendah

B. PENGERTIAN

Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri.

C. PROSES TERJADINYA MASALAH

Konsep diri di definisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang diriya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sunden, 1995). Konsep diri tidak terbentuk sejak lahir namun dipelajari.

RENTANG RESPON KONSEP DIRI

Rentang Respon Harga Diri

Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Keliat, 1999).

Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah.

Harga diri rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain.

Gangguan harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial.

Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag tidak realistis. Sedangkan stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti :

  1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam.
  2. Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi peran :
    1. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk peyesuaian diri.
    2. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
    3. Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.

Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara :

  1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubugan kerja dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai.
  2. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama

D. POHON MASALAH

Resiko isolasi sosial: menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

Core problem

Berduka disfungsional

E. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

  1. Masalah keperawatan :
    1. Resiko isolasi sosial : menarik diri.
    2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
    3. Berduka disfungsional.
  2. Data yang perlu dikaji :
    1. Data subyektif :
      Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
    2. Data obyektif:
      Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Resiko isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
  2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional.

G. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

  1. Tujuan umum: sesuai masalah (problem).
  2. Tujuan khusus :
    1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

      Tindakan :

      1. Bina hubungan saling percaya
        1. Salam terapeutik
        2. Perkenalan diri
        3. Jelaskan tujuan inteniksi
        4. Ciptakan lingkungan yang tenang
        5. Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan).
      2. Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
      3. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
      4. Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
    2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

      Tindakan :

      1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
      2. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis.
      3. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
    3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

      Tindakan :

      1. Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
      2. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
    4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.

      Tindakan :

      1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
      2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
      3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
    5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan

      Tindakan :

      1. Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
      2. Beri pujian atas keberhasilan
      3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
    6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

      Tindakan :

      1. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
      2. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
      3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
      4. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Boyd dan Nihart. (1998). Psychiatric Nursing& Contemporary Practice. 1st edition. Lippincot- Raven Publisher: Philadelphia.
  2. Carpenito, Lynda Juall. (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC: Jakarta.
  3. Keliat, Budi Anna dll. (1998). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.. EGC: Jakarta.
  4. Schultz dan Videback. (1998). Manual Psychiatric Nursing Care Plan. 5th edition. Lippincott- Raven Publisher: philadelphia.
  5. Stuart dan Sundeen. (1995). Buku Saku Keperawatan Jwa. Edisi 3. EGC: Jakarta.
  6. Townsend. (1995). Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan Construction. Edisi 3.Jakarta : EGC

Semoga artikel tentang Askep / Asuhan Keperawatan Jiwa : Harga Diri Rendah ini bermanfaat bagi anda

Leaflet Stroke

Stroke merupakan penyakit yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah ke otak.

FAKTOR PENCETUS

Faktor resiko yang dapat mengakibatkan stroke antara lain :

  1. Tekanan darah tinggi
  2. Penyakit jantung koroner
  3. Cholesterol tinggi
  4. Penyakit kencing manis
  5. Kelainan pembekuan darah
  6. Kebiasaan merokok
  7. Obesitas / kegemukan
  8. Stress
  9. Usia lanjut
  10. Kurang aktivitas

TANDA dan GEJALA STROKE

  1. Kelemahan mendadak, mati rasa, kesemutan pada muka, kesemutan pada lengan atau kaki
  2. Kehilangan kemampuan berbicara secara tiba-tiba atau kesulitan memahami perkataan
  3. Kehilangan penglihatan mendadak pada sebelahmata atau kedua mata
  4. Sakit kepala hebat mendadak
  5. Penurunan kesadaran
  6. Kesulitan menelan
  7. Tersedak waktu makan atau minum
  8. Gangguan emosi atau daya ingat

CARA MENCEGAH STROKE

  1. Menghindari stress
  2. Menghentikan kebiasaan merokok
  3. Diet rendah garam dan lemak, memperbanyak makan sayur dan buah
  4. Olah raga teratur
  5. Mengontrol tekanan darah dan gula darah serta check up kesehatan secara teratur
  6. Kontrol teratur bila mengidap penyakit kronis seperti darah tinggi (Hipertensi), kencing manis (Diabetes Melittus), cholesterol tinggi, penyakit jantung dll
  7. Minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter

YANG PERLU DILAKUKAN BILA MENEMUKAN ORANG YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE

  1. Jangan memberi makan / minum sampai dipastikan sudah sadar atau tidak ada gangguan menelan, karena dapat mengakibatkan tersedak dan menutup jalan nafas
  2. Segera bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat, bila mungkin dalam 3 – 6 jam (Golden Periode)

Semoga artikel tentang Leaflet Stroke ini bermanfaat bagi anda...

Proses Keperawatan Edisi 4 : Mencatat Proses Keperawatan

Posting Mencatat Proses Keperawatan ini kelanjutan dari posting sebelumnya ( Baca : Proses keperawatan Edisi 3, Proses Keperawatan Edisi 2 : Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dan Proses Keperawatan Edisi 1 )

MENCATAT PROSES KEPERAWATAN

Secara umum, tujuan dari sistem pencatatan adalah :

  1. Memfasilitasi kualitas perawatan pasien
  2. Memastikan pencatatan tentang kemajuan dengan memperhatikan hasil yang berfokus pada pasien.
  3. Memfasilitasi konsistensi interdisiplin dan komunikasi tujuan serta kemajuan pengobatan

Dua publikasi terbaru memberikan perawat pedoman untuk pencatatan proses keperawatan dan mendukung kebutuhan akan penulisan (atau dilakukan dengan komputer) rencana perawatan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Standar Keperawatan (Standard of Clinical Nursing Practice, ANA:1991)”…menggambarkan perawatan yang diberikan untuk semua klien dari pelayanan keperawatan,” dan setiap standar mencakup kriteria pengukuran yang menunjukkan catatan.

Selain itu, Standar Asuhan Keperawatan 1992 (Joint Commission on Accreditation of Healh Care Organization [JCAHO]) juga memfokuskan perhatian kita pada pencatatan seperti yang disajikan dalam tabel 2-1. Standar yang telah diperbaiki ini menggambarkan tanggung jawab profesional semua NR dan memberikan kriteria untuk membantu mengukur pencapaian standar yang diidentifikasi.

Dari fokus perawatan, dokumentasi memberikan catatan tentang penggunaan proses keperawatan untuk memberikan perawatan pasien secara individual. Pengkajian awal dicatat dalam riwayat atau dasar data pasien.

Diagnosa dari masalah/kebutuhan pasien, dan perencanaan asuhan pasien dicatat pada rencana perawatan. Implementasi dari perencanaan dicatat dalam catatan kemajuan dan/atau flow-sheet. Evaluasi asuhan dicatat dalam catatan kemajuan dan/atau rencana perawatan.

Pemeliharaan catatan medik adalah salah satu persyaratan yang paling esensial untuk akreditasi fasilitas perawatan kesehatan oleh JCAHO dan/atau lembaga pemberi akreditasi atau pemberi lisensi lain.

Standar JCAHO menyatakan bahwa catatan medik harus dicatat secara akurat dan dalam cara tepat.waktu. Oleh karenanya, pentingnya melengkapi catatan sesuai jadwal dan dengan cara yang memudahkan pemanggilan data harus ditekankan.

Dokumentasi bukan hanya persyaratan untuk akreditasi, tetapi juga merupakan catatan permanen tentang apa yang terjadi dengan setiap pasien. Dokumentasi ini merupakan persyaratan legal dalam setiap lingkungan pelayanan kesehatan.

Dalam masyarakat kita, dengan banyaknya gugatan dan sorotan malpraktek agresif, semua aspek rekam medik menjadi penting untuk pencatatan legal. Rencana perawatan yang telah dikembangkan untuk pasien tertentu, berfungsi sebagai kerangka kerja atau garis besar untuk pencatatan perawatan yang telah diberikan.

Oleh karenanya, catatan perkembangan dan flow sheet mencerminkan implementasi rencana tindakan dengan mencatatkan bahwa tindakan yang tepat telah dilakukan, kewaspadaan diterapkan, dan sebagainya.

Baik implementasi dari intervensi maupun kemajuan yang mengarah pada hasil yang dapat diukur harus dicatat dalam bentuk yang obyektif dan jelas serta dengan cara yang mencerminkan perkembangan yang mengarah pada hasil yang diharapkan yang dapat diukur dengan penggunaan intervensi staf yang telah direncanakan. Dokumentasi ini juga memerlukan tanggal dan spesifik waktu dan harus ditandatangani oleh orang yang menuliskannya.

Setiap kesalahan dalam pencatatan, harus diberi tanda silang dengan satu garis sehingga masih dapat dibaca, di identifikasi oleh penulis sebagai “kesalahan” kemudian ditandatangani. Penghapusan dengan alat penghapus atau dicoret hingga tak terbaca lagi adalah hal tidak dapat dibenarkan, karena ini diartikan bahwa individu atau fasilitas mencoba untuk mengubah fakta.

Catatan medik adalah juga merupakan sumber utama yang memberikan bukti pelayanan, merupakan lembar yang diperlukan untuk mempertahankan pendapatan. Pembayaran pihak ketiga mendesak bahwa mengapa, kapan, dimana, bagaimana, apa, dan siapa dari pelayanan dicatat dengan jelas. Tidak adanya pencatatan seperti ini dapat mengakibatkan penghentian bantuan untuk pasien individual dan oleh karenanya juga menghentikan pengobatan.

Oleh karena itu, catatan perkembangan harus mencatat apa yang terjadi pada pasien selama semua fase penyakit, pengobatan, penyembuhan. Penting artinya untuk mencatat informasi dan hasil pengamatan, yang akan membantu baik perawat yang bertugas maupun pemberi asuhan perawatan pasien yang lain dalam mempertahankan kontinguitas asuhan yang telah direncanakan. Tabel 2.2 memberikan contoh informasi yang harus dicatat dalam catatan pasien.

Ada beberapa format pencatatan saat ini digunakan untuk pencatatan (spt… problem oriented medical record [FORM]; FOCUS® Charting). Apapun jenis format yang anda gunakan, entri harus dituliskan dengan ringkas dan konsisten, untuk menghindari kebingungan dan untuk memenuhi kebijakan dan prosedur-prosedur lembaga yang sudah ada. Contoh format pencatatan disajikan pada Postingan selanjutnya..

TABEL 2-1. Porsi Sampel dari Satu Standar Asuhan Keperawatn JCAHO

AK.1. Pasien mendapatkan asuhan keperawatan didasarkan pada pengkajian kebutuhan mereka yang didokumentasikan.
          AK.1.3.4 Catatan medik pasien meliputi dokumentasi tentang
                 AK.1.3.4.1. Pengkajian awal dan pengkajian ulang
                 AK.1.3.4.2. Diagnosa keperawatan dan/atau kebutuhan asuhan pasien 
                AK.1.3.4.3.Intervensi diidentifikasi untuk memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien
AK.1.3.4.4. Asuhan keperawatan yang diberikan
AK.1.3.4.5. Respon pasien, dan hasil yang diharapkan, perawatan yang diberikan.
AK.1.3.4.6. Kemampuan pasien dan/atau bila memungkinkan, orang terdekat mereka untuk mengatasi kebutuhan perawatan yang berkelanjutan setelah pemulangan.

TABEL 2-2. Isi Catatan Perkembangan

  1. Masalah atau isu yang berubah-ubah atau tidak jelas yang harus diatasi, termasuk upaya untuk menghubungi pemberi perawatan pasien yang lain
  2. Insiden atau wawancara yang patut diperhatikan yang mencakup pasien yang akan berguna untuk pencatatan yang lebih rinci
  3. Data lain yang berkaitan seperti catatan pada panggilan telepon, kunjungan rumah, dan interaksi keluarga.
  4. Data tambahan insiden penting seperti pernyataan atau ungkapan yang tampaknya penting atau pernyataan yang membuka wawasan yang dibuat oleh pasien ; pandangan anda tentang pola perilaku pasien; penggunaan prosedur pengobatan apa saja yang khusus; atau kejadian penting lainnya seperti episode nyeri, gawat nafas, serangan panik, reaksi obat-obatan, atau komentar bunuh diri.
  5. Asuhan yang diberikan, aktifitas atau pengamatan jika tidak dicatatkan ditempat lain pada flow sheet (Kunjungan dokter, penyelesaian pemeriksaan yang dipesankan, obat-obatan prn {bila perlu} dsb)

Buku

Marilynn E. Doenges, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler: Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Ed ke-3, Alih bahasa: I Made Kariasa, S.Kep; Ni Made Sumarwati, S.Kep, Editor: Monica Ester, S.Kep; Yasmin Asih, S.Kep, 2000, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Proses Keperawatan Edisi 3 : Intervensi Keperawatan

Posting Proses Keperawatan Edisi 3 : Intervensi Keperawatan ini kelanjutan dari posting sebelumnya ( Baca : PROSES KEPERAWATAN EDISI 2 dan Proses Keperawatan Edisi 1 ) serta berlanjut dengan posting tentang ( Baca : Mencatat Proses Keperawatan )

Hasil Pasien yang Diperkirakan

Hasil pasien yang diperkirakan didefinisikan sebagai hasil intervensi keperawatan dan respons-respons pasien yang dapat dicapai, diinginkan oleh pasien dan/atau pemberi asuhan, dan dapat dicapai dalam peride waktu yang telah ditentukan, situasi dan sumber-sumber tertentu yang ada. Hasil yang diinginkan ini merupakan langkah yang dapat diukur mengarah pada tujuan-tujuan saat pulang yang telah ditetapkan sebelumnya.

Hasil pasien yang diperkirakan yang baik harus:

  1. Spesifik
  2. Realistik
  3. Dapat diukur
  4. Menunjukkan kerangka waktu pencapaian yang pasti
  5. Mempertimbangkan keinginan dan sumber pasien

Hasil pasien yang diharapkan ditulis dengan menyebutkan item-item dan/atau perilaku yang dapat diamati dan dipantau untuk menentukan apakah hasil-hasil yang dapat diterima sudah tercapai atau belum dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Digunakan kata kerja aksi dan jangka waktu, seperti., “pasien akan ambulasi, menggunakan tongkat, dalam 48 jam setelah pembedahan”.

Kerangka waktu ini tergantung pada lama rawat pasien yang diprogramkan atau diantisipasi, sering ditentukan oleh klasifikasi kelompok diagnosa (diagnosis related group [DRG]) dan memprtimbangkan adanya komplikasi atau situasi lain (spt., usia)

Jika hasil yang diharapkan ditulis dengan tepat, maka mereka akan memberikan arah dalam perencanaan dan validasi intervensi keperawatan. Pertimbangan kedua hasil pasien yang diharapkan berikut: ‘mengidentifikasi kebutuhan nutrisi individu dalam 36 jam” dan “Merumuskan rencana diet berdasarkan kebutuhan nutrisi yang teridentifikasikan dalam 72 jam”

Berdasarkan pada kejelasan hasil yang diharapkan ini, perawat dapat memilih intervensi keperawatan untuk memastikan bahwa pengetahuan tentang diet pasien yang dikaji, kebutuhan individual teridentifikasi, dan penyuluhan tentang nutrisi yang diberikan.

Tindakan/Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Tindakan/intervensi keperawatan dipilih untuk membantu pasien dalam mencapai hasil pasien yang diharapkan dan tujuan pemulangan. Harapannya adalah bahwa perilaku yang dipreskripsikan akan menguntungkan pasien dan keluarga dalam cara yang dapat diprediksi, yang berhubungan dengan masalah yang diidentifikasikan dan tujuan yang telah dipilih.

Intervensi ini mempunyai maksud mengindividualkan perawatan dengan memenuhi kebutuhan spesifik pasien serta harus menyertakan kekuatan-kekuatan pasien yang telah diidentifikasi bila memungkinkan. Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas, dimulai dengan kata kerja aksi. Pengkualifikasian seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi, dan besarnya memberikan isi dari aktifitas yang direncanakan. misalnya “Bantu aktivitas perawatan diri sesuai yang dibutuhkan setiap pagi”. “Catat frekuensi pernafasan dan nadi sebelum, selama, dan setelah aktivitas”. “Ukur masukan/haluaran setiap jam”. “Mendengar aktif kekhawatiran pasien mengenai diagnosis”.

Blog ini membagi intervensi/tindakan keperawatan menjadi mandiri (dilakukan perawat) dan kolaboratif (dilakukan oleh pemberi perawatan lainnya). Contoh dari kedua tindakan yang dilakukan secara profesional berbeda ini adalah:

Independen: Menciptakan lingkungan yang tenang, nyaman, mengurangi kebisingan/aktivitas lingkungan, dan membatasi jumlah pengunjung serta lamanya waktu dirawat

Kolaboratif: memberikan obat antiansietas seperti yang dipesankan.

Rasional

Meskipun rasional tidak tampak pada rencana perawatan institusi, rasional ini disertakan untuk membantu peserta didik dan perawat pelaksana dalam menghubungkan prinsip patofisiologi dan/atau psikologi dengan intervensi keperawatan yang dipilih.

Posting ini berlanjut Mencatat Proses Keperawatan yang diposting dengan judul Proses Keperawatan Edisi 4

Proses Keperawatan Edisi 2 : Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik

Posting Proses Keperawatan Edisi 2 : Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik ini kelanjutan dari posting sebelumnya ( Baca : Proses keperawatan Edisi 1 ) dan berlanjut dengan postingan ( Baca : Proses Keperawatan Edisi 3 : Intervensi Keperawatan dan PROSES KEPERAWATAN EDISI 2 )

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik termasuk sebagai bagian dari proses pengumpulan data. Perawat harus waspada terhadap hasil pemeriksaan signifikan yang membutuhkan pelaporan pada dokter dan/atau melakukan intervensi keperawatan khusus. Beberapa pemeriksaan digunakan untuk mendiagnosa penyakit, sementara yang lainnya sangat berguna dalam mengikuti perjalanan penyakit atau penyesuaian terapi.

Pada banyak kasus, hubungan antara pemeriksaan dengan patofisiologi penyakit cukup jelas, tetapi pada kasus lainnya tidak jelas. Hal ini merupakan  interelasi antara berbagai organ dan sistem tubuh. Interprestasi dari hasil pemeriksaan diagnostik harus terintegrasi dengan riwayat kesehatan serta temuan-temuan fisik.

Prioritas Keperawatan

Dalam blog ini, prioritas keperawatan dituliskan dalam urutan tertentu untuk memudahkan pengurutan diagnosa keperawatan berkaitan yang dipilih yang tersaji dalam pedoman rencana perawatan. Pada situasi pasien tertentu, prioritas perawatan berbeda berdasarkan kebutuhan khusus pasien dan dapat beragam dari menit ke menit. Diagnosa perawatan yang merupakan prioritas hari ini mungkin menjadi kurang prioritas keesokan harinya tergantung pada fluktuasi kondisi fisik dan psikososial pasien atau respons perubahan pasien terhadap kondisi yang ada.

Contoh prioritas keperawatan untuk pasien dengan diagnosa hipertensi berta dapat meliputi:

  1. Mempertahankan/meningkatkan fungsi kardiovaskuler
  2. Mencegah komplikasi
  3. Memberikan informasi tentang proses penyakit, prognosis, dan program pengobatan
  4. Mendukung secara aktif kontrolpasien terhadap kondisi

Tujuan Pemulangan

Manakala prioritas keperawatan telah ditentukan, tahap berikutnya adalah menetapkan tujuan pengobatan. Dalam blog ini setiap kondisi medis mempunyai tujuan pemulangan yang ditetapkan, yang dinyatakan secara luas dan mencerminkan status umum yang diinginkan oleh pasien pada saat pulang atau dipindahkan.

Suatu contoh tujuan saat pulang untuk pasien dengan hipertensi berat meliputi:

  1. Tekanan darah dalam batas yang dapat diterima untuk individu
  2. Komplikasi kardiovaskuler dan sistemik dapat dicegah/diminimalkan
  3. Proses penyakit / prognosis dan regimen terapi dapat dipahami
  4. Perubahan gaya hidup / perilaku yang diperlukan telah dilakukan

Diagnosa Keperawatan (Identifikasi Masalah)

Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan, mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respons terhadap masalah aktual atau resiko tinggi. Label diagnosa keparawatan

Definisi Kerja Diagnosa Keperawatan NANDA

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tetntang respons individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/prioritas kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat.

Terdapat beberapa langkah yang tercakup dalam proses identifikasi masalah. Dengan mengintegrasikan langkah-langkah ini memberikan pendekatan sistemik untuk mengidentifikasi  diagnosa keparawatan secara akurat.

  1. Pengumpulan data dasar pasien (wawancara keperawatan, pengkajian fisik serta Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik) disertai dengan informasi yang dikumpulkan oleh pemberi asuhan kesehatan.
  2. Menelaah dan menganalisa data pasien
  3. Mensintesis data pasien yang telah dikumpulkan sebagai satu kesatuan kemudian memberi label penilaian klinis anda tentang respons pasien terhadap masalah-masalah aktual atau resiko tinggi.
  4. Membandingkan dan membedakan hubungan antara penilaian klinis anda terhadap catatan faktor-faktor yang berhubungan dan batasan karakteristik NANDA untuk diagnosa keperawatan tertentu. Tahap ini penting untuk memilih label diagnosa keperawatan yang sesuai untuk digunakan dalam membuat pernyataan diagnostik spesifik pasien.
  5. Menggabungkan diagnosa keperawatan dengan faktor-faktor yang berhubungan dan batasan karakteristik untuk membuat pernyataan diagnostik pasien. Sebagai contoh, pernyataan diagnostik untuk pasien paraplegi dengan ulkus dekubitus dapat dibaca: Integritas Kulit, kerusakan, yang berhubungan dengan tekanan, kerusakan sirkulasi, dan penurunan sensasi yang dibuktikan oleh luka basah, area sakral.

Diagnosa keperawatan adalah setepat data yang ada karena ditunjang oleh data terbaru yang dikumpulkan. Diagnosa keperawatan ini mencatat bagaimana situasi pasien saat itu, dan harus mencerminkan perubahan yang terjadi pada kondisi pasien. Identifikasi masalah dan penetuan diagnostik yang akurat memberikan dasar untuk memilih intervensi keperawatan.

Diagnosa keperawatan dapat berupa respon fisik atau psikososial. Diagnosa keperawatan fisik dapat mencakup hal-hal yang berkaitan dengan proses-proses fisik, seperti sirkulasi (Perubahan Perfusi Jaringan); ventilasi (Kerusakan Pertukaran Ga); dan eliminasi (Konstipasi). Diagnosa keperawatan psikososial dapat mencakup hal-hal yang berkaitan dengan pikiran (Perubahan Proses Pikir); emosi (Ketakutan); atau gaya hidup/berhubungan (Perubahan Kinerja Peran).

Tidak seperti diagnosa medik, diagnosa keperawatan berubah sesuai dengan kemajuan pasien melalui berbagai tahapan penyakit/maladaptasi untuk penyelesaian masalah atau kesimpulan dari suatu kondisi. Setiap keputusan yang dibuat, perawata adalah ketergantungan terhadap waktu dan dengan tambahan informasi yang dikumpulkan pada waktu berikutnya, dapat mengubah keputusan,.

Sebagai contoh, masalah/kebutuhan awal untuk pasien yang menjalani bedah jantung dapat berupa Nyeri, Curah Jantung, Bersihan Jalan Nafas, dan Resiko Tinggi untuk terjadinya Infeksi. Sejalan dengan kemajuan pasien, masalah/kebutuhan akan berubah menjadi Intoleransi Aktivitas, Kurang Pengetahuan, dan Kinerja Peran.

Posting ini berlanjut Proses Keperawatan Edisi 3

Proses Keperawatan Edisi 1

Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif, dan preventif perawatan kesehatan. Untuk sampai pada hal ini, profesi keperawatan telah mengidentifikasi proses pemecahan masalah yang “menggabungkan elemen yang paling diinginkan dari seni keperawatandengan elemen yang paling relevan dari sistem teori, dengan menggunakan metode ilmiah” (Shore, 1988)

Proses keperawatan ini diperkenalkan pada tahun 1950-an sebagai proses yang terdiri atas tiga tahap: Pengkajian, Perencanaan, dan Evaluasi yang didasarkan pada metode ilmiah pengamatan, pengukuran, pengumpulan data, dan penganalisaan temuan.

Kajian selama bertahun-tahun, penggunaan dan perbaikan telah mengarahkan perawat pada pengembangan proses keperawatan menjadi lima langkah yang konkrit (Pengkajian, Identifikasi Masalah, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi), yang memberikan metode efisien tentang pengorganisasian proses berpikir untuk pembuatan keputusan klinis.

Kelima langkah ini adalah pusat untuk tindakan keperawatan dan memberikan asuhan pasien secara individual dan kualitas yang lebih tinggi dalam berbagai situasi. Proses keperawatan dimasukkan kedalam kerangka kerja konseptual dari semua kurikulum keperawatan dan diterima sebagai bagian dari definisi legal tentang keperawatan dalam Nurse Practice Acts di sebagian besar negara bagian.

Ketika pasien memasuki sistem pelayanan kesehatan, perawat, dengan menggunakan langkah-langkah pada proses keperawatan, mengumpulkan data, mengidentifikasi masalah/kebututhan, (diagnosa keperawatan), menetapkan tujuan-tujuan, mengidentifikasi hasil, dan memilih intervensi keperawatan untuk mencapai hasil serta tujuan ini. Setelah intervensi dilakukan, perawat mengevaluasi efektivitas rencana keperawatan dalam mencapai hasil serta tujuan yang diharapkan dengan menentukan pakah masalah-masalah telah terselesaikan atau belum.

Bila beberapa masalah yang teridentifikasi masih belum terselesaikan sampai saat pulang, rencana harus dibuat untuk pengkajian lebih lanjut, identifikasi masalah tambahan, perubahan hasil dan tujuan yang diharapkan, dan/atau mengubah intervensi dalam situasi perawatan di rumah. Meskipun kita menggunakan istilah pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, dan evaluasi secara terpisah, langkah-langkah progresif, pada kenyataanya semua elemen ini saling berhubungan.

Kesemuanya membentuk siklus yang kontinue tentang pemikiran dan tindakan melalui kontak dengan pasien dengan sistem perawatan kesehatan. Gambar 2-1 memberikan beberapa ide tentang bagaimana proses siklus ini bekerja. Proses keperawatan, digabungkan dengan semua ketrampilan pemikiran kritis, membuat metode pemecahan maslah aktif yang dinamik dan bersiklus.

Elemen penting untuk memberikan asuhan keperawatan terencana yang efektif adalah relevansinya sebagai pengidentifikasi dalam pengkajian pasien. Sesuai dengan American Nurses Association Standars of Clinical Nursing Practice (ANA, 1991), pengkajian pasien dibutuhkan pada area berikut: fisik, psikologi, sosiokultural, spiritual, kognitif, kemampuan fungsional, perkembangan, ekonomi, dan gaya hidup. Pengkajian ini, digabingkan dengan temuan-temuan medis serta pemeriksaan diagnostik, dicatat dalam data dasar pasien dan membentuk dasar yang kuat untuk mengembangkan rencana keperawatan pasien.

Dasar Data Pasien

Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara pengumpulan riwayat kesehatan, pengkajian fisik, pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, serta review catatan sebelumnya

Dalam blog ini, setiap kondisi medis tertentu mempunyai suatu penyerta dasar data pasien yang meliputi data subyektif (“melaporkan”) dan data obyektif (“menunjukkan). Dasar data pasien diorganisasikan di dalam 13 kategori Divisi Diagnostik. Contoh alat pengkajian medikal bedah, definisi divisi, dan situasi pasien tercakup dalam Bab 3.

WAWANCARA

Wawancara memberikan data yang perawat dapatkan dari pasien dan orang terdekat lainnya melalui percakapan dan pengamatan. Data dapat dikumpulkan selama satu periode kontak atau lebih dan harus mencakup semua data yang relevan.

Pengorganisasian dan perbaikan data ini membantu dalam identifikasi berkelanjutan tentang kebutuhan-kebutuhan perawatan pasien dan diagnosa keperawatan. Semua pihak dalam proses wawancara harus mengetahui bahwa data yang dikumpulkan digunakan dalam perencanaan perawatan pasien.

PENGKAJIAN FISIK

Selama aspek pengumpulan informasi ini, perawat melatih ketrampilan perseptual dan observasional, dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan penciuman.

Lama dan kedalaman setiap pengkajian fisik tergantung pada kondisi pasien sekarang dan kemendesakan situasi, tetapi biasanya mencakup inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Dalam blog ini data pengkajian fisik diperlihatkan dalam data dasar pasien sebagai data obyektif.

Posting ini berlanjut PROSES KEPERAWATAN EDISI 2

Askep / Asuhan Keperawatan Syndrome Maniere

ASKEP PENYAKIT MENIERE

A. Pengertian Penyakit Meniere

Penyakit Maniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya belum diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu gangguan pendengaran, tinnitus dan serangan vertigo (Kapita Selekta Edisi 3).

Pengertian vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar.

Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing.

Organ Telinga

Tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar bunyi, namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal dari tubuh penderita itu sendiri, meski demikian tinnitus hanya merupakan gejala, bukan penyakit, sehingga harus di ketahui penyebabnya

B. Etiologi Penyakit Meniere

Etilogi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti namun diduga adalah merupakan :

  1. Pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran darah yang menuju ke labirin.
  2. Gangguan elektrolit dalam cairan labirin.
  3. Reaksi alergi
  4. Gangguan autoimun

Penyakit Maniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh malabsorbsi dalam sakus endolimfatikus.

Namun, ada bukti menunjukkan bahwa banyak orang yang menderita penyakit Meniere mengalami sumbatan pada duktus endolimfatikus. Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops endolimfatikus, yang merupakan pelebaran ruang endolimfatikus. Baik peningkatan tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam dapat terjadi dan menimbulkan gejala Meniere.

C. Patofisiologi Penyakit Meniere.

Hidrops (pembengkakan) endolif akibat endolif dalam skala media oleh stria vaskularis terhambat.

D. Pathway Syndrome Maniere

  1. Download Pathway Syndrome Maniere

E. Manifestasi Klinik Penyakit Meniere

Meniere ditandai oleh 4 (empat) gejala :

  1. Kehilangan pendengaran sensorineoral progresif.
    Kehilangan pendengaan sensorineural progresif dan fluktuatif. Tinnitus bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk sebelum, setelah maupun selama serangan vertigo.
  2. Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan adanya tekanan di dalam telinga.
  3. Tinitus atau suara berdenging.
    Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan pada 10-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga
  4. Veritgo
    Gejalanya berupa serangan vertigo tak tertahankan episodik yang sering disertai mual dan/atau muntah, yang berlangsung selama 3-24 jam dan kemudian menghilang secara perlahan

F. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Meniere

  1. Tes gliserin :
    Pasien diberikan minuman gliserin 1,2 ml/kg BB setelah diperiksa tes kalori dan audiogram. Setelah dua jam diperiksa kembali dan dibandingkan.
  2. Audiogram :
    Tuli sensorineural, terutama nada rendah dan selanjutnya dapat ditemukan rekrutinen.
    Kadang audiogram dehidrasi dilakukan di mana pasien diminta meminum zat penyebab dehidrasi, seperti gliserol atau urea, yang secara teoritis dapat menurunkan jumlah hidrops endolimfe.
  3. Elektrokokleografi menunjukkan abnormalitas pada 60% pasien yang menderita penyakit meniere.
  4. Elektronistagmogram bisa normal atau menunjukkan penurunan respons vestibuler.
  5. CT scan atau MRI Kepala
  6. Elektroensefalografi
  7. Stimulasi kalorik

G. Penatalaksanaan Penyakit Meniere

Pasien harus dirawat di rumah sakit, berbaring dalam posisi yang meringankan keluhan

  1. Diet :
    Banyak pasien dapat mengontrol gejala dengan mematuhi diet rendah garam (2000 mg/hari). Jumlah natrium merupaka salah satu faktor yang mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Retensi natrium dan ciran dapat memutuskan keseimbangan halus antara endolimfe dan perilimfe di dalam telinga dalam.
    Garam Natrium terdapat secara alamiah dalam bahan makanan atau ditambahkan kemudian pada waktu memasak atau mengolah. Makanan berasal dari hewan biasanya lebih banyak mengandung garam Natrium daripada makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan.
    Garam Natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya berupa ikatan : natrium Chlorida atau garam dapur, Mono Sadium Glumat atau vetsin, Natrium Bikarbonat atau soda kue, Natrium Benzoat atau senyawa yang digunakan untuk mengawetkan daging seperti cornet beef.
    Makanan yang diperbolehkan adalah :
    1. Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam natrium, yang berasal dari tumbuh-tumbuh, seperti :
      1. Beras, kentang, ubi, mie tawar, maezena, hunkwee, terigu, gula pasir.
      2. Kacang-kacangan dan hasil oleh kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom.
      3. Minyak goreng, margarin tanpa garam
      4. Sayuran dan buah-buahan
      5. Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, kencur, laos, lombok, salam, sereh, cuka.
    2. Bahan makanan berasal dari hewan dalam jumlah terbatas
    3. Minuman seperti the, sirup, sari buah.

    Makanan yang perlu dibatasi :

    1. Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam Natrium, yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti :
      1. Roti biskuit, kraker, cake dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur dan atau soda.
      2. Dendeng, abon, corned beef, daging asap, bacon, ham, ikan asin, ikan pindang, sarden, ebi, udang kering, telur asing, telur pindang.
      3. Keju, Keju kacang tanah (pindakas).
      4. Margarin, mentega.
      5. Acar, asinan sayuran dalam kaleng.
      6. Asinan buah, manisan buah, buah dalam kaleng.
      7. Garam dapur, vetsin, soda kue, kecap, maggi, terasi, petis, taoco, tomato ketcup.
    2. Otak, ginjal, paru-paru, jantung dan udang mengandung lebih banyak natrium. Sebaiknya bahan makanan ini dihindarkan.
    3. Kafein dan nikotin merupakan stimulan vasoaktif, dan menghindari kedua zat tersebut dapat mengurangi gejala. Ada kepercayaan bahwa serangan vertigo dipicu oleh reaksi alergi terhadap ragi dalam alkohol dan bukan karena alkoholnya.
  2. Farmakologis :
    Tindakan pengobatan untuk vertigo terdiri atas antihistamin, seperti meklizin (antivert), yang menekan sistem vestibuler. Tranquilizer seperti diazepam (valium) dapat digunakan pada kasus akut untuk membantu mengontrol vertigo, namun karena sifat adiktifnya tidak digunakan sebagai pengobatan jangka panjang.
    Antiemetik seperti supositoria prometazin (phenergan) tidak hanya mengurangi mual dan muntah tapi juga vertigo karena efek antihistaminnya. Diuretik seperti Dyazide atau hidroklortiazid kadang dapat membantu mengurangi gejala penyakit Meniere dengan menurunkan tekanan dalam sistem endolimfe.
    Pasien harus diingatkan untuk makan-makanan yang mengandung kalium, seperti pisang, tomat, dan jeruk ketika menggunakan diuretik yang menyebabkan kehilangan kalium.
  3. Penatalaksanaan Bedah :
    Dekompresi sakus endolimfatikus atau pintasan secara teoritis akan menyeimbangkan tekanan dalam ruangan endolimfe. Pirau atau drain dipasang di dalam sakus endolimfatikus melalui insisi postaurikuler.
    Obat ortotoksik, seperti streptomisisn atau gentamisisn, dapat diberikan kepada pasien dengan injeksi sistemik atau infus ke telinga tengah dan dalam.
    Prosedur labirinektomi dengan pendekatan transkanal dan transmastoid juga berhasil sekitar 85% dalam menghilangkan vertigo, namun fungsi auditorius telinga dalam juga hancur.
    Pemotongan nervus nervus vestibularis memberikan jaminan tertinggi sekitar 98% dalam menghilngkan serangan vertigo. Dapat dilakukan translabirin (melali mekanisme pendengaran) atau dengan cara yang dapat mempertahankan pendengaran (suboksipital atau fosa kranialis medial), bergantung pada derajat hilangnya pendengaran. Pemotongan saraf sebenarnya mencegah otak menerima masukan dari kanalis semisirkularis

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT MENIERE.

1. Pengkajian

Fokus dari pengkajian keperawatan untuk pasien dengan penyakit meniere adalah diarahkan kepada pengamatan terhadap makan makanan yang tinggi kandungan vasoaktifnya, riwayat trauma, riwayat hipertensi, riwayat alergi, faktor stres, emosional sakit kepala yang hebat.

2. Diagnosa Keperawatan

  1. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahan mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo.
  2. Ansietas berhubungan dengan ancaman,atau perubahan status kesehatan dan efek ketidakmampuan vertigo.
  3. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan kesulitan keseimbangan.
  4. Kurang perawatan diri (makan, mandi/higiene, berpakaian/berdandan, toileting) berhubungan dengan disfungsi labirin dan vertigo.

3. Intervensi Keperawatan

  1. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahn mobilitas karena gangguan cara jalan dan vertigo.
    1. Tujuan : Tetap bebas dari cedera yang berkaitan dengan ketidakseimbangan dan/jatuh
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji vertigo yang meliputi riwayat, amitan, gambaran serangan, durasi, frekuensi, dan adanya gejala telinga yang terkait kehilangan pendengaran, tinitus, rasa penuh di telinga.
        Rasional : Riwayat memberikan dasar untuk intervensi selanjutnya.
      2. Kaji luasnya ketidakmampuan dalam hubungannya dengan aktivitas hidup sehari-hari.
        Rasional : Luasnya ketidakmampuan menurunkan resiko jatuh.
      3. Ajarkan atau tekankan terapi vestibular/keseimbangan sesuai ketentuan
        Rasional : Latihan mempercepat kompensasi labirin yang dapat mengurangi vertigo dan gangguan cara jalan.
      4. Berikan atau ajari cara pemberian obat anti vertigo aaaaaadan atau obat peneang vestibular serta beri petunjuk pada pasien mengenai efek sampingnya.
        Rasional : Menghilangkan gejala akut vertigo.
      5. Dorong pasien untuk berbaring bila merasa pusing,dengan pagar tempat tidur dinaikkan.
        Rasional : Mengurangi kemungkinan jatuh dan cedera.
      6. Letakkan bantal pada kedua sisi kepal untuk membatasi gerakkan
        Rasional : Gerakkan akan memperberat vertigo.
  2. Ansietas berhubungan dengan ancaman,atau perubahan status kesehatan dan efek ketidakmampuan vertigo.
    1. Tujuan : Mengurangi atau tidak mengalami ansietas.
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji tingkat ansietas. Bantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.
        Rasional : Memandukan intervensi terapeutik dan partisipatif dalam perawatan diri, keterampilan koping pada masa lalu dapat mengurangi ansietas.
      2. Beri informasi mengenai vertigo dan penanganannya.
        Rasional : Meningkatkan pengetahuan membantu mengurangi ansietas
      3. Dorong pasien mendiskusikan ansietas dan gali keprihatinan mengenai serangan vertigo.
        Rasional : Meningkatkan kesadaran dan pemahaman hubungan antara tingkat antietas dan perilaku.
      4. Ajarkan pasien teknik penatalaksanaan stress atau lakukan rujukan bila perluh.
        Rasional : Memperbaiki manajemen stress, mengurangi frekwensi dan beratnya serangan fertigo.
      5. Beri upaya kenyamanan dan hindari aktivitas yang menyebebkan stress
        Rasional : situasi penuh stress dapat memperberat gejala kondisi ini
      6. Instruksikan pasien dalam aspek program pengobatan
        Rasional : pengetahuan pasien membantu mengurangi ansietas.
  3. Resiko terhadap trauma berhubungan dengan kesulitan keseimbangan.
    1. Tujuan : Mengurangi resiko trauma dengan mengadaptasi lingkungan rimah dan dengan menggunakan alat rehabilitatif bila perlu.
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Lakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dan /atau fertigo dengan menarik riwayat dan dengan pemeriksaan adanya nistagmus, romberg positif, dan ketidak mampuan melakukan romberg tandem.
        Rasional : Kelainan vestibuler perifer menyebabkan gejala dan tanda ini.
      2. Bantu ambulasi bila ada indikasi
        Rasional : Cara jalan yang abnormal yang dapat membuat pasien tidak bisa tegak dan jatuh
      3. Lakukan pengkajian ketajaman penglihatan dan defisit proprioseptif
        Rasional : keseimbangan tergantung pada sistem visual, vestibuler dan propriosep
      4. Dorong peningkatan tingkat aktivitas dengan atau tanpa menggunakan alat bantu
        Rasional : peningkatan aktivitas dapat membantu mencapai kembali sistem keseimbangan.
      5. Bantu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah
        Rasional : Adaptasi terhadap lingkungan rumah dapat menurunkan resiko jatuh selama proses rehabilitasi.
  4. Kurang perawatan diri, makan, mandi atau higienic, berpakaian atau berdandan, toileting berhubungan dengan disfungsi labirin dan fertigo.
    1. Tujuan : bergabung dalam aktivitas pengalih
    2. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji tingkat dan jenis aktivitas pengalih untuk merencanakan aktivitas yang sesuai.
        Rasional : Kebosanan dapat terlihat, begitu juga depresi, membantu menentukan toleransi maupun kesukaan.
      2. Diskusikan pola aktivitas pengalih yang biasa dengan pasien. Berikan kesempatan untuk melanjutkan aktivitas pengalih yang sangat berarti.
        Rasional : Untuk menyediakan informasi mengenai stresor yang nyata maupun yang dirasakan yang mempengaruhi tingkat aktivitas, mendukung rasa harga diri dan produktifitas pasien.

4. Tindakan / Implementasi

  1. Resiko tinggi cedera
    1. Mengkaji vertigo yang meliputi riwayat, awitan, gambaran seragam, durasi, frekwensi adanya gejala telinga yang terkait ( kehilangan pendengaran, tinitus, rasa penuh ditelinga ).
    2. Mengkaji luasnya ketidak mampuandalam hubungannya dengan aktivitas hidup sehari-hari
    3. Mengajarkan atau menekankan terapi vestibuler/keseimbangan yang sesuai dengan ketentuan.
    4. Memberikan atau mengajari cara pemberian obat anti vertigo dan atau obat penenangvestibuler serta memberi petunjuk pada pasien mengenai efek sampingnya.
    5. Mendorong pasien untuk berbaring bila merasa pusing, dengan pagar tempat tidur dinaikan.
    6. Meletakan bantal pada kedua sisi kepala untuk membatasi gerakan.
  2. Ansietas
    1. Mengkaji tingkat ansietas. Membantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.
    2. Memberikan informasi mengenai vertigo dan penanganannya
    3. Mendorong pasien mendiskusikan ansietas dan menggali keprihatinan mengenai serangan vertigo
    4. Mengajarkan pasien teknik penatalaksanaanstress atau melakukan rujukan bila perlu.
    5. Memberikan upaya kenyamanan dan mungkin dari aktivitas yang menyebabkan stres.
    6. Instruksikan pasien dalam aspek program pengobatan.
  3. Resiko terhadap trauma
    1. Melakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dan atau vertigo dengan menarik riwayat dan dengan pemeriksaan adanya nistagmus, romberg positif, dan ketidakmampuan melakukan romberg tandem.
    2. Membantu ambulasi bila ada indikasi
    3. Melakukan pengkajian ketajaman penglihatan devisit proprioseptif
    4. Mendorong peningkatan aktivitas dengan atau tanpa menggunakan alat bantu.
    5. Membantu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah
  4. Kurang perawatan diri, makan, mandi/higiene, berpakaian/berdandan, toileting
    1. Mengkaji tingkat dan jenis aktivitas pengalih untuk merencanakan aktivitas yang sesuai
    2. Mendiskusikan pola aktivitas pengalih yang biasa dengan pasien. Memberikan kesempatan untuk melanjutkan aktivitas pengalih yang sangat berarti

5. Evaluasi

Hasil yang diharapkan :

  1. Memperlihatkan adanya pengurangan resiko cedera :
    1. Klien mengerti dan mampu mengikuti terapi vestibular
    2. Klien tahu dan mengerti cara meminum obat yang benar dan efek samping obat
    3. Dan mempertahankan tirah baring bila merasa pusing.
  2. Memperlihatkan penurunan ansietas atau tidak mengalami ansietas :
    1. Melaporkan atau mendiskusikan ansietas
    2. Mengikuti teknik penatalaksanan stress
    3. Memperlihatkan kenyamanan
    4. Menghindari aktivitas yang menyebabkan stress
  3. Memperlihatkan adanya pengurangan resiko terhadap trauma :
    1. Memperlihatkan peningkatan aktivitas tanpa menggunakan alat bantu
    2. Mampu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah
  4. Memperlihatkan perubahan atau peningkatan personal hygiene :
    1. Melakukan aktivitas yang sesuai dengan jenis aktivitas pengalih
    2. Melaporkan pola aktivitas pengalih
    3. Mampu melanjutkan aktivitas pengalih.

Askep Asuhan Keperawatan Kanker Tiroid

kapukonline.com Up date Askep / Asuhan Keperawatan Kanker Tiroid - ASKEP DALAM

A. DEFINISI KANKER TIROID

Kanker Tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe yaitu: papiler, folikuler, anaplastik dan meduler. Kanker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan.

Kanker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.

Organ Tiroid

B. ETIOLOGI KANKER TIROID

Etiologi dari penyakit ini belum pasti, yang berperan khususnya untuk terjadi well differentiated (papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis, dan untuk jenis meduler adalah factor genetic. Belum diketahui suatu karsinoma yang berperan untuk kanker anaplastik dan meduler. Diperkirakan kanker jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker tiroid berdiferensia baik (papiler dan folikuler), dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali lebih besar.

Radiasi merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Banyak kasus kanker pada anak-anak sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. Biasanya efek radiasi timbul setelah 5-25 tahun, tetapi rata-rata 9-10 tahun. Stimulasi TSH yang lama juga merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun.

C. PATOFISIOLOGI KANKER TIROID

Neoplasma tiroid sering timbul sebagai pembesaran tiroid yang diskret. Kadang-kadang mirip goiter noduler jinak. Nodule-nodule tiroid dapat diraba, kebanyakan nodule tersebut jinak, namun beberapa nodule goiter bersifat karsinoma.

Untuk menentukan apakah nodule tiroid ganas atau tidak, harus dinilai factor-faktor resiko dan gambaran klinis massa tersebut, dan harus dilakukan beberapa pemeriksaan laboratorium.

Karsinoma tiroid biasanya kurang menangkap yodium radioaktif dibandingkan kelenjar tiroid normal yang terdapat disekelilingnya. Dengan cara scintiscan. nodule akan tampak sebagai suatu daerah dengan pengambilan yodium radioaktif yang berkurang, Tehnik yang lain adalah dengan echografi tiroid untuk membedakan dengan cermat massa padat dan massa kistik.

Karsinoma tiroid biasanya padat, sedangkan massa kistik biasanya merupakan kista jinak. Karsinoma tiroid harus dicurigai berdasarkan tanda klinis jika hanya ada satu nodul yang teraba, keras, tidak dapat digerakkan pada dasarnya dan berhubungan dengan limfadenopati satelit.

Kanker Tiroid secara klinis dapat dibedakan menjadi suatu kelompok besar neoplasma berdiferensiasi baik dengan kecepatan pertumbuhan yang lambat dan kemungkinan penyembuhan yang tinggi, dan suatu kelompok kecil tumor anaplastik dengan kemungkinan fatal.

  1. Karsinoma papilaris

    Jenis yang paling banyak ditemukan, Neoplasma tumbuh lambat dan menyebar melalui saluran getah bening ke kelenjar getah bening regional.

  2. Karsinoma folikuler

    Tumor sangat mirip tiroid normal, meskipun pada suatu saat dapat berkembang secara progresif, cepat menyebar ketempat-tempat yang jauh letaknya. Tumor ini tidak hanya secara histologis menyerupai folikel tiroid, tetapi juga mampu menangkap yodium radioaktif. Cara metastasis melalui aliran darah ketempat jauh letaknya seperti paru-paru dan tulang.

  3. Karsinoma meduler

    Sel asal neoplasma ini adalah sel C atau sel parafolikuler. Seperti sel prekursornya, maka tumor ini sanggup mensekresi kalsitonin. Meskipun tampaknya tumor ini tumbuh lambat, tumor cenderung mengalami metastasis ke kelenjar getah bening local pada stadium dini. Kemudian tumor ini akan menyebar melalui aliran darah ke paru-paru, hati, tulang dan organ-organ tubuh lainnya dan ada kecenderungan bermetastasis pada stadium dini. Perkembangan dan perjalanan klinisnya dapat diikuti dengan mengukur kadar kalsitonin serum

  4. Karsinoma anaplastik

    Jenis tumor ini sangat ganas dan penyebarannya sangat cepat serta berdiferensiasi buruk. Karsinoma ini memperlihatkan bukti invasi lokal pada stadium dini ke struktur-struktur disekitar tiroid, serta metastasis melalui saluran getah bening dan aliran darah.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG KANKER TIROID

  1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM.

    Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada yang khusus, kecuali kanker meduler, yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi baik. Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid, namun peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonin dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.

  2. RADIOLOGIS
    1. Foto X-Ray

      Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Pada karsinoma papiler dengan badan-badan psamoma dapat terlihat kalsifikasi halus yang disertai stippledcalcification, sedangkan pada karsinoma meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor. Kadang-kadang kalsifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar getah bening. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunnakan untuk survey metastasis pada pary dan tulang. Apabila ada keluhan disfagia, maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya infiltrasi tumor pada esophagus.

    2. Ultrasound

      Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara ini aman dan tepat, namun cara ini cenderung terdesak oleh adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu tehnik yang lebih sederhna dan murah.

    3. Computerized Tomografi

      CT-Scan dipergunakan untuk melihat prluasan tumor, namun tidak dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor tiroid.

    4. Scintisgrafi

      Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule. Daerah cold nodule dicurigai tumor ganas. Teknik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi biopsy aspirasi untuk memperoleh specimen yang adekuat.

  3. BIOPSI ASPIRASI

    Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan peralatan sangat sederhana , biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum no.22 – 23 serta alat pemegang, sediaan aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan sitologi. Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi karsinoma papiler, karsinoma folikuler, karsinoma anaplastik dan karsinoma meduler.

E. ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN PERAWATAN KANKER TIROID:

  1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
  2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
    1. Pola makan
    2. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
    3. Pola aktivitas.
  3. Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita
  4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;
    1. Sistem pulmonari
    2. Sistem pencernaan
    3. Sistem kardiovaskuler
    4. Sistem muskuloskeletal
    5. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis
    6. Sistem reproduksi
    7. Metabolik
  5. Pemeriksaan fisik mencakup
    1. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar leher, adanya nodule yang membesar disekitar leher
    2. Perbesaran jantung, disritmia dan hipotensi, nadi turun, kelemahan fisik
    3. Parastesia dan reflek tendon menurun
    4. Suara parau dan kadang sampai tak dapat mengeluarkan suara
    5. Bila nodule besar dapat menyebabkan sesak nafas
  6. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen konsep diri
  7. Pengkajian yang lain menyangkut terjadinya Hipotiroidime atau Hipertiroidisme

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN pada KANKER TIROID

  1. Nyeri
    1. Dapat Dihubungkan dengan :
      1. Adanya desakan / pembengkakan oleh nodule tumor
    2. Kemungkinan dibuktikan dengan :
      1. Adanya keluhan nyeri daerah leher, bisa menyebar ke daerah orbital.
      2. Skala nyeri 0 – 10
      3. Tampak menahan nyeri
      4. Adanya nyeri telan dan kesulitan menelan
    3. Hasil yang diharapkan :
      1. Melaporkan nyeri hilang / berkurang
      2. Skala nyeri 0-2
      3. Tampak relax
      4. Tak ada keluhan menelan
    4. Intervensi Keperawatan :
      1. Observasi adanya tanda-tanda nyeri baik verbal maupun nonverbal
      2. Ajarkan dan anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi
      3. Kolaborasi pemberian analgetik
  2. Bersihan jalan nafas tak efektif
    1. Dapat Dihubungkan dengan :
      1. Obstruksi trachea akibat desakan massa tumor
      2. Spasme Laringeal
      3. Penumpukan sekret
    2. Kemungkinan dibuktikan dengan :
      1. Kesulitan bernafas
      2. Kesulitan mengeluarkan secret
      3. Mengeluh sesak nafas
      4. Respirasi diatas normal
    3. Hasil yang diharapkan :
      1. Tidak ada kesulitan pernafasan
      2. Secret mudah keluar
      3. Tidak mengeluh sesak nafas
      4. Respirasi dalam batas normal (16-20)
    4. Intervensi Keperawatan :
      1. Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan
      2. Auskultasi suara nafas, catat adanya ronchi
      3. Kaji adanya dyspneu, stridor dan cianosis
      4. Perhatikan kualitas pernafasan
      5. Latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi
      6. Selidiki adanya penumpukan secret dan lakukan penghisapan dengan hati-hati sesuai indikasi
      7. Kolaborasi pemberian therapi Ogsigen bila perlu
  3. Kerusakan Komunikasi Verbal
    1. Dapat Dihubungkan dengan :
      1. Cedera Pita suara
      2. Kerusakan saraf laryngeal
      3. Edema jaringan
    2. Kemungkinan dibuktikan dengan :
      1. Bicara parau / tidak dapat berbicara
      2. Kerusakan artikulasi
    3. Hasil yang diharapkan :
      1. Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami
    4. Intervensi Keperawatan :
      1. Kaji fungsi bicara secara periodic
      2. Pertahankan komunikasi sederhana
      3. Memberikan metode komunikasi alternative yang sesuai
      4. Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin

Untuk Diagnosa yang lain seperti pada kasus Hipotiroidisme atau Hipertiroidisme

3. PENATALAKSANAAN MEDIS KANKER TIROID:

Penatalaksanaan medis dengan cara :

  1. Therapi Radiasi (Chemotherapi)
  2. Operasi: Pengangkatan Kelenjar tiroid baik sebagian (Tiroidectomi Partial), maupun seluruhnya (Tiroidectomi Total)

Peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-Operatif, Intra Operatif dan Post Operasi

  1. Penatalaksanaan Pre Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut:
    1. Inform Concern (Surat persetujuan operasi) yang telah ditandatangani oleh penderita atau penanggung jawab penderita
    2. Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system respiratori dan cardiovasculer
    3. Hasil pemeriksaan / data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika ada
    4. Persiapan mental dengan suport mental dan pendidikan kesehatan tentang jalannya operasi oleh perawat dan support mental oleh rohaniawan
    5. Konsul Anestesi untuk kesiapan pembiusan
    6. Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan tindakan pembedahan terutama jika dilakukan tiroidectomi total berhubungan dengan minum suplemen hormone tiroid seumur hidup.
  2. Penatalaksanaan Intra Operasi

    Peran perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi karena tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh Dokter Operator dan Dokter Anesthesi.

  3. Penatalaksanaan Post Operasi (di ruang sadar)
    1. Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga tetap stabil
    2. Observasi adanya perdarahan serta komplikasi post operasi
    3. Dekatkan peralatan Emergency Kit atau paling tidak mudah dijangkau apabila sewaktu-waktu dibutuhkan atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
    4. Sesegera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai dilakukan setelah penderita sadar dari pembiusan untuk lebih menenangkan penderita
    5. Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang perawatan umum

KESIMPULAN

Kanker tiroid merupakan salah satu gangguan endokrin. Gangguan ini lebih banyak terjadi pada wanita dengan distribusi berkisar antara 2:1 sampai 3:1. Insidensinya berkisar antara 5,4 – 30 %.

Berdasarkan usia, kanker tiroid jenis papiler biasanya terjadi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun. Yang berperan dalam well differentiated carcinoma (papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis , dan untuk jenis meduler adalah faktor genetik.

Kanker tiroid jenis meduler dapat diketahui dengan tes laboratorium, yaitu pemeriksaan kalsitonin dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tirotoksitosis walaupun jarang.

Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Ultrasonografi diperlukan untuk membedakan tumor solid dan kistik, dan cara ini aman serta tepat.

CT-Scan dipergunakan untuk melihat perluasan tumor, namun tidak dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas dan jinak. Dengan menggunakan radioisotropik dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule.

Pada dekade terakhir ini biopsi aspirasi banyak dipergunakan sebagi prosedur diaknostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid.

PENUTUP

Penderita kanker tiroid tidak mempunyai keluhan khusus terutama pada keadaan tumor berdiferensia baik. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap struma yang kemudian dalam waktu singkat membesar, boleh dicurigai adanya malignasi. Pada kasus demikian, palpasi tiroid merupakan hal yang penting untuk melihat adanya nodul kecil.

Asuhan yang baik dapat diberikan, dimulai dengan pengkajian fisik, menentukan diaknosa yang cepat dan tepat. Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan dan intervensi yang mestinya diberikan. Terakhir adalah mengevaluasi apakah kondisi klien baik dan apakah tindakan telah berhasil.

DAFTAR PUSTAKA:

  1. Doenges Marlyn E, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C, 1999, "Pedoman Asuhan Keperawatan", Edisi ke-3. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  2. Long Barbara C, 1996, "Medical Bedah 2" Yayasan IAPK, Pajajaran, Bandung
  3. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M, 1995 "Patifosiologi", Edisi ke-4 Buku ke II, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rujukan Nilai Normal Hasil Laboratorium

Berikut ini adalah Rujukan Nilai Normal Hasil Laboratorium.

Sel Darah Merah

Referensi : Unit Laboratorium RS PKU Muhammadiyah Surakarta

HASIL LABORATORIUM LENGKAP

No

PEMERIKSAAN

ANGKA NORMAL

SATUAN

HEMATOLOGI

1

HEMOGLOBIN

Lk: 13,0 – 18,0  Pr: 11,5 – 16,5

gr/dl

2

LEKOSIT

4.000 – 11.000

/mm3

3

ERYTROSIT

Lk: 4,5 – 5,5  Pr: 4,0 – 5,0

/mm3

4

HEMATOKRIT

Lk: 40 – 50  Pr: 37 - 43

%

5

TROMBOSIT

150.000 – 400.000

/mm3

6

LED 1 Jam

Lk: 0 – 10  Pr: 0 - 15

mm/jam

7

WAKTU PERDARAHAN

1 - 5

menit

8

WAKTU PEMBEKUAN

2 - 6

menit

HEMOGRAM

1

EOSINOFIL

1 - 3

%

2

BASOFIL

0 - 1

%

3

STAF

2 - 5

%

4

SEGMEN

50 - 70

%

5

LYMPHOSIT

20 - 40

%

6

MONOSIT

2 - 6

%

7

RETIKULOSIT

0,1 – 1,5

%

KIMIA DARAH

1

SGOT

Lk: < 35  Pr: < 31

U/L

2

SGPT

Lk: < 41  Pr: < 31

U/L

3

BILLIRUBIN TOTAL

0 - 1

mg/dl

4

BILLIRUBIN DIREK

0 – 0,25

Mg/dl

5

BILLIRUBIN INDIREK

0 – 0,75

Mg/dl

6

PROTEIN TOTAL

6,2 – 8,4

gr/dl

7

ALBUMIN

3,5 – 5,5

gr/dl

8

GLOBULIN

1,3 – 3,3

gr/dl

9

UREUM

10 - 50

Mg/dl

10

KREATININ

Lk: 0,9 – 1,3  Pr: 0,6 – 1,1

Mg/dl

11

ASAM URAT

Lk: 3,6 – 8,2  Pr: 2,3 – 6,1

Mg/dl

12

TRIGLISERID

< 200

Mg/dl

13

CHOLESTEROL

= 200

Mg/dl

14

HDL

Lk: 35 – 55  Pr: 45 - 65

U/L

15

LDL

< 150

Mg/dl

16

GULA DARAH PUASA

55 - 110

Mg/dl

17

GULA DARAH 2 JAM PP

55 - 115

Mg/dl

18

GULA DARAH SEWAKTU

70 - 115

Mg/dl

19

CHOLESTEROL HDL

= 35

Mg/dl

20

CHOLESTEROL LDL

= 130

Mg/dl

21

CKMB

< 24

U/L

22

ALFA HBDH

< 182

U/L

HASIL LABORATORIUM LENGKAP URINE

ANALISA URINE

URINALISA

1

WARNA

KUNING

2

KEKERUHAN

JERNIH

3

REDUKSI

NEGATIF

4

BILLIRUBIN

NEGATIF

  5

KETON

NEGATIF

  6

BERAT JENIS

7

PH

8

PROTEIN

NEGATIF

9

UROBILLINOGEN

E.U/dl

10

NITRIT

NEGATIF

SEDIMEN

1

LEKOSIT

NEGATIF

Plpb

2

ERYTROSIT

NEGATIF

Plpb

3

EPYTEL SQUAMOS

NEGATIF

Plpb

SILINDER

1

SILINDER BUTIR HALUS

NEGATIF

Plpb

2

SILINDER HYALIN

NEGATIF

Plpb

KRISTAL

1

TRIPEL PHOSPHAT

NEGATIF

Plpb

2

URIC ACID

NEGATIF

Plpb

3

CA OXALAT

NEGATIF

Plpb

4

AMORF FOSFAT

NEGATIF

Plpb

BAKTERI

NEGATIF

ANALISA FECES

1

KONSISTENSI

2

LENDIR

3

ERITROSIT

NEGATIF

4

LEKOSIT

NEGATIF

5

TELUR ASCARIS L

NEGATIF

6

TELOR CACING

NEGATIF

Nilai tersebut diatas referensi dari Unit Laboratorium RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dimana aku bekerja.

Mungkin hasil normal akan lain di instansi yang berlaianan tergantung dari alat pemeriksaan yang digunakan, akan tetapi tidak terpaut besar tentang pembacaan angka normalnya

Semoga posting Rujukan Nilai Normal Hasil Laboratorium yang sedikit ini ada manfaatnya